
Sean memeluk Kanaya yang masih menangis di pelukannya. Sudah lama Sean tidak sedekat ini dengan Kanaya. Semenjak hamil, perempuan itu selalu menolaknya mentah-mentah jika dia mendekatinya.
"Sayang, sudah. Jangan menangis lagi. Aku yakin, Sandra pasti akan baik-baik saja." Sean mempererat pelukannya. Merasakan hangat tubuh perempuan yang setiap hari membuatnya sulit terlelap.
"Aku mencintaimu, Nay. Sangat!" Sean berbisik lirih.
"Sean, kamu–"
"Aku tahu, kamu tidak akan percaya. Tapi aku benar-benar merasakannya." Sean merapatkan tubuh Rania, hingga mengikis jarak di antara mereka berdua.
"Apa kamu tahu, Nay, kamu, sudah ada di hatiku bahkan jauh sebelum Sandra datang. Kamu adalah pemilik hatiku sebelum Sandra tiba-tiba datang dan menguasainya." Kata-kata Sean, membuat jantung Kanaya berdetak dengan cepat.
"Dulu, aku selalu berharap, kalau suatu saat, aku akan bertemu dengan pemilik hatiku yang asli. Saat itu, aku sudah bersama Sandra, tetapi, aku berharap bisa bertemu dengan pemilik hatiku yang lain." Sean tertawa kecil.
"Itu berarti kamu tidak benar-benar mencintai Sandra!" Kanaya tidak terima.
"Awalnya iya, tapi, setelah itu aku sangat tergila-gila padanya. Sandra adalah pribadi yang sangat ceria. Membuat hari-hariku yang gelap menjadi berwarna." Sean menatap manik mata Kanaya yang mendongak ke arahnya.
"Sayang, apa kamu tahu? Bertahun-tahun semenjak berpisah denganmu, jiwaku kosong. Aku mencarimu kemana-mana, tetapi, tidak ada satu pun petunjuk di mana keberadaanmu." Sean menempelkan bibirnya pada bibir Kanaya. Mengecup lembut, kemudian melepaskannya lagi.
Bagai terhipnotis, Kanaya yang biasanya galak saat didekati oleh Sean, saat ini justru sangat menurut.
"Bertahun-tahun, Nay, lebih dari lima tahun aku mencarimu. Menyimpanmu di sini, tanpa tergantikan oleh perempuan manapun. Selama itu, aku tersiksa menahan rindu." Sean menuntun tangan Kanaya ke dadanya.
"Rindu yang entah sampai kapan akan berlabuh, karena aku tidak tahu kapan aku akan kembali bertemu denganmu," lanjut Sean.
Pria itu menatap Kanaya dengan lembut.
"Aku jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu, Bila."
"Sean."
"Aku jatuh cinta padamu, meskipun kamu saat itu adalah gadis cupu yang orang bilang tidak menarik. Aku jatuh cinta padamu di saat semua orang menindasmu dengan alasan penampilanmu yang tidak sekeren mereka." Bibir Sean kembali mendekati bibir Kanaya. Sebuah ciuman mendarat di bibir Kanaya yang terbuka.
__ADS_1
"Jatuh cinta padamu, tapi aku tidak berani mengungkapkannya padamu. Aku terlalu pengecut untuk mengakui perasaanku," lanjut Sean setelah melepaskan ciumannya.
"Seandainya saat itu aku berani mengungkapkannya padamu, aku pasti tidak akan pernah bertemu dengan Sandra, karena aku sudah memilikimu."
"Sean ...."
"Aku bersama Sandra, dengan tujuan agar aku bisa melupakanmu. Aku marah, karena bertahun-tahun aku menahan rindu pada orang yang entah masih ada atau sudah mati."
"Sean." Kedua mata Kanaya membola.
"Maaf, Sayang, saat itu aku sangat marah. Aku marah karena aku tidak bisa menemukanmu. Aku marah karena aku tidak bisa menghapus namamu dari sini." Sean kembali menunjuk ke dadanya.
"Hatiku sakit setiap kali rindu itu datang, tapi aku tidak bisa menemukanmu." Sean menatap Kanaya dengan penuh cinta.
"Aku tidak menyangka kalau aku akhirnya dipertemukan sama kamu lagi. Tapi sayangnya, kita bertemu setelah aku sudah menikah dengan Sandra."
"Kita dipertemukan setelah aku sudah tidak ada lagi di dalam sini." Kanaya menunjuk hati Sean.
"Kita dipertemukan kembali setelah semua rasa cinta yang kamu punya untukku menjadi milik Sandra. Begitu 'kan?" Kanaya mendongak. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Aku! Aku juga sangat tersiksa karena aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun dan aku tidak pernah menemukanmu!" Suara Kanaya sedikit keras. Rasa yang selama ini ingin dia simpan, rasanya ingin meledak saat itu juga.
Haruskah dia jujur sekarang?
"Kamu ingat bukan, janji yang kamu ucapkan padaku?" Kanaya menatap Sean dengan hati berdenyut sakit.
Kanaya awalnya ingin menyimpannya dalam hati saja. Tidak ingin membongkar semua rahasia yang ia simpan rapat di hatinya.
Rahasia tentang perasaannya pada Sean. Rahasia kenapa selama ini dia belum mau menikah dengan pria manapun.
"Sayang, jangan bilang kalau kamu juga punya perasaan yang sama dengan–"
"Ya! Aku mencintaimu, Sean."
__ADS_1
"Sayang–"
"Jangan memanggilku sayang!" Kedua mata Kanaya melotot. Sepertinya dia baru tersadar kalau sedari tadi Sean memanggilnya dengan sebutan sayang."
"Apa kamu tahu, bertahun-tahun aku tersiksa menunggumu. Bertahun-tahun aku menahan rindu dan menunggumu yang telah berjanji akan menemuiku di sana." Kanaya menatap Sean dengan berlinang air mata.
"Gara-gara kamu, aku tidak bisa membuka pintu hatiku untuk orang lain. Gara-gara kamu, aku sampai tidak bisa menikah meskipun umurku sudah cukup untuk menikah. Semuanya gara-gara kamu, Sean!"
"Demi memenuhi janjiku padamu, aku selalu menunggumu datang. Namun, sampai bertahun-tahun, kamu tak juga datang." Kanaya menangis di pelukan Sean.
"Maafkan aku, Sayang, maaf!" Sean memeluk tubuh Kanaya dengan erat. Entah dia harus sedih atau bahagia setelah mengetahui perasaan Kanaya terhadapnya.
"Aku membencimu, Sean."
"Sayang ...." Sean sungguh terkejut mendengar ucapan Kanaya. Dirinya baru saja terbang melayang ke atas langit karena pernyataan cinta Kanaya.
Namun, detik berikutnya perempuan itu justru menjatuhkan dirinya ke dalam jurang.
"Aku membencimu! Aku membencimu saat pertama kali aku melihat Sandra mengenalkanmu padaku, tetapi kamu malah tidak mengenaliku. Kamu bahkan menghinaku waktu itu."
"Sayang, maaf!" Sean mempererat pelukannya. Ingatannya kembali saat pertama kali dia bertemu Kanaya di restoran. Apa yang dikatakan Kanaya memang benar, saat itu dia tidak mengenalinya sama sekali.
"Kamu jahat, Sean. Kamu jahat!"
"Aku membencimu!"
"Aku sangat membencimu!"
"Sayang ...."
BERSAMBUNG ....
Semalam update, tapi ternyata baru lolos tadi pagi. Mudah-mudahan malam ini lancar.
__ADS_1
Yuk, ikuti terus ceritanya Sean dan Kanaya. Jangan lupa like, komentar, vote dan hadiahnya ❤❤️❤❤️❤️