Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 93 MAUKAH KAMU MENIKAH DENGAN SEAN?


__ADS_3

Sean merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran besar yang biasa ia tiduri bersama Sandra. Kedua matanya menatap langit-langit kamar.


Dadanya naik turun menetralkan emosi. Kepalanya terasa penuh, sehingga membuat Sean tidak tahu harus memikirkan apalagi.


Bayangan Sandra terus saja menari di kepalanya. Dari awal dirinya bertemu dengan perempuan itu sampai akhirnya menikah dan menjalani pernikahan itu selama enam tahun.


Sean mengembuskan napas panjang. Haruskah dia memberontak saat ini? Menolak kemauan Sandra untuk tidak meninggalkannya?


Sean memejamkan mata. Bayangan Sandra kembali menari di pelupuk mata. Bayangan perempuan itu menangis beberapa saat yang lalu dan meminta perlindungan padanya dari ucapan sang mama kembali terekam.


Namun, wajah tenang Kanaya bersama sang buah hati membuat Sean kembali mengembuskan napas panjang.


Sandra. Sean sudah berulang kali memberikan kesempatan pada perempuan itu, tetapi, dia justru selalu menganggap dirinya tidak penting daripada karirnya. Tidak tahukah dia? Kalau bukan karena memandang Sean, apa Sandra bisa sampai ke puncak ketenaran yang dimimpikannya?


Selama berpura-pura hamil, Sandra masih tetap eksis dan menggunakan kehamilannya itu untuk semakin menaikkan popularitasnya. Seandainya saja Sean tidak melarangnya, mungkin baby Nathan saat ini sudah menjadi konsumsi publik karena saat itu Sandra ingin sekali memperkenalkan anak yang dilahirkan oleh Kanaya itu di depan para pemburu berita.


Setelah apa yang dilakukannya selama ini, ternyata perempuan itu belum juga puas. Ia bahkan sudah bersiap bekerja, padahal, Sandra sudah berjanji akan merawat Nathan.


"Apakah melepaskannya adalah jalan yang terbaik?" gumam Sean.


Laki-laki itu memejamkan matanya. Mengingat kembali sebelum Sandra pergi dari rumah.


Saat Sandra ingin menemui Sean di kamarnya, laki-laki itu mengusirnya. Sean tidak mau menemui Sandra dan tidak membiarkan wanita itu masuk ke dalam kamar. Pikirannya sedang kacau. Sean tidak mau melakukan sesuatu di luar kendali yang nantinya akan berujung malapetaka buat Sandra.

__ADS_1


Biar bagaimanapun, saat itu emosinya sedang naik. Dia tidak mau kalau sampai melukai Sandra dengan tangannya.


"Sean, aku minta maaf padamu. Aku tahu aku salah. Aku akan memperbaikinya. Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku, Sean." Ucapan Sandra terakhir kali di tengah isak tangisnya.


Namun, Sean tidak memberinya kesempatan sama sekali untuk bicara. Bukan karena janjinya pada sang mama yang ingin Sean meninggalkan Sandra, tetapi, karena pikirannya seolah baru terbuka. Sesuatu yang dulu menurutnya benar, kini justru terlihat sebaliknya.


Dulu, ia mengira Sandra adalah pasangan terbaik untuknya, karena itu, ia selalu menganggap wanita itu sangat sempurna. Bahkan saat kedua orang tuanya menyalahkan Sandra karena perempuan itu sudah membuat kesalahan, Sean dengan begitu bangga menjadi tameng perempuan itu.


Ah! Ternyata memang benar, cinta itu buta. Seperti dirinya yang selama ini buta dan selalu mengalah pada Sandra karena dia takut kehilangan perempuan itu.


Gara-gara bucin tingkat tinggi, Sean tidak bisa membedakan kebenaran. Sandra yang dulunya baik, dan membuatnya jatuh cinta, kini berubah menjadi perempuan ambisius yang bahkan rela mengorbankan dirinya demi karir.


"Jika keberadaanku membuatmu merasa tidak bebas untuk mengejar mimpimu, aku rela melepaskan kamu. Semoga kamu bahagia, Sandra." Kalimat yang Sean ucapkan di depan Sandra sebelum akhirnya perempuan itu benar-benar pergi meninggalkan rumah besar itu.


Sandra pergi ke rumah Maya untuk menenangkan diri. Setelah puas menangis si depan Kanaya, Sandra menemui Sean, kemudian, ia langsung pergi meninggalkan rumah setelah Sean mengusirnya pergi.


Kanaya menatap kedua orang tua Sean secara bergantian. Merasa penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang tua yang baru beberapa jam dikenalnya itu.


Rosie dan Ibrahim mengajaknya bicara di ruang keluarga setelah baby Nathan tertidur pulas.


"Aku dan suamiku baru tahu kalau ternyata Sean menikahimu." Rosie membuka pembicaraan.


"Sampai sekarang, aku bahkan masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Sean dan Sandra," lanjut Rosie. Kedua matanya memindai wajah cantik alami Kanaya.

__ADS_1


"Aku minta maaf sama Om dan Tante. Tapi, aku berani bersumpah kalau aku tidak bermaksud masuk ke dalam rumah tangga mereka dan menjadi orang ketiga dalam pernikahan mereka." Kanaya meremas kedua tangannya. Merasa gugup di hadapan Rosie dan Ibrahim.


"Kami tidak menyalahkan kamu. Aku dan suamiku yakin, kamu pasti mempunyai alasan sendiri. Kalau tidak, kamu pasti tidak akan pernah menyetujui rencana konyol dari Sandra."


Ucapan Rosie membuat Kanaya terkejut.


"Tidak susah untuk mengetahui siapa dirimu dan juga latar belakangmu, Kanaya." Ibrahim ikut bicara.


Kanaya tersenyum canggung.


"Kami juga tahu kalau beberapa hari lalu kamu kabur dari Sean dan Sandra, meninggalkan Nathan yang telah kamu serahkan pada Sandra untuk diakui perempuan itu sebagai putranya." Ibrahim kembali melanjutkan kata-katanya.


"Sebagai kedua orang tua Sean, kami meminta maaf padamu atas nama dia. Kami minta maaf sekaligus berterima kasih karena kamu sudah melahirkan Nathan, cucu kami."


Kanaya tersenyum, hatinya menghangat mendengar ucapan kedua orang tua yang sudah melahirkan suami sirinya itu.


"Kanaya, maukah kamu menikah dengan Sean?"


BERSAMBUNG ....


Jangan lupa baca juga karya author yang lainnya ya.


Follow juga akun Author yuk!

__ADS_1


Ig nazwatalita8


FB Talitazahra


__ADS_2