
Kanaya menutup panggilan teleponnya secara sepihak setelah ia puas menumpahkan isi hatinya. Begitupun Sandra. Perempuan itu juga mengungkapkan semua perasaan yang dirasakannya saat ini.
Sahabat baiknya itu kini mengakui kalau dirinya sangat terluka dan sangat takut kehilangan Sean. Kenapa baru sekarang dia menyadari kalau dia sangat mencintai dan sangat takut kehilangan suaminya?
Seandainya dia memang mencintai suaminya, kenapa dia justru meminta Sean menikah lagi? Benar-benar bodoh!
"Memangnya, saat dia memutuskan untuk menikahkan aku dengan Sean, dia tidak berpikir resiko yang akan terjadi nantinya?" ucap Kanaya lirih.
"Kalau aku tidak memikirkanmu, aku bisa saja merayu Sean untuk benar-benar meninggalkanmu. Walaupun saat ini Sean selalu mengatakan dia mencintaimu, tapi aku yakin, kalau aku mau, aku bisa saja merebut Sean darimu, apalagi, saat ini aku sedang mengandung darah dagingnya." Bibir Kanaya kembali bergerak. Menggerutu, merasa kesal dengan sikap Sandra yang tidak berpikir panjang saat mengambil keputusan.
Dia pikir, semuanya akan begitu mudah? Dia bahkan tidak memikirkan resiko yang akan dihadapinya. Apa dia sudah gila? Mau mengorbankan cinta dan kebahagiaannya demi karir?
Kamu memang bodoh, Sandra!
Kanaya mengembuskan napas panjang. Perempuan itu merasa lelah. Bukan hanya tubuhnya saja yang lelah, tetapi juga hatinya.
Kanaya mengusap perutnya yang masih terlihat datar. Semua ucapan dokter pagi tadi terngiang kembali di kepalanya.
Tidak boleh stres, tidak boleh kelelahan, tidak boleh bekerja terlalu berat, tidak boleh ....
Kanaya berdecak kesal. "Bagaimana aku tidak stres kalau keadaan aku saja seperti ini?"gumam Kanaya. Kepalanya sekarang terasa berputar-putar.
Perempuan itu kemudian mencoba memejamkan matanya, Kanaya ingin tidur. Ia berharap, keadaan akan membaik setelah ia terbangun nanti. Perempuan itu kembali mengembuskan napas panjang, sebelum akhirnya memejamkan mata dan tertidur.
Sementara itu, di tempat lain Sandra sedang menumpahkan segala kekesalan dan kemarahannya dengan berolahraga. Perempuan itu kini sedang meninju dan menendang berkali-kali samsak yang tergantung di depannya.
Tangannya dengan sepenuh tenaga meninju berkali-kali, hingga akhirnya perempuan itu pun kelelahan dengan napas yang memburu.
__ADS_1
Semenjak menyadari tabiat buruknya yang seringkali mengamuk saat dalam keadaan marah, Sandra akhirnya memilih olahraga tinju sebagai pelampiasan ketika amarahnya datang.
Biasanya Sandra akan mengamuk dan melemparkan semua barang yang ada di depannya saat marah. Setelah itu, ia akan merasa menyesal karena barang kesayangannya ikut hancur saat dirinya sedang melampiaskan amarah.
Sandra menyandarkan tubuhnya. Perempuan itu mengatur napasnya yang tak beraturan. Butiran keringat membasahi wajah cantik Sandra dan juga seluruh tubuhnya.
Marah pun ternyata butuh energi. Sebelumnya, aku selalu melampiaskan amarahku dengan melempar apa pun yang ada di dekatku. Tapi sekarang, aku butuh energi ekstra untuk meluapkan amarah.
Sandra tersenyum mencibir.
Perempuan itu meraih botol minuman di depannya. Membuka tutup botol kemudian menenggak minuman dingin yang langsung mengalir membasahi tenggorokannya.
Sandra membiarkan butiran keringat itu menetes di wajahnya. Model cantik itu kembali menyandarkan kepalanya pada dinding kaca.
Mencoba menetralkan napasnya yang memburu juga perasaannya yang tak menentu.
Kata-kata sahabatnya itu memang benar. Seharusnya Sandra berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu. Seharusnya dia memikirkan segala resiko yang akan terjadi saat semua orang tahu tentang rencananya.
Sandra bukan hanya akan kehilangan Sean, tetapi juga akan kehilangan kedua mertuanya yang begitu baik padanya selama ini.
"Kamu akan kehilangan semuanya seandainya rencana kamu gagal, Sandra. Bukan hanya suami tercintamu saja yang hilang, tetapi juga kedua orang tua Sean."
"Saat kamu kehilangan semuanya, belum tentu karir kamu juga masih bersinar. Aku yakin, keluarga Sean tidak akan tinggal diam saat mereka tahu kalau kamu membohonginya."
Ucapan Kanaya terngiang-ngiang di telinganya bagaikan alarm tanda bahaya yang menyuruh Sandra waspada.
"Saat semuanya terbongkar, aku yakin, karirmu pun akan ikut hancur! Kamu tahu pasti siapa mertua kamu bukan?"
__ADS_1
Sandra meremas rambutnya saat kata-kata Kanaya terus terdengar di telinganya.
"Apa kamu tahu Sandra? Jika rencanamu sampai gagal, bukan hanya kamu yang akan hancur. Tapi aku juga akan lebih hancur. Aku bahkan tidak bisa membayangkan seandainya ayahku sampai tahu kalau pernikahanku dengan Sean adalah pernikahan mainan yang kamu rencanakan!"
Sandra kembali berdiri, kemudian tangannya bergerak cepat meninju samsak yang tergantung di hadapannya.
Sandra bahkan berteriak meluapkan segala amarahnya.
"Kamu memang bodoh, Sandra!"
"Kamu bodoh!"
"Kamu benar-benar bodoh!"
Sandra terus berteriak meluapkan amarahnya. Tangan dan kakinya tak berhenti meninju dan memukul.
Menyesal?
Sepertinya memang Sandra menyesali semua keputusannya. Namun, seperti yang Kanaya katakan, nasi sudah menjadi bubur. Apalagi, saat ini Kanaya sedang hamil anak dari suaminya.
"Kamu memang bodoh, Sandra!"
"Bodoh!"
"Bodoh!"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1