
"Nathan, nama dari bayi yang dilahirkan oleh Kanaya. Dari semalam dia menangis. Kami sudah memberikan Asi yang ditinggalkan Kanaya sebelum pergi, tapi Nathan tetap menangis," jelas Sean menjelaskan kondisi putranya semalam.
Dia juga menceritakan bagaimana paniknya ia dan Sandra karena Nathan tidak berhenti menangis sampai tengah malam.
"Aku rasa dia sangat membutuhkan ibunya." Sean kembali melanjutkan ucapannya sambil menatap kedua orang tua yang masih menjadi mertuanya itu.
Danu dan Riyanti saling berpandangan. Mereka akhirnya mengerti kenapa Sean mencari Kanaya.
"Jadi maksudmu, kamu mencari Kanaya karena kalian tidak bisa mengurus bayi itu?"
Kata-kata Danu langsung menohok di hati Sean. Akan tetapi, pria itu segera menjawab pertanyaan Danu. Mungkin benar, Sean memang membutuhkan Kanaya demi putranya.
Namun, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Sean bukan hanya membutuhkan Kanaya untuk Nathan, tetapi juga untuk dirinya. Sean sangat mencintai Kanaya, dan itu memang benar.
Perasaan cintanya pada Kanaya membuat Sean ingin tetap menjadikan wanita itu sebagai istrinya.
"Bukan begitu, Ayah. Bukan hanya demi Nathan, tapi juga buat aku sendiri. Aku mencintai Kanaya, Ayah." Sean menatap Danu yang terus menatapnya dengan tajam.
Mendengar ucapan Sean, Danu semakin naik darah. Riyanti yang berada di sampingnya kembali menenangkannya.
"Sean, kamu bilang kamu mencintai Kanaya. Seandainya perasaan yang kamu rasakan itu benar, lalu bagaimana dengan Sandra? Apa kamu tidak memikirkan perasaannya?" Riyanti juga ikut menatap Sean dengan tajam. Entah perasaan apa yang dirasakan oleh Riyanti.
Jika memang benar Sean mencintai Kanaya, laku bagaimana dengan Sandra? Jangan bilang, kalau pria itu ingin memiliki kedua istrinya?
Sean terdiam mendengar ucapan Riyanti. Memang benar apa yang dikatakan oleh Riyanti. Semenjak menyadari perasaannya pada Kanaya, Sean memang selalu memikirkan bagaimana caranya ia berbicara dengan Sandra tentang Kanaya.
__ADS_1
Namun, meskipun Sean sangat mencintai Kanaya, ia juga tidak mungkin meninggalkan Sandra karena Sean juga sangat mencintai istri pertamanya itu.
"Jangan bilang, kalau kamu ingin memiliki mereka berdua?" Danu menatap Sean dengan tatapan menyelidik. Sementara itu, Sean langsung menundukkan kepalanya.
"Maaf!" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Sean. Pria itu langsung tidak berkutik di hadapan mertuanya.
"Jadi benar? Saat ini kamu memang menginginkan mereka berdua?" Rahang Danu mengeras mendengar ucapan Sean.
"Maaf, Ayah. Aku memang belum memutuskan mana yang harus aku pilih. Tapi, aku benar-benar tidak ingin kehilangan keduanya. Mereka berdua sama-sama berarti. Aku mencintai mereka–" Sean tidak bisa melanjutkan ucapannya saat sebuah tinju dengan cepat mendarat pada wajah tampannya.
"Brengsek! Kamu pikir kamu siapa? Beraninya ingin mempermainkan putriku?" teriak Danu.
"Mas!" Riyanti segera menghalangi Danu saat pria itu ingin kembali menghajar menantunya.
"Tenanglah! Ingat penyakit kamu, Mas. Jangan sampai membuat pengorbanan Kanaya sia-sia." Lagi, kata-kata itu Riyanti ucapkan untuk menyadarkan Danu.
"Sebaiknya kamu pulang, Sean. Lagipula, Kanaya tidak ada di sini, jadi percuma saja kamu mencarinya di sini," ucap Riyanti dengan nada kecewa.
"Ibu–"
"Pergilah! Ibu tidak ingin terjadi apa-apa pada suami ibu jika kamu tetap memaksa berada di sini." Ucapan Riyanti membuat Sean menatap ibu mertuanya dengan wajah terkejut.
Pandangannya beralih pada Danu. Wajah lelaki tua yang sangat dihormatinya itu sudah memerah karena amarah. Memang benar apa yang dikatakan oleh Riyanti. Ayah mertuanya itu bisa saja tiba-tiba kambuh kalau ia terus saja memancing amarahnya.
"Pergilah!" Riyanti kembali mengusir Sean. Ia tidak mau Danu semakin marah jika pria yang masih menjadi menantunya itu tetap berada di rumahnya.
__ADS_1
Sean mengangguk, kemudian bangkit dari duduknya. Wajah tampannya terlihat kecewa.
"Apa Kanaya benar-benar tidak ada di sini, Bu?" tanya Sean lirih.
"Kanaya sudah pergi pagi-pagi sekali. Dia bilang, dia akan menenangkan pikiran. Kanaya tidak ingin bertemu dengan kamu dan Sandra untuk sementara waktu," jawab Riyanti, membuat Sean menatapnya tak percaya.
"Jika kamu memang benar mencintainya, tolong hormati keputusannya. Kanaya juga manusia biasa yang mempunyai hati dan perasaan, Sean. Selama setahun ini, Kanaya tidak baik-baik saja."
"Ibu ...." Kata-kata ibu mertuanya, tepat menghujam jantungnya.
"Maafkan aku, Ibu. Maaf! Semua ini memang salahku. Seandainya aku lebih tegas pada Sandra, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Maafkan aku ...." Sean menatap kedua orang paruh baya di depannya itu dengan tatapan penuh penyesalan.
Sean sungguh menyesal, karena perbuatannya dan Sandra, kedua orang baik di depannya itu menanggung luka. Bukannya hanya mereka, Kanaya juga. Perempuan itu saat ini pasti sedang bersedih karena ia dan Sandra telah mengambil bayi yang baru dilahirkannya.
"Pergilah, Sean! Biarkan Kanaya bahagia dengan pilihannya."
***
Kedua orang paruh baya yang masih terlihat tampan dan cantik itu masuk ke dalam sebuah mobil mewah yang menjemput mereka di Bandara Internasional.
"Kita pulang ke rumah Sean, Pa. Mama sudah tidak sabar ingin melihat cucu mama."
Laki-laki di sebelah perempuan itu mengangguk sambil tersenyum. Sama seperti istrinya, Ibrahim pun tidak sabar ingin melihat cucunya.
"Kita ke rumah Sean."
__ADS_1
"Baik, Pak."
BERSAMBUNG ....