Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 79 CERAIKAN KANAYA SECEPATNYA!


__ADS_3

Sean pergi ke rumah mertuanya setelah ia berpamitan dengan Sandra. Laki-laki itu meminta Sandra menjaga Nathan dengan baik. Tak lupa juga dia berpesan pada Sandra untuk mengabari Sean jika terjadi sesuatu pada putranya.


"Kamu tenang saja, Sean. Aku akan menjaganya dengan baik. Bukankah, anak ini adalah anakku juga?" Ucapan Sandra sebelum Sean pergi.


Setelah menahan lara karena ucapan Sean yang membuatnya sesak napas, Sandra menatap pria itu dengan lembut.


"Terima kasih, Sayang ...." Sean mendekati Sandra kemudian mengecup keningnya.


"Kamu cari dia sampai ketemu. Kamu memang benar, dia belum pulih. Kanaya harus banyak istirahat di rumah." Sandra menatap pria di depannya yang kini sedang mengangguk sambil tersenyum. Tampak raut khawatir di wajah tampannya.


"Sebegitu khawatirnya kah kamu pada Kanaya, Sean? Aku tahu, apa yang kamu katakan memang benar. Aku pun sangat khawatir pada Kanaya. Tapi, kenapa saat aku melihat wajah khawatirmu aku begitu cemburu?" Sandra berucap dalam hati.


Kedua netranya menatap Sean yang menghilang di balik pintu. Pandangannya beralih pada bayi laki-laki yang saat ini masih terlihat tertidur pulas. Sandra mengulas senyum, mengusap pipi kemerahan bayi mungil itu dengan lembut.


"Semalaman kamu tidak tidur. Saat ini kamu pasti masih mengantuk," gumam Sandra, kemudian mengecup lembut pipi Baby Nathan.


Sandra menghela napas panjang. Semua yang terjadi padanya saat ini adalah karena kesalahannya. Termasuk kepergian Kanaya.


Sandra sangat yakin kalau Kanaya pergi karena dirinya merasa tidak tahan. Memang benar, mengambil Nathan dari Kanaya adalah sebuah kesalahan. Akan tetapi, bukankah dulu Kanaya setuju untuk menyewakan rahimnya untuk melahirkan pewaris Sean?"


Maafkan aku, Naya. Aku memang jahat. Tapi aku tidak bisa menarik rencanaku. Maaf!


Ambisi Sandra demi karir telah menutup hatinya. Perempuan itu sangat sadar kalau dirinya memang bersalah, tetapi, dia tidak bisa mundur karena semua rencana yang telah wanita itu susun bersama sang manager, tidak bisa lagi diganggu gugat.

__ADS_1


Netranya kembali jatuh pada Baby Nathan. Pertama kaki melihat bayi itu, Sandra langsung jatuh cinta padanya.


Aku janji, walaupun aku bukanlah ibu kandungmu, aku akan selalu menyayangimu seperti anakku sendiri.


Sandra kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang setelah mencium lembut pipi Baby Nathan. Perempuan itu masih mengantuk. Sandra ingin melanjutkan tidurnya, tetapi, ucapan Sean saat menyebut kalau Kanaya adalah ibu dari putranya terngiang kembali di telinganya.


Kenapa kata-kata Sean seolah menamparku? Apakah dia ingin menjelaskan padaku kalau Nathan adalah anak yang dilahirkan oleh Kanaya sementara itu, dirinya hanyalah seseorang yang mengakui Nathan sebagai putranya?


****


Setelah beberapa jam perjalanan, Sean akhirnya sampai di rumah orang tua Kanaya. Kedatangan laki-laki berwajah tampan itu disambut oleh Riyanti, perempuan paruh baya yang masih resmi menjadi ibu mertuanya.


Riyanti tersenyum menyambut kedatangan Sean. Meskipun Riyanti sudah tahu dari cerita Kanaya tentang keadaan rumah tangga mereka berdua saat ini, tetapi, Riyanti tidak bisa memarahi Sean begitu saja. Biar bagaimanapun, apa yang terjadi pada Kanaya adalah sesuatu yang sudah perempuan itu prediksi sebelumnya.


Bukannya apa-apa, seandainya Kanaya sampai jatuh cinta pada Sean, rasa sakit yang akan ditanggung Kanaya akan lebih besar. Menjadi orang ketiga di antara sahabat dan lelaki yang sangat dicintainya pasti akan membuat hati Kanaya semakin terluka dalam.


Sean menyalami tangan Riyanti dan mencium punggung tangannya. Pria itu mengulas senyum meskipun dalam hati ia merasa canggung. Hatinya berdebar tak karuan.


Semoga saja saat ini kamu berada di sini, Sayang. Aku tidak tahu akan menjawab apa pada ayah dan ibu seandainya kamu tidak ada di sini.


Sean menghela napas panjang, mencoba menetralkan perasaannya. Meskipun Riyanti begitu ramah padanya, tetapi, tidak bisa menghilangkan rasa gugup yang kini menyerang Sean.


Bagaimana seandainya Kanaya ternyata ada di sini?

__ADS_1


"Kamu datang sendirian?"


"I–iya, Bu. Saya datang ke sini sendiri." Sean menatap wanita paruh baya itu dengan gugup.


"Kamu tidak membawa serta cucuku dan juga istrimu?"


Kalimat yang diucapkan oleh Riyanti bagaikan anak panah yang tepat sasaran.


"Masuklah! Kamu pasti lelah 'kan? Kami semua sudah menunggu kedatanganmu!" Riyanti menatap menantunya yang terlihat terkejut.


"Ayo!" Riyanti masuk ke dalam rumah diikuti oleh Sean di belakangnya. Sementara itu, Danu sedang duduk sambil menikmati secangkir teh dan camilan di atas meja.


Laki-laki itu sedang asyik menonton televisi yang sedang menyajikan tayangan berita.


"Akhirnya kamu datang juga." Danu menatap Sean yang terlihat gugup.


"Ayah." Sean mendekati Danu. Mengulurkan tangan, kemudian mencium punggung tangan ayah mertuanya.


"Sean."


"Iya, Ayah."


"Ceraikan Kanaya secepatnya. Aku ingin kamu segera melepaskan dia sebagai istrimu."

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2