Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
108 AKU SUDAH LELAH


__ADS_3

"Sean, ayo kita bercerai!"


"Apa?"


"Bercerai. Aku akan menuruti kata mama. Mulai sekarang, aku tidak mau lagi menjadi istrimu." Sandra menatap laki-laki di depannya yang tampak terkejut mendengar ucapannya.


Sedangkan Sean, menatap tak percaya pada istri pertamanya itu.


Baru kemarin, perempuan itu menangis, memohon agar ia tidak menceraikannya, tetapi, sekarang Sandra sendiri yang malah ingin bercerai dengannya.


Sean menghela napas panjang.


"Bercerai? Apa kamu yakin? Bukankah kamu sendiri yang kemarin memohon padaku agar aku tidak menuruti mama untuk menceraikanmu?"


"Kenapa sekarang kamu malah berubah pikiran?" lanjut Sean. Netranya memindai wajah Sandra yang tampak pucat. Perempuan itu bahkan terlihat meringis dan memegangi perutnya.


"Karena sekarang aku baru sadar, tidak semua orang bisa mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Selama ini aku selalu memaksamu untuk melakukan sesuatu yang bahkan tidak kamu sukai hanya karena kamu tidak ingin menyakiti aku." Sandra menjelaskan panjang lebar.


"Aku egois! Aku selalu mementingkan keinginan aku sendiri. Aku selalu memaksamu untuk mengikuti apa yang aku mau tanpa memedulikan perasaan kamu. Maaf!" Sandra terisak.


"Maafkan aku karena aku selalu membuatmu susah."


"Sandra. Apa yang kamu katakan? Kenapa kamu bicara seperti itu?" Sean berusaha mendekati perempuan yang masih sah menjadi istrinya itu.


"Jangan menyentuhku!"


"Sandra, aku masih suamimu!" Sean berteriak kesal.


"Aku tahu Sean. Kamu adalah suamiku. Tapi aku benar-benar tidak ingin kamu menyentuhku!"


"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? Aku hanya ingin memelukmu. Biar bagaimanapun, kamu masih sah menjadi istriku." Sean tidak bisa menerima alasan Sandra.


Laki-laki itu cukup kaget saat perempuan ambisius itu menolaknya.

__ADS_1


Pasalnya, Sandra baru kemarin dengan tegas menolak keinginan mama untuk bercerai. Lalu, kenapa wanita itu sekarang ingin sekali bercerai?


Sean menatap Sandra dengan serius.


"Kamu sedang sakit tapi masih sempat-sempatnya berbicara tentang perceraian. Lagipula, Kenapa tiba-tiba kamu ingin bercerai?" Sean menatap tajam ke arah Sandra.


"Karena aku sudah tidak pantas lagi menjadi istrimu, Sean."


"Sandra–"


"Aku serius, Sean. Aku benar-benar ingin bercerai denganmu!" teriak Sandra penuh keyakinan.


Sean masih tidak percaya mendengar ucapan Sandra. Laki-laki itu memindai wajah cantik Sandra yang terlihat pucat.


"Ada apa? Apa karena kejadian hari ini membuatmu tidak nyaman? Kamu trauma terhadap–"


"Aku tidak bisa menjadi istrimu lagi, karena itu aku ingin bercerai. Kemarahan mama dan kamu kemarin, membuat aku sadar, kalau aku tidak lagi diinginkan. Apalagi, saat ini kamu sudah mempunyai seseorang yang bisa memberikan kamu anak," jelas Sandra dengan bibir bergetar.


Hatinya sungguh tidak rela. Akan tetapi, keputusannya sudah bulat. Keputusan yang baru beberapa saat lalu terlintas di pikirannya.


"Kamu sangat tahu kenapa mama dan aku marah padamu, bukan? Ada alasan kuat kenapa aku dan mama sangat marah padamu." Sean menatap istrinya.


Bercerai dengan Sandra adalah salah satu hal yang terlintas di benaknya kemarin. Bukan karena sudah tidak cinta pada perempuan itu, hanya saja, Sean lelah.


Sean kecewa karena setelah bertahun-tahun, perempuan itu justru tidak pernah menganggap dirinya penting.


Sandra tetap lebih memilih karir bahkan di saat Nathan, bayi kecil yang Sandra angkat menjadi anaknya itu sangat membutuhkannya.


Laki-laki itu masih menatap Sandra yang saat ini sedang menangis.


"Kamu masih belum pulih, setelah pulih, kita bicarakan lagi."


"Tidak Sean, aku–"

__ADS_1


"Sandra, memang benar apa yang kamu pikirkan. Perpisahan memang mungkin jalan yang terbaik buat kita." Sean menjeda ucapannya. Menatap Sandra yang semakin menangis.


"Selama ini aku selalu mengalah padamu. Memberikan semua keinginan kamu, termasuk menikahi Kanaya." Sean kembali berbicara dengan suara berat.


Netranya tetap tidak berpaling dari wajah Sandra.


"Sandra, keadaan kamu belum pulih. Kita bisa membicarakan ini lagi nanti, setelah kamu sembuh."


Sandra terdiam mendengar ucapan Sean. Hatinya bagai dihantam palu besar saat pria itu mengatakan isi hatinya.


Dia yang menginginkan bercerai, tetapi, kenapa dia yang sangat terluka?


''Apa yang kamu alami hari ini pasti sangat berat untukmu. Maafkan aku karena aku tidak bisa menolongmu di saat kejadian. Maaf!" Sean menatap Sandra dengan penuh penyesalan.


Sedangkan Sandra hanya bisa menangis. Ucapan yang baru saja keluar dari mulut Sean dan juga kejadian hari ini membuat hati Sandra berdenyut nyeri.


Tidak pernah terbayangkan di benak Sandra, kalau dia akan mengalami hal seperti ini. Apalagi, saat pria brengsek itu ingin memperkosanya.


Sandra sudah terbiasa hidup enak. Apalagi, saat dirinya menikah dengan Sean enam tahun yang lalu. Karirnya semakin bagus dengan dukungan suaminya.


Hari-harinya selalu diliputi oleh kebahagiaan. Mendapatkan semua yang dia inginkan, ketenaran, kemewahan, suami yang tampan dengan kekayaan yang tidak akan pernah habis tujuh turunan.


Namun, kebahagiaan itu lenyap seketika. Apa yang dilakukan oleh Maya dan pria itu menghancurkan hidupnya.


Sedangkan nasib rumah tangganya dengan Sean, Sandra merasa seperti di ujung tanduk. Rencana yang awalnya berjalan dengan lancar tanpa hambatan, ternyata berakhir dengan kemarahan kedua mertuanya.


Sementara Sean, pria itu juga ikut marah saat dirinya lebih mementingkan karir dibandingkan keluarga. Seperti yang diucapkan Sean tadi, dia lelah.


Lelah karena selama enam tahun ini, dia terus mengalah dan selalu mengikuti keinginan Sandra.


"Maafkan aku karena aku lengah menjagamu." Kata-kata Sean membuyarkan lamunan Sandra.


"Kamu harus pulih, agar kamu bisa menjadi saksi di pengadilan nanti. Aku akan membuat mereka menyesal seumur hidup karena sudah berani menyentuhmu!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2