Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 106 AKU SUDAH TIDAK PANTAS MENJADI ISTRIMU


__ADS_3

"Jangan sentuh istriku!" Sean berteriak saat melihat Bagas duduk di tepi ranjang Sandra.


Laki-laki itu menarik Bagas kemudian tanpa basa-basi langsung menghajarnya.


"Brengsek! Berani-beraninya kau menyentuh istriku!" Sean kembali memukul wajah Bagas. Pria berwajah tak kalah tampan dari Sean itu terhuyung ke belakang.


Belum sempat Bagas menyeimbangkan tubuhnya, Sean kembali memukuli pria itu. Bagas tak bisa melawan. Tenaga Sean terlalu kuat. Apalagi, pria itu sedang dikuasai oleh amarah.


Bagas pasrah tanpa melawan. Laki-laki itu sadar, dirinya memang bersalah. Suami mana yang terima saat mengetahui ada pria lain yang ingin menyentuh istrinya?


Bagas menatap Sean yang terus memukulinya. Sementara, Sandra hanya bisa menangis melihat kejadian itu. Perempuan itu tidak berdaya karena rasa sakit yang mendera perutnya.


"Bajingan!"


"Brengsek!"


"Berani-beraninya kau menyentuh istriku!"


Sean terus memukuli Bagas tanpa ampun. Sandra menggerakkan tangannya, meraih tombol darurat di samping ranjang untuk memanggil tenaga medis.


Model cantik itu memandangi Sean yang dengan brutal terus memukuli Bagas. Sedangkan Bagas, lelaki itu tergeletak dengan darah yang mengalir di bibirnya.


Laki-laki itu seolah pasrah saat Sean terus memukulinya. Netra laki-laki itu tak sengaja bertemu dengan kedua bola mata Sandra yang berkaca-kaca.


Sandra memejamkan mata. Bayangan saat laki-laki itu menyentuh semua bagian tubuhnya kembali terlintas. Tubuh Sandra gemetar, saat mengingat tangan laki-laki itu menjamah tubuh bagian sensitifnya.


Sandra menangis. "Aku sudah kotor," ucap Sandra dengan deraian air mata.


Perempuan itu sungguh tidak menyangka kalau nasibnya akan berakhir menyedihkan. Teringat kembali saat Bagas dengan lantang mengatakan kalau Maya sudah menjualnya pada pria itu.


Maya ... benarkah sahabat baiknya itu menjual tubuhnya pada lelaki bernama Bagas itu?


Seandainya benar, sangat keterlaluan sekali dia. Tega-teganya Maya menjebaknya dan menjualnya pada lelaki hidung belang seperti Bagas dan kedua temannya.

__ADS_1


Maya adalah sahabat baiknya. Wanita yang dipercaya oleh Sandra untuk mengurus semua pekerjaannya. Termasuk juga urusan rumah tangganya.


Sandra sangat mempercayai Maya, sampai masalah yang terjadi dalam rumah tangganya pun ia ceritakan semuanya pada Maya.


Managernya itu adalah orang yang telah memberikan saran untuk Sandra agar menikahkan Sean dengan Kanaya. Dialah orang yang telah memberikan ide sewa rahim pada Sandra.


Sandra sangat mempercayai perempuan itu sampai akhirnya, Sandra pun menuruti semua ide dari wanita itu. Menikahkan Sean dengan Kanaya, kemudian mengambil bayi yang lahir dari rahim sahabatnya itu sesuai perjanjian.


"Maya, seandainya benar kamu adalah dalang dari semua ini, aku bersumpah, akan membalasmu!" Sandra berteriak dalam hati.


Perempuan itu terus menatap Sean yang masih belum puas menghajar Bagas. Sampai akhirnya, petugas medis datang melerai Sean yang masih emosi. Sedangkan Bagas, lelaki itu tergeletak tidak sadarkan diri.


Sean melepaskan tangan beberapa perawat yang memegangi tubuhnya. Laki-laki itu masih terlihat sangat marah dan belum merasa puas melampiaskan amarahnya.


Sean mengembuskan napas panjang. Pandangan matanya beralih ke atas ranjang. Menatap Sandra yang terlihat menangis.


Hati Sean berdenyut sakit melihat perempuan yang telah menjadi istrinya selama hampir enam tahun itu terbaring tak berdaya di ranjang pasien.


Sean melangkah mendekati Sandra. Menatap dalam-dalam ke arah istrinya yang saat ini sedang menangis.


"Sayang ...." Sean mendekati Sandra dan ingin memeluk perempuan itu. Namun, gerakan tangan Sean terhenti di udara saat mendengar teriakan Sandra.


"Jangan mendekat!"


"Sandra–"


"Jangan sentuh aku!" Sandra kembali berteriak. Perempuan itu menatap Sean yang tampak dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Sandra, Sayang aku–"


"Aku bilang jangan mendekat!" teriak Sandra. Perempuan itu meringis saat merasakan sakit pada lukanya. Saat dirinya berteriak, seperti ada yang tertarik di perutnya yang terluka.


Sandra masih meneteskan air mata. Sementara Sean, masih terpaku di tempatnya berdiri. Tidak menyangka kalau Sandra menolaknya.

__ADS_1


Namun, seketika, bayangan saat dirinya menolak Sandra dan tidak mau menemui perempuan itu saat di rumahnya kemarin, terlintas.


"Sandra pasti masih marah karena aku mengabaikannya kemarin." Sean berucap dalam hati.


Sean akui, laki-laki itu memang sangat marah pada Sandra. Beberapa hari kemarin, ia bahkan menyerahkan semuanya pada Rosie karena Sean sudah kehilangan akal untuk menghadapi Sandra yang lebih mencintai karir dari pada keluarganya.


"Sandra–"


"Pergilah! Aku tidak mau bertemu denganmu, Sean." Sandra berucap lirih.


Sandra teringat kemarahan Sean kemarin. Hatinya sakit, marah dan kecewa. Sandra sudah memohon agar Sean menemuinya, tetapi laki-laki itu tidak mau menemuinya sama sekali.


Hatinya sakit, apalagi, saat Sean lebih memilih menuruti ucapan ibunya untuk menceraikannya.


Mungkinkah hari Sean sekarang sudah bukan miliknya lagi?


Apalagi, saat Sandra melihat Sean lebih memilih bersama Kanaya dan putranya.


"Bisakah kamu pergi dari sini? Sandra menatap Sean yang tampak terkejut.


"San–"


"Aku ingin sendiri," potong Sandra cepat.


"Sandra, kita harus bicara. Aku ingin tahu, apa yang sudah pria itu lakukan sampai kamu nekad mengakhiri hidupmu!" Sean yang baru saja meredam emosi, kembali terpancing melihat sikap Sandra.


"Di–dia ... sudah membuatku tidak pantas untuk bersamamu," ucap Sandra terbata.


"A–apa maksudmu, Sandra?"


"Di–dia, sudah menyentuhku. Walaupun dia gagal menguasai tubuhku, tapi tangan laki-laki itu sudah menjamah seluruh tubuhku." Sandra berucap lirih sambil menatap Sean dengan kedua mata berkaca-kaca. Tubuhnya gemetar, apalagi, saat perempuan itu mengingat bagaimana Bagas menjamah seluruh tubuhnya dengan beringas.


"Aku sudah tidak pantas menjadi istrimu, Sean. Aku gagal menjaga martabatku sebagai istrimu."

__ADS_1


"Sandra ...."


BERSAMBUNG ....


__ADS_2