Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 76 MAAFKAN AKU AYAH


__ADS_3

"Maafkan aku, Ayah." Kanaya bersimpuh di kaki sang ayah. Wajahnya penuh air mata, sementara tubuhnya bergetar. Antara penyesalan dan ketakutan. Ia takut penyakit sang ayah kembali kambuh saat mendengar kabar tentang pernikahan rahasia dan juga bayinya.


"Kenapa kamu menyembunyikan masalah sebesar ini dari ayah? Apa kamu sudah tidak menganggap ayah sebagai ayahmu lagi?" Suara Danu sarat dengan amarah sekaligus kesedihan.


Bagaimana mungkin dia sampai tidak mengetahui kalau putri kesayangannya menyimpan rahasia dan kesakitannya sendirian?


Ayah macam apa aku ini?


"Ayah ... maaf! Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyembunyikan semuanya dari ayah. Aku hanya takut terjadi apa-apa sama ayah." Kanaya menangis tersedu-sedu, begitupun Riyanti yang saat ini berada di samping sang suami.


Perempuan paruh baya itu mengusap punggung suaminya. Sama seperti Kanaya, Riyanti juga takut kalau penyakit jantung Danu kambuh lagi.


"Maafkan aku, ayah. Maaf!" Suara Kanaya kembali terdengar di tengah isak tangisnya.


"Kenapa kamu rela menukar kebahagiaan kamu dengan ayah, Nak? Kenapa kamu tidak membiarkan saja ayah pergi saat itu?"


"Ayah!" Kanaya dan Riyanti berseru bersamaan. Kedua perempuan beda generasi yang sama-sama sangat menyayangi Danu itu semakin menangis.


Danu ikut menangis, menatap satu persatu perempuan yang sangat disayanginya itu. Tangannya meraih tubuh Kanaya, kemudian memeluknya dengan erat.


"Maafkan ayah, Nak. Gara-gara ayah, kamu hidup menderita." Danu mengusap wajah putrinya dengan penuh penyesalan. Tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan putrinya selama ini.


Menjadi istri kedua, mengandung, kemudian harus memberikan anak yang dikandungnya pada orang lain. Sungguh tragis nasib Kanaya.

__ADS_1


"Maafkan ayah karena ayah tidak bisa membahagiakan kalian semua."


"Ayah ... kami sangat bahagia bersama ayah. Apa pun keadaannya, ayah adalah ayah terbaik buat kami." Suara Juna dan Kayla terdengar. Entah sejak dari kapan dua kakak beradik itu mendengar pembicaraan kedua orang tuanya dan juga kakak tercinta mereka.


Kedua kakak beradik itu merasa heran karena kakak mereka datang sendirian tanpa ditemani oleh suami atau pun sopir seperti biasanya. Bahkan, yang lebih herannya lagi, kakaknya pulang tanpa membawa bayi yang baru dilahirkannya.


Merasa penasaran, mereka berdua akhirnya menguping, mencuri dengar pembicaraan kedua orang tuanya dan sang kakak.


Juna dan Kayla sungguh terkejut mendengar kenyataan yang mereka dengar. Hari ini, mereka baru saja mendengar sendiri bagaimana pengorbanan sang kakak untuk mereka semua.


Mereka berlima saling berpelukan. Seolah sedang menguatkan satu sama lain.


Mereka berlima kemudian duduk dalam hening. Kanaya masih terisak. Perempuan itu tiba-tiba teringat putranya yang ia tinggalkan di rumah besar Sean. Sudut hatinya terasa sakit saat mengingat kalau dirinya saat ini tidak berhak lagi atas anaknya.


"Naya." Riyanti memeluk putrinya sambil meneteskan air mata.


"Aku ingin pergi jauh dari Sean dan Sandra, Bu. Untuk sementara waktu, aku tidak ingin bertemu dengan mereka dulu." Kanaya menatap Riyanti dan Danu bergantian, begitupun dengan kedua adiknya.


Danu masih terdiam. Pria paruh baya itu masih sangat terkejut mendengar berita yang menimpa Kanaya. Danu bahkan merasa dadanya terasa nyeri, hanya saja, sedari tadi ia berusaha mengontrol dirinya.


"Bagaimana kalau Kak Naya tinggal di rumah milik kakek?" Tiba-tiba Juna membuka suara setelah mereka saling terdiam.


"Rumah kakek?" Danu dan yang lainnya terlihat terkejut.

__ADS_1


"Jangan bilang, kalau ayah juga lupa kalau kita masih punya rumah milik kakek di daerah Bogor?"


"Astaghfirullah! Ayah hampir lupa. Tapi, Jun, rumah itu, 'kan–"


"Tenang saja ayah, ibu sudah menebus rumah itu dari Om Burhan. Iya, 'kan, Bu?" Juna menatap Riyanti dengan raut wajah senang.


"Iya. Ibu sudah membayar hutang kita sama Om Burhan menggunakan sisa uang yang diberikan Naya."


Semua orang menatap Riyanti dengan terkejut.


"Sisa uang operasi ayah, ibu berikan pada pamanmu untuk menebus rumah milik kakek. Biar bagaimanapun, ayah sangat tidak ingin kehilangan rumah yang penuh kenangan tentang keluarga ayah di sana."


"Riyanti ...." Danu tidak bisa berkata apa-apa selain memeluk istrinya. Perempuan baik yang selama ini selalu berada di sisinya baik susah maupun senang.


Danu sungguh sangat bersyukur karena mempunyai istri dan anak yang sangat menyayanginya.


"Kalau begitu, besok, pagi-pagi sekali aku berangkat ke sana. Aku tidak mau Sean menemukan aku di sini." Kanaya menatap keluarganya. Mereka semua mengangguk, membuat Kanaya terharu.


"Juna akan selalu menjadi garda terdepan untuk melindungi kakak. Sudah cukup selama ini Kakak menderita karena berjuang untuk kami. Sekarang, gantian aku yang akan melindungi Kakak." Juna berkata dengan serius.


Laki-laki yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu terlihat begitu bersungguh-sungguh.


"Terima kasih, Juna. Kakak tidak menyangka kalau adik kecil Kakak yang menyusahkan ini sekarang sudah tumbuh dewasa." Kanaya mencubit pipi Juna membuat pemuda sembilan belas tahun itu cemberut.

__ADS_1


Semua orang tertawa melihat wajah cemberut Juna. Kanaya bahkan sengaja kembali menggoda Juna membuat mereka semua tertawa.


Terima kasih, Tuhan, karena telah memberikan aku keluarga yang sangat menyayangiku.


__ADS_2