
Sandra menatap sahabatnya yang kini terlihat menangis. Entah apa yang Sandra rasakan saat ini. Melihat Kanaya menangis, rasa bersalah merasuk ke dalam hatinya.
Sandra sangat menyesal karena telah membuat Kanaya terjebak ke dalam pernikahannya. Pernikahan yang awalnya hanya akan berjalan setahun sesuai rencananya.
Namun, ternyata rencana hanyalah tinggal rencana. Semua rencananya gagal karena kebodohannya sendiri. Seandainya dia tidak nekad menuruti Maya untuk bekerja, pasti saat ini rahasianya masih tetap aman.
Seandainya saja Sandra mau sedikit bersabar menahan keinginannya untuk bekerja, ibu mertuanya tidak akan pernah tahu kalau anak itu adalah anak dari Kanaya.
Sandra mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sesuatu yang awalnya ia sembunyikan. Sesuatu yang awalnya membuat wanita itu sangat terkejut.
Namun, karena cintanya terhadap Sean, Sandra menutup mata pada hatinya yang sempat sangat terluka akibat mengetahui kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kanaya sungguh terkejut saat melihat sesuatu yang diberikan oleh Sandra. Sebuah foto antara dirinya dan Sean saat masih berseragam SMA.
"Sandra." Kanaya menggenggam foto itu dengan tangan bergetar.
"Sean adalah pria yang kamu tunggu dan menjadi alasan kenapa kamu tidak menikah bukan?" Sandra menatap ke arah Kanaya dengan kedua mata berembun.
"Sa–Sandra ...." Air mata Kanaya kembali luruh. Bibirnya kelu, tidak mampu menjawab pertanyaan Sandra.
"Aku menemukan foto itu dalam dompet Sean," ucap Sandra getir.
"Foto itu foto yang sama yang pernah aku lihat di rumah kamu sebelum kamu menikah dengan Sean. Namun, setelah kamu menikah, foto itu kamu sembunyikan dariku."
"Sandra–"
__ADS_1
"Gadis dalam foto itu, aku masih sangat ingat dengan jelas. Itu adalah kamu sebelum aku merubah penampilanmu menjadi cantik seperti sekarang." Sandra tidak memberikan kesempatan pada Kanaya untuk bicara.
Hatinya bergemuruh saat ingatannya kembali pada waktu dirinya menemukan foto itu di dalam dompet Sean. Hampir enam tahun menikah dengan Sean, kenapa dia baru menyadari kalau lelaki yang katanya sangat mencintainya itu ternyata menyimpan foto perempuan lain dalam dompetnya?
"Kenapa kamu tidak jujur padaku kalau Sean adalah orang yang sama? Kenapa, Nay?" Sandra menatap sahabatnya dengan air mata yang kini tumpah membasahi pipinya.
Dari awal dia mengetahui kalau ternyata suami dan sahabatnya itu adalah dua orang yang saling mengenal dan ternyata mempunyai masa lalu yang belum usai membuat Sandra menahan rasa sakit dalam waktu bersamaan.
Rasa sakit karena keputusannya menikahkan Sean dengan Kanaya, dan rasa sakit saat mengetahui kalau mereka ternyata adalah seseorang yang mempunyai hubungan spesial di masa lalu.
"Memangnya apa yang harus aku katakan padamu? Memberitahumu kalau Sean adalah pria yang selama ini ...." Kanaya menghentikan ucapannya saat rasa sesak memenuhi dadanya.
"Semuanya hanya masa lalu, Sandra. Lagipula, hanya aku saja yang terlalu percaya diri mengharapkan dia. Sean hanya menganggap aku sebagai teman, tidak lebih!"
"Naya, apa kamu bodoh? Mana ada teman yang menyimpan fotomu selama bertahun-tahun di dalam dompet?" Sandra menatap sahabatnya itu dengan tajam.
"Iya, kamu benar. Semua memang sudah tidak ada artinya lagi. Aku ingat, itu adalah kata-kata yang kamu ucapkan padaku saat aku menyuruhmu untuk move-on dari pria itu. Saat itu aku sangat kasihan padamu karena terlalu menunggu pria yang bahkan entah masih mengingat kamu apa tidak." Sandra berucap panjang lebar mengingat masa lalu sebelum dirinya mempunyai rencana menikahkan Kanaya dengan Sean.
Kanaya terdiam dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Perempuan itu sungguh sangat terkejut mendengar penuturan Sandra. Namun, memangnya apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Aku tidak bisa membayangkan saat pertama kali kamu bertemu dengan Sean. Aku yakin, kamu pasti sangat terkejut karena Sean ternyata adalah pria yang selama ini kamu tunggu."
Kanaya mendongak menatap sahabatnya.
__ADS_1
"Maafkan aku," lanjut Sandra.
"Maaf!" Sandra memeluk Kanaya setelah sahabatnya itu membaringkan baby Nathan ke tempat tidur.
"Maafkan aku karena selama ini aku membuatmu menderita karena keegoisanku. Maaf, Naya." Kedua perempuan yang bersahabat dari beberapa tahun yang lalu itu saling berpelukan sambil menangis.
Sandra mengungkapkan penyesalannya, sementara, Kanaya dengan perasaan tak menentu menebak-nebak semenjak kapan Sandra mengetahui tentang dirinya dan Sean.
Hatinya merasa tidak enak karena Sandra mengetahui kalau pria yang dulu pernah ia ceritakan pada sahabatnya itu ternyata adalah Sean, suami sahabatnya sendiri.
"Sejak kapan kamu mengetahui semuanya?" Ucapan itu akhirnya keluar dari mulut Kanaya.
"Tidak penting kapan aku mengetahuinya, yang jelas, saat ini aku ingin mengatakan padamu kalau aku akan melepaskan Sean untukmu."
"Sandra–"
"Aku ikhlas, Nay." Sandra menatap Kanaya yang tampak terkejut.
"Lagipula, saat ini aku sudah tidak pantas lagi berada di sisi Sean. Hari ini aku memutuskan untuk menggugat cerai Sean di pengadilan."
"Sandra." Kedua mata Kanaya membola. Merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Aku ikhlas melepaskan Sean untukmu. Setelah proses perceraianku dengannya selesai, menikahlah secara resmi dengan Sean."
Sandra ....
__ADS_1
BERSAMBUNG ....