
Semua orang yang berada di depan ruangan bersalin itu mengucapkan syukur saat mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan tersebut.
Sandra menangis terharu, begitupun Bi Lasmi. Kedua perempuan berbeda status itu saling berpelukan. Suparman, sang sopir pribadi pun terlihat berkaca-kaca. Laki-laki itu seolah dipaksa kembali ke masa lalu saat dirinya dulu pernah berada di situasi yang sama saat Bi Lasmi melahirkan.
"Akhirnya, Kanaya melahirkan juga." Sandra berucap di tengah isak tangisnya. Sementara Bi Lasmi hanya mengangguk sambil mengusap air matanya.
****
Beberapa menit kemudian, bayi mungil yang baru lahir ke dunia itu sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, begitupun Kanaya yang sudah kembali terlihat rapi setelah Sean membantunya membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Wanita yang baru beberapa saat yang lalu melahirkan itu kini terbaring sambil menatap interaksi Sean dan bayinya.
Perasaan Kanaya berkecamuk. Entah apa yang sedang dirasakan oleh perempuan itu. Apakah ia harus bahagia karena telah melahirkan darah daging dari laki-laki yang sangat dicintainya?
Ataukah, ia harus bersedih karena sebentar lagi anak yang baru satu jam lalu dilahirkannya itu akan menjadi milik Sandra dan Sean?
Kanaya memejamkan mata tatkala membayangkan kalau sebentar lagi ia akan kehilangan semuanya. Bayi yang baru saja dilahirkannya sekaligus laki-laki yang saat ia melahirkan mengungkapkan perasaan cintanya. Laki-laki yang juga diam-diam sangat dicintainya.
"Aku mencintaimu, Naya. Aku sungguh sangat mencintaimu." Ucapan Sean sesaat, setelah bayi mungil itu terlahir ke dunia.
"Jangan mengatakan sesuatu yang akan membuatmu menyesal, Sean. Apa kamu lupa dengan ucapanmu sendiri?" Kanaya menatap laki-laki di depannya itu dengan tatapan tak terbaca.
__ADS_1
"Apa pun yang aku ucapkan di masa lalu, semua itu memang sebuah kebenaran. Tapi, apa yang aku ucapkan hari ini pun sebuah kebenaran. Aku benar-benar mencintai kamu, Naya."
"Kamu bilang, kamu mencintaiku? Lalu, perasaanmu pada Sandra bagaimana?" Kedua mata Kanaya yang terlihat lelah itu menatap Sean dengan lekat.
"A–aku mencintai kalian berdua." Kanaya tersenyum getir mendengar jawaban Sean.
"Kamu sangat serakah, Sean. Bagaimana mungkin kamu mencintai aku dan Sandra secara bersamaan?"
"Aku sendiri tidak tahu. Tapi itulah kenyataannya. Aku mencintai Sandra dan juga mencintaimu secara bersamaan. Rasa cintaku padamu di masa lalu kembali bersemi. Aku–"
"Maaf, Pak. Biarkan istri Bapak beristirahat dulu." Suara dokter menyela pembicaraan Sean dan Kanaya.
Meskipun suara Sean dan Kanaya terdengar berbisik tetapi, sang dokter dan dua orang perawat yang membantu proses persalinan itu mendengar dengan jelas pembicaraan mereka. Dokter yang menangani proses persalinan Kanaya bahkan sampai menggelengkan kepala mendengar ucapan Sean.
"Maafkan aku, ayah, ibu," batin Kanaya sambil menekan rasa sakit di hatinya.
Berbanding terbalik dengan Kanaya,
Sean tidak menghentikan senyum di wajahnya. Pria itu tampak sangat bahagia sambil terus menatap bayi laki-laki yang bergelar sebagai putranya itu. Bayi tampan itu tertidur pulas di dalam boks yang terletak di dekat tempat tidur Kanaya.
Laki-laki itu sungguh tak percaya kalau saat ini dirinya telah menjadi seorang ayah. Status yang sedari dulu sangat diinginkannya. Namun, karena Sandra menolak untuk melakukan program hamil dengan alasan belum siap mempunyai anak, Sean akhirnya mengalah dan mengubur semua keinginannya.
__ADS_1
Menurut Sean, Sandra masih muda. Oleh karena itu, wajar saja jika wanita itu belum siap mempunyai anak. Akan tetapi, setelah bertahun-tahun dan usianya semakin bertambah, Sandra masih bersikeras untuk tidak mempunyai anak terlebih dahulu. Wanita itu justru lebih mementingkan karirnya sendiri daripada mempunyai seorang anak.
Sean sungguh sangat menyayangkan keputusan Sandra, tetapi, rasa cintanya terhadap wanita itu membuat Sean terpaksa mengikuti semua keinginan sang istri dan selalu mengalah demi kebahagiaannya. Bagi Sean, kebahagiaan Sandra adalah kebahagiaannya juga.
"Sean." Sandra mendekati pria yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut . Kedua matanya pun memancarkan kebahagiaan, sama seperti Sean.
"Aku sungguh bahagia karena anak kita akhirnya terlahir ke dunia," ucap Sandra dengan senyum mengembang di wajahnya. Model cantik itu sungguh sangat terharu sekaligus bahagia karena kanaya telah melahirkan dengan selamat.
"Anak kita?" Sean menatap Sandra yang masih tersenyum sambil menatap bayi mungil yang tertidur pulas itu.
"Iya, anak kita. Anak kamu bersama Kanaya yang sebentar lagi akan menjadi anak kita." Sandra menatap Sean dengan binar bahagia.
"Aku sungguh sangat bahagia karena dia lahir dengan selamat. Dia juga bayi yang sangat tampan." Sandra mengusap pipi bayi mungil itu. Rasanya ia ingin menggendongnya tetapi, Sandra bum berani.
Sandra tidak pernah berurusan dengan anak kecil. Dia sama sekali buta dalam hal mengurus anak kecil. Apalagi, seorang bayi yang baru lahir.
Pandangan mata Sandra beralih pada Kanaya.
"Terima kasih, Naya. Terima kasih karena sudah berjuang melahirkan anak kita." Kedua mata Sandra berlinang air mata. Merasakan kebahagiaan sekaligus rasa bersalahnya terhadap Kanaya.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1
Maafkan Author yang baru bisa update hari ini. Sebenarnya semalam tinggal publish, eh! Author ketiduran 😀