
Sandra mendekati Kanaya dengan panik saat melihat perempuan yang menjadi madunya itu meringis kesakitan.
Perempuan itu memegangi pinggang juga perutnya yang terasa mengencang.
"Kanaya! Kamu kenapa?" Sandra menatap panik ke arah Kanaya.
"Sakit, San. Perutku sakit sekali." Kanaya meringis sambil merintih kesakitan.
Sandra yang kebetulan menemani Kanaya periksa kehamilan dua Minggu yang lalu, merasa curiga kalau saat ini Kanaya akan melahirkan.
"Kalau dari prediksi dokter, HPL kamu minggu-minggu ini 'kan?" Sandra ikut meringis saat terdengar rintihan sahabatnya itu.
Perempuan itu kemudian berteriak memanggil Suparman dan Bi Marni.
"Suparman!"
"Iya, Non." Suparman tergesa-gesa mendekati Sandra. Napasnya ngos-ngosan karena laki-laki itu buru-buru berlari saat mendengar teriakan Sandra.
"Cepat siapkan mobil! Kanaya akan melahirkan!" Sandra berteriak panik. Apalagi, saat ia melihat cairan bening menetes di sela kaki Kanaya.
Dengan dibantu oleh Bi Lasmi, Sandra memapah Kanaya menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Suparman.
"Jangan lupa bawa perlengkapan bayi yang sudah aku siapkan!" Sandra kembali berteriak. Ia membantu Kanaya masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, Bi Lasmi berlari ke dalam rumah mengambil tas berisi perlengkapan bayi yang sudah jauh-jauh hari dipersiapkan oleh Sandra dan Kanaya.
"Kunci pintunya, Bi! Kita ke rumah sakit sekarang!" Suara Sandra kembali menginterupsi.
Perempuan itu benar-benar merasa sangat panik melihat keadaan Kanaya apalagi saat ini tidak ada Sean di samping mereka.
Bi Lasmi mengunci pintu sesuai perintah majikannya. Asisten rumah tangga kepercayaan Sean itu kemudian berlari menuju mobil setelah mengunci pintu.
Perempuan itu masuk ke dalam mobil. Berteriak pada suaminya agar menjalankan mobilnya dengan segera. Bi Lasmi mengunci pintu gerbang kemudian bergegas masuk ke dalam mobil.
Kuda besi beroda empat itu melaju dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.
"Bertahanlah, Naya. Kamu pasti kuat!" Sandra menggenggam tangan Kanaya. Air matanya turun membasahi pipi mulusnya.
Perempuan yang berpura-pura hamil itu, terlihat ketakutan melihat wajah pucat Kanaya. Ia sungguh tidak tega melihat wajah kesakitan sahabatnya.
"Sakit, San ... sakit," rintih Kanaya.
"Sabar, Nay. Kamu pasti kuat." Sandra menangis.
"Non Sandra, sudah menghubungi Den Sean belum?" Suara Bi Lasmi terdengar dari jok belakang.
"Ya, Tuhan ... aku lupa, Bi!"
__ADS_1
Sandra mengeluarkan ponsel dari saku bajunya.
"Lebih cepat lagi, Mang! Kanaya sudah kesakitan!" teriak Sandra sambil menempelkan benda pipih di telinganya. Menunggu panggilan teleponnya diangkat oleh Sean.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara suaminya menyapa.
"Sean!"
"Iya, Sayang, ada apa?"
"Cepat pulang! Kanaya akan melahirkan!"
"Apa?!"
Sean sangat terkejut saat mendengar suara Sandra di seberang telepon.
"Aku akan pergi ke sana. Kamu cepat bawa dia ke rumah sakit!" Sean berteriak panik.
"Aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit!" Sandra ikut berteriak. Sepasang suami istri itu benar-benar merasa panik dan ketakutan.
Terutama Sandra, seumur-umur baru kali ini ia melihat perempuan yang akan melahirkan. Air matanya turun saat melihat Kanaya terus meringis dan merintih.
"Sebutkan di mana rumah sakitnya, aku akan segera menyusulmu ke sana!"
Sean bergegas keluar dari ruangannya. Pria itu dengan terburu-buru memberitahukan sekretarisnya kalau ia akan pergi karena ada keadaan darurat yang terjadi.
"Gantikan semua tugasku di sana, Wulan! Aku mempercayaimu!" teriak Sean saat dirinya sudah sampai di dalam mobil.
Perempuan cantik bernama Wulan itu mengangguk. Deru napasnya memburu karena sedari tadi wanita itu berlari di belakang Sean sambil mencatat apa saja yang dikatakan oleh bos tampannya itu.
Wulan menghela napas panjang. Menetralkan deru napasnya yang masih naik turun.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Pak Sean? Kenapa dia terlihat begitu panik dan terburu-buru?" batin Wulan kepo.
Sean langsung tancap gas, melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit yang disebutkan oleh Sandra.
"Kalau tahu kamu akan melahirkan hari ini, aku pasti tidak akan pergi ke kantor," sesal Sean sambil memukul setir.
Laki-laki itu sungguh menyesal karena masih terus saja memikirkan pekerjaan padahal, usia kandungan Kanaya sudah menginjak sembilan bulan dan hanya tinggal menunggu waktu kelahirannya saja.
"Semoga kamu baik-baik saja, Nay."
***
Sandra sudah sampai di rumah sakit. Kanaya baru saja masuk ke dalam ruangan bersalin. Dokter mengatakan, kalau sebentar lagi Kanaya akan melahirkan. Hanya tinggal menunggu pembukaan sepuluh saja.
Sandra mengangguk mengerti. Perempuan itu menyerahkan semuanya pada dokter.
__ADS_1
"Lakukan semua yang terbaik untuk mereka, Dokter!
Sandra yang mengenakan masker yang menutupi wajah cantiknya, menjabat tangan sang dokter. Kedua matanya penuh harap.
Sungguh! Saat ini dia benar-benar takut kalau terjadi sesuatu pada Kanaya da bayinya.
"Ibu tenang saja, tim kami akan melakukan apa pun agar sang ibu dan calon anaknya sehat dan selamat."
Sandra mengangguk saat dokter perempuan itu masuk ke dalam ruang bersalin.
Sandra mendekati Bi Lasmi. Model cantik itu memeluk asisten rumah tangganya sambil menangis.
"Aku takut, Bi. Takut terjadi apa-apa pada Kanaya."
"Non Sandra tenang saja, Non Kanaya pasti baik-baik saja. Kita doakan agar Non Kanaya dan bayinya baik-baik saja."
"Tapi Naya sangat kesakitan tadi, Bi. Aku takut terjadi apa-apa sama dia." Kembali Sandra mengungkapkan kekhawatirannya pada Kanaya.
Wanita cantik itu menangis.
"Setiap perempuan yang akan melahirkan akan merasakan kesakitan, Non. Awalnya memang sangat sakit, tetapi, kesakitan itu akan berubah menjadi kebahagiaan saat buah hati yang ditunggu akhirnya lahir ke dunia." Bi Lasmi memeluk sang majikan. Mengusap punggung Sandra yang masih terisak.
Awalnya, perempuan yang bekerja untuk Kanaya itu mengira kalau Kanaya dan Sean adalah suami istri yang sah. Namun, perempuan itu sangat kaget saat melihat Sandra dan Sean tidur sekamar.
Seiring waktu berjalan, Bi Lasmi dan suaminya baru mengetahui, kalau ternyata Kanaya itu adalah istri kedua yang dinikahi oleh Sean secara siri.
Sedangkan Sandra, wanita yang memperkerjakannya di rumah Kanaya itu ternyata adalah istri sahnya Sean alias istri pertamanya.
Namun, Bi Lasmi sungguh merasa salut dengan kedua wanita itu. Keduanya hidup rukun, tanpa ada pertengkaran. Mereka bahkan sering bercanda dan menghabiskan waktu bersama.
Sandra mengeratkan pelukannya. Semua kalimat yang diucapkan oleh Bi Lasmi seolah menamparnya.
Kanaya bahkan rela mengorbankan nyawa untuk melahirkan anaknya. Sedangkan aku, aku akan menjadi orang yang sangat jahat saat aku mengambil anak itu dari dia.
BERSAMBUNG ....
Jangan lupa, mampir juga di novel punya temen Author ya,
"Aku belajar menerima dan mencintai mu dengan sepenuh jiwa, tapi kau malah main belakang dengan kakakku"
Kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali, dengan matanya ia melihat sang kakak berada dalam kungkungan suaminya. Rasa bergetar, panas, dingin semua menyatu merasuk dalam jiwa hingga membentuk menjadi amarah, dendam dan rasa ingin menghancurkan yang besar.
Akan tetapi kenyataan lain menampar kesadarannya, kenyataan yang membuat seluruh sarap kewarasannya menoleransi semuanya.
Akankah Namira bertahan dan menerima semuanya begitu saja?
__ADS_1