
Maya terbelalak kaget mendengar ucapan Alex. Tubuh polosnya yang penuh dengan luka gigitan, berusaha bangkit dari tempat tidur.
"Apa maksudmu Sandra bunuh diri?" Suara Maya pelan, nyaris tak terdengar. Kepalanya berdenyut, sementara tubuhnya terasa sangat sakit. Apalagi, tubuh bagian intinya.
Perempuan itu menggeleng pelan. Tidak percaya dengan ucapan Alex tentang Sandra.
"Tidak mungkin Sandra bunuh diri. Dia adalah seseorang yang sangat ambisius dengan karirnya. Tidak mungkin dia bunuh diri hanya karena melayani Bagas." Maya merasa tidak percaya. Bagaimana mungkin, Sandra justru memilih bunuh diri daripada bercinta dengan Bagas?
"Nggak semua perempuan kayak lu, ******!" Alex menggeram.
"Nggak semua, manusia itu picik kayak lu, yang menghalalkan segala cara buat ngedapetin keinginan lu. Termasuk, ngejual sahabat lu sendiri!" Hans yang mulai kesal ikut menimpali.
Hans sendiri tidak menyangka, kalau Maya menipunya. Seandainya dia tahu kalau Sandra adalah seseorang yang sangat menghargai diri dan martabatnya, tidak mungkin ia menyetujui tawaran Maya.
Gara-gara perempuan itu, saat ini, mereka bertiga terancam berurusan dengan keluarga Ibrahim. Orang yang sangat berpengaruh di dunia bisnis.
"Tidak mungkin Sandra bunuh diri." Maya kembali berucap lirih. Masih tidak mempercayainya ucapan dua pria yang telah menggarap tubuhnya dengan beringas.
"Udah gue bilang, Sandra bukan perempuan ****** model elu. Perempuan itu lebih milih mati, daripada harus melayani pria yang bukan suaminya."
Kedua bola mata Maya melotot mendengar ucapan pria di hadapannya.
"Gue udah nelepon suaminya Sandra, Sean Ibrahim sedang menuju ke sini." Hans menatap Alex yang terlihat sangat terkejut, begitupun Maya.
"Lo yakin, dia benar-benar ke sini, Hans?" Alex yang masih terkejut mendadak linglung.
"Ya, dan sialnya, hotel ini adalah milik dia."
"Apa?" teriak Alex. Namun, melihat Hans mengangguk, Alex mengumpat kesal.
"Sial! Semuanya gara-gara wanita ****** itu!" Alex menunjuk ke arah Maya.
"Mampuslah kita semua di tangan Sean!" Hans meremas rambutnya, frustasi.
"Sialan! Kalau bukan gara-gara wanita ****** itu, gue nggak bakal terjebak ke dalam masalah seperti ini." Alex mengepalkan tangannya. Tubuhnya yang setengah telanjang mendekati Maya, kemudian menampar perempuan itu dengan keras.
__ADS_1
Maya berteriak kesakitan. Perempuan itu memegangi pipinya yang terasa perih dan panas akibat tamparan Alex.
Maya meringis, saat Alex tiba-tiba mencengkeram dagunya.
"Setelah ini, gue bakalan sita semua milik lu buat bayar utang-utang lu ke gue!" ucap Alex penuh penekanan, kemudian melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar.
"Hans, menurut elu, wanita ini harus diapain setelah ini?"
***
Raut wajah Sean berubah cemas setelah menerima telepon dari seseorang. Laki-laki itu saat ini sedang bersama Kanaya dan Rosie juga kedua mertuanya.
"Ada apa, Sean? Siapa yang meneleponmu?" Rosie mengerutkan kening.
"Terjadi sesuatu pada Sandra, Ma." Sean meremas rambutnya.
"Ya, Tuhan, selamatkankah dia," gumam Sean. Pria itu kemudian menghubungi seseorang.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa istriku bisa masuk rumah sakit?" Sean berteriak marah setelah seseorang di seberang sana mengangkat panggilan teleponnya.
"Maaf Tuan, sesuai perintah dari Tuan, dari hari kemarin, saya menghentikan penjagaan terhadap Nona Sandra. Maaf, Tuan." Suara di seberang sana membuat Sean semakin frustasi.
Ya, Tuhan, apa yang sudah aku lakukan*?
"Selidiki semuanya! Aku ingin orang-orang yang mencelakai istriku mendapatkan balasan yang setimpal!" Sean mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras, menahan amarah sekaligus cemas.
Sean mengakhiri panggilan teleponnya. Kedua matanya menatap orang-orang di sekitarnya dengan tatapan tak terbaca, yang jelas, Sean merasa tidak enak karena sudah bersikap tidak sopan.
"Maaf, aku tidak bermaksud–"
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Rosie yang sedari tadi merasa penasaran kembali mengulangi pertanyaannya.
"Sandra dijebak oleh Maya, managernya sendiri. Dia dijual oleh Maya pada lelaki hidung belang. Sandra menolak melayani laki-laki itu dan memilih bunuh diri."
"Apa?" Semua orang terkejut mendengar ucapan Sean. Begitupun Kanaya yang baru saja dari dapur untuk membuatkan kopi untuk Sean.
__ADS_1
Gelas kopi yang dipegangnya jatuh, hingga menyebabkan bunyi yang cukup nyaring.
Kanaya sangat terkejut mendengar ucapan Sean tentang Sandra.
"Kanaya!" Semua orang di ruangan itu serempak memanggil Kanaya dengan khawatir.
"Sayang ... kamu tidak apa-apa?" Sean mendekati Kanaya yang masih terlihat syok. Melihat Kanaya yang terdiam, Sean segera mengangkat tubuh istri keduanya itu agar tidak menginjak pecahan beling yang berserakan di lantai.
"Bawa istrimu ke kamar, Sean."
"Iya, Ma."
Sean menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar.
"Apa yang terjadi pada Sandra, Sean? Dia baik-baik saja bukan?" Air mata Kanaya mengalir. Perempuan itu sungguh sangat khawatir dengan Sandra.
Sean merebahkan tubuh Kanaya. Mengusap lembut kepalanya.
"Sean, jawab!" Kanaya memegangi kerah baju Sean. Ia sungguh sangat khawatir saat mendengar dari mulut Sean tentang Sandra yang dijual pada pria hidung belang dan akhirnya bunuh diri.
"Sean, jawab!" Kanaya semakin menangis melihat Sean yang terdiam.
"Sean–"
Sean menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Laki-laki itu naik ke atas ranjang, kemudian memeluk Kanaya yang menangis.
"Aku takut Sean. Aku takut terjadi apa-apa sama Sandra. Aku takut ...." Kanaya meluapkan tangisnya di dada Sean.
"Tenanglah! Semua akan baik-baik saja. Saat ini Sandra berada di rumah sakit. Dokter sedang menanganinya," jelas Sean menenangkan Kanaya. padahal, dalam hatinya, Sean pun sangat cemas dan panik.
Semoga kamu baik-baik saja di sana. Aku sungguh tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu padamu.
BERSAMBUNG ....
Maafkan daku, karena baru sempat update 🙏
__ADS_1
BAB BERIKUTNYA BERISI PROMO NOVEL TEMAN YA, JADI JANGAN PROTES KALAU TIBA-TIBA ADA NOTIF TRUS ISINYA TERNYATA PROMO 😀
Terima kasih buat kalian yang sudah membaca. Lope-lope sekebon ❤❤❤