Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 40 HAMIL


__ADS_3

Dokter yang memeriksa Kanaya ke luar dari ruangan. Laki-laki muda itu tersenyum saat melihat wajah-wajah panik di depannya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Sean segera mendekati sang dokter.


"Istri Anda baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat saja yang cukup," jelas dokter sambil menepuk pundak Sean.


"Istri Anda hanya kelelahan. Hal ini biasa terjadi pada awal kehamilan."


"Kehamilan?" Sean sangat terkejut mendengar ucapan dokter yang baru saja memeriksa Kanaya.


"Maksud Dokter, istri saya hamil?" 


"Iya. Saat ini, istri Anda sedang hamil. Tapi untuk lebih jelasnya, sebaiknya Anda membawa istri ke dokter Obgyn di rumah sakit ini.” Sang dokter kembali menjelaskan.


Sean menatap tak percaya pada dokter muda di depannya itu. Bahkan sampai dokter itu pergi dari hadapannya, Sean masih terdiam. Laki-laki itu menatap ke arah ayah dan ibu mertuanya.


Sepasang suami istri paruh baya itu juga sedang menatap Sean dengan tatapan tidak percaya.


 Mereka juga sangat terkejut mendengar ucapan dokter yang baru saja memeriksa Kanaya.


“Kanaya hamil, Bu, Ayah ….” Sean mendekat ke arah ibu mertuanya kemudian langsung memeluknya dengan raut wajah bahagia.


Tidak menyangka kalau istri keduanya itu kini sedang hamil. Sesuatu yang sangat diharapkan oleh Sandra dan dirinya dari awal ia menikahi Kanaya.


“Ayah sangat bahagia karena akhirnya Kanaya hamil juga. Sebentar lagi kita akan memiliki cucu, Bu.” Danu memeluk Rianti dengan bahagia. Rasa panik dan cemas yang tadi terlihat di wajah kedua orang tua itu kini menghilang sudah berganti dengan rasa haru dan bahagia mendengar kabar tentang kehamilan Kanaya.

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka. Terlihat seorang perawat mendorong kursi roda. Kanaya dengan wajah pucat berada di atas kursi roda tersebut.


"Saya akan membawa istri saya ke dokter Obgyn, Suster," ucap Sean membuat Kanaya menatap ke arahnya.


"Mari saya antar, Pak," sahut sang perawat ramah.


Mereka semua kemudian mengikuti langkah sang perawat menuju ruangan dokter spesialis kandungan.


***


Sandra berulang kali menghubungi Sean, tetapi, ponsel pria itu tidak aktif.


''Kemana dia sebenarnya? Kenapa ponselnya tidak aktif?'' gumam Sandra sedikit khawatir. Tidak biasanya, nomor ponsel suaminya itu tidak aktif.


Merasa penasaran, Sandra kembali mencoba menghubungi Sean. Akan tetapi, masih sama seperti tadi, ponsel suami tercintanya itu tidak aktif.


"Apa terjadi sesuatu sampai-sampai ponselmu tidak aktif?" ucap Sandra lirih. Tangannya masih memegang ponsel dengan tertera nama Sean pada layarnya.


Apa aku telepon Kanaya saja untuk memastikan kalau Sean baik-baik saja?


Tapi ... Sean bilang Kanaya tidak pernah mengabarinya sama sekali selama dia di Surabaya. Kalau aku menghubunginya sekarang dan menanyakan kabar Sean, dia pasti akan merasa kebingungan.


Sandra mendesah kesal. Perempuan itu merasa kesal karena tidak berhasil menghubungi Sean. Pria tampan yang menjadi suami tercintanya sekaligus menjadi suami sahabatnya.


Entah perasaan apa yang Sandra rasakan saat ini. Ia tidak tahu apakah keputusannya menikahkan Sean dengan Kanaya benar atau tidak, yang jelas, Sandra sangat berharap kalau semua rencananya akan berhasil agar dia bisa mengakhiri semua drama yang sedang ia mainkan saat ini.

__ADS_1


***


"Aku hamil?" Kanaya menatap pada dokter yang saat ini sedang memeriksanya. Perempuan cantik itu baru saja tes urine yang menunjukan garis dua pada tespeck yang kini masih dipegangnya.


Sementara itu, Sean tersenyum lebar. Ia sungguh tidak menyangka kalau perempuan yang kini duduk di sampingnya tengah hamil anaknya.


Belum sampai dua bulan Sean menikahi perempuan itu, tetapi ternyata benihnya langsung tumbuh di rahim Kanaya.


"Ternyata aku hebat juga. Seandainya saja Sandra mau punya anak, aku yakin, saat ini aku dan dia pasti sudah mempunyai anak yang lucu-lucu," ucap Sean dalam hati.


"Ya, saat ini ibu sedang hamil. Berdasarkan keterangan yang Ibu berikan saat terakhir menstruasi, usia kehamilan Ibu diperkirakan baru sekitar dua minggu," jelas dokter.


Kanaya menatap dokter cantik itu dengan rasa tak percaya.


"Jadi saya beneran hamil, Dokter?" Kanaya masih tidak percaya.


"Iya, Bu. Selamat ya." Dokter cantik itu menyalami Kanaya yang masih tidak percaya kalau dirinya saat ini sedang hamil.


Kanaya melirik ke arah Sean yang saat ini sedang tersenyum bahagia. Pria itu meraih tangannya dan menggenggamnya erat.


"Kalian bisa kembali lagi ke sini dua minggu lagi untuk pemeriksaan selanjutnya. Kita akan melakukan USG saat usia kehamilan sudah usia empat sampai lima minggu."


Kanaya dan Sean mendengarkan penjelasan dokter cantik di depannya itu.


"Tetap jaga kesehatan. Jangan terlalu lelah dan hindari stres, karena itu akan berpengaruh pada kesehatan calon bayi Anda."

__ADS_1


"Baik, Dokter."


BERSAMBUNG ....


__ADS_2