Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 78 DIA ADALAH IBU DARI PUTRAKU


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Kanaya pergi bersama Juna menuju rumah kakeknya. Semenjak kakek dan neneknya meninggal dunia, rumah itu kosong.


Namun, tak berselang lama, ada satu keluarga yang menyewa rumah itu. Saat usaha ayah Kanaya bangkrut, rumah itu Danu gadaikan pada orang yang menyewa rumah tersebut, yaitu pak Burhan.


Selama bertahun-tahun, pak Burhan dan keluarganya tinggal di rumah itu. Akan tetapi, semenjak Riyanti membayar hutang pada pak Burhan, satu keluarga itu memutuskan pindah dari rumah kakek dan membeli rumah sendiri.


Semenjak pak Burhan pergi, rumah itu kosong. Akan tetapi, meskipun begitu, ada keluarga dari pihak kakek yang sering datang untuk membersihkan rumah itu. Riyanti membayar saudaranya itu untuk menjaga sekaligus membersihkan rumah kakek.


Setelah beberapa jam, Kanaya sampai di rumah kakek bersama Juna. Perempuan itu sangat senang. Apalagi, saat melihat rumah itu sangat nyaman untuk ditinggali. Walaupun letak rumah itu jauh dari keramaian, Kanaya tetap merasa senang.


Perempuan cantik itu malah senang, karena dengan begitu, ia bisa menenangkan pikirannya yang sedang kacau saat ini.


Rumah itu cukup besar. Walaupun bangunan lama, tetapi, masih kokoh berdiri.


"Ibu menyuruh orang untuk memperbaiki dan mengecat rumah ini," jelas Juna saat melihat sang kakak sedari tadi berdecak kagum.


"Pantas saja rumah ini lebih bagus dari saat terakhir aku ke sini."


"Kelihatannya kamu tahu banyak tentang rumah ini." Kanaya menatap penuh selidik pada adiknya.


"Jangan bilang kalau kamu sering ke sini tanpa sepengetahuan ibu dan ayah." Kanaya melanjutkan ucapannya.


"Ibu sering nyuruh Juna ke sini setelah om Burhan pindah," jawab Juna santai.


"Bukannya ada saudara ayah yang merawat rumah ini?"


"Iya, benar. Ibu hanya ingin memastikan saja kalau tidak ada barang yang berpindah dari tempatnya." Juna terkekeh membuat Kanaya tersenyum.


"Kakak kayak nggak tahu ibu saja." Juna dan Kanaya kembali tertawa.

__ADS_1


***


Sean masih terus menghubungi ponsel Kanaya. Dari semalam, wanita itu belum juga bisa dihubungi. Ratusan kali Sean menelepon, tetapi, Kanaya tidak sekalipun mengangkat panggilan teleponnya.


Semalaman, Sean juga mencari Kanaya di sepanjang jalan. Namun, belum sempat ia menemukan Kanaya, Sandra menelepon dan mengabarkan kalau putranya menangis.


Sean menatap bayi mungil yang kini tertidur pulas di boks bayi. Semalaman putranya menangis sampai kelelahan. Gara-gara panik, Sean sampai menyuruh asisten rumah tangganya memanggil dokter. Beruntung, Sandra mengingatkan.


Dokter pribadi keluarga besarnya adalah orang kepercayaan Ibrahim. Seandainya saja semalam Sean benar-benar memanggil dokter itu, sudah pasti sandiwara mereka akan ketahuan.


Akhirnya, mereka memutuskan menenangkan Nathan tanpa memanggil dokter. Bayi mungil itu baru berhenti menangis saat dinihari. Semua orang menarik napas lega saat Nathan akhirnya tertidur.


Sean menarik napas panjang sambil menatap ponselnya.


"Sebenarnya kamu di mana, Nay? Aku sungguh tidak menyangka kalau kamu pergi begitu saja tanpa membicarakannya dulu padaku," batin Sean.


Aku nggak yakin kalau kamu bisa mengurus Nathan dengan baik, Sandra. Bukan aku tidak percaya pada kemampuanmu. Tapi, apa benar kamu akan benar-benar fokus merawat Nathan dan mengabaikan karirmu?


Bayangan Kanaya kembali terlintas di kepalanya. Pria itu kemudian bangkit menuju kamar mandi. Setelah itu, Sean bersiap pergi mencari Kanaya.


Saat Sean beranjak keluar kamar, Sandra perlahan membuka mata. Perempuan itu memanggil suaminya yang sudah terlihat tampan.


"Kamu mau kemana?" Sandra dengan malas bangun dari tempat tidur. Matanya masih mengantuk.


"Aku mau cari Kanaya." Sean menatap Sandra yang masih mengucek kedua matanya. Perempuan itu terlihat masih mengantuk dengan rambut berantakan.


"Kamu mau cari dia kemana?" Perempuan itu menutup mulutnya karena menguap. Kedua matanya berkedip-kedip oleh rasa kantuk yang masih menguasai.


"Aku mau ke rumahnya. Aku yakin, saat ini dia pasti ada di sana. Bukankah kamu bilang, dia tidak punya keluarga lain atau teman dekat selain dirimu?" Sean menatap Sandra yang langsung terdiam tetapi kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Tapi apa dia benar pulang ke rumah? Kamu tahu sendiri bukan, kalau dari kemarin dia takut memberitahukan kelahiran Nathan pada ayahnya?"


Sean terdiam mendengar ucapan Sandra. Memang benar, Kanaya sedari kemarin mengatakan kalau dirinya belum siap mengatakan tentang kelahiran putranya karena dia belum punya alasan yang tepat pada ayahnya.


Di keluarga Kanaya, hanya Riyanti saja yang mengetahui tentang pernikahan rahasianya. Kanaya tidak mau sang ayah atau kedua adiknya mengetahui kalau pernikahannya dengan Sean adalah pernikahan sementara untuk mendapatkan anak.


"Setidaknya, aku berusaha untuk mencarinya. Biar bagaimanapun, Kanaya adalah ibu dari anakku. Dia baru dua minggu melahirkan. Tubuhnya masih lemah. Aku takut terjadi apa-apa sama dia," ucap Sean panjang lebar. Pria itu tidak sadar, kalau ada hati yang seketika itu juga berdarah mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya.


Tubuh Sandra menegang. Rasa kantuknya langsung menghilang seiring rasa sakit yang menjalar ke hatinya. Ucapan Sean seolah menjelaskan kalau Kanaya begitu berarti buat lelaki itu.


Dia adalah ibu dari putraku.


Kata-kata itu bagai belati yang langsung menusuk ke jantungnya.


"Se–Sean ... apa kamu benar-benar sangat mengkhawatirkan Kanaya?"


"Tentu saja aku sangat khawatir padanya. Kamu sangat tahu bukan, dia bahkan pergi dengan tidak membawa apa pun. Dia belum pulih benar pasca melahirkan Nathan, Sandra." Sean menatap wajah Sandra yang saat ini juga sedang menatapnya.


"Kamu mengkhawatirkan dia atau merindukannya?"


"Aku mengkhawatirkan dia karena dia adalah ibu dari putraku, aku mengkhawatirkan dia karena dia adalah istriku, Sandra!"


Dia adalah ibu dari putraku.


Dia adalah istriku!


Mendengar kata-kata itu kembali keluar dari mulut Sean, jantung Sandra seolah dipaksa berhenti.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2