
Sean dengan gelisah menatap jalanan dari balik kaca mobil. Laki-laki itu saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Sean pergi ditemani Suparman. Kanaya melarangnya membawa mobilnya sendiri karena merasa khawatir. Takut kalau dirinya tidak bisa konsentrasi saat di jalan karena memikirkan Sandra.
Mengingat Kanaya dan Sandra, Sean merasa dilema. Semenjak Sandra tetap lebih mementingkan karir dibandingkan dirinya dan Nathan, Sean merasa kesal pada istrinya itu.
Laki-laki itu merasa lelah karena harus dan selalu menuruti keinginan wanita itu. Enam tahun adalah waktu yang cukup lama untuk Sean bersabar menghadapi Sandra.
Kini, dia tidak akan lagi terus menuruti keinginan wanita itu. Sandra sesekali harus diberi pelajaran, agar dia sadar, apa tugas istri yang sebenarnya. Apalagi, dia adalah menantu keluarga Ibrahim.
Akan tetapi, saat mengetahui kejadian yang menimpa Sandra, Sean merasa menyesal. Selama ini, tanpa sepengetahuan Sandra, orang-orang suruhannya selalu mengikuti kemanapun Sandra pergi.
Mereka menjaga istrinya dari jauh. Sean memperketat penjagaan saat karir Sandra mulai menanjak. Orang-orang suruhannya itu Sean tugaskan menjaga Sandra dari orang-orang yang akan berbuat jahat pada istrinya.
Namun, akibat kekesalannya kemarin, Sean menyuruh anak buahnya untuk berhenti mengawasi Sandra. Tidak disangka, keputusannya untuk menghentikan penjagaan terhadap Sandra, malah berujung celaka.
Tidak ada yang mengawasi Sandra, membuat orang-orang yang ingin mencelakai istrinya bisa bergerak bebas. Termasuk Maya, yang memang sudah menjadi target Sean dari awal.
Gara-gara emosinya pada Sandra, Sean membuat Maya dengan leluasa mencelakai Sandra.
Sean menghela nafas panjang. Tidak pernah menyangka kalau keputusannya menghentikan orang-orang suruhannya itu justru membuat Sandra mengalami hal tak terduga seperti ini.
Sandra ... demi melindungi harga diri dan martabatnya sebagai seorang perempuan sekaligus istri, dia lebih memilih mengakhiri hidupnya daripada harus melayani laki-laki lain yang bukan suaminya.
Maafkan aku, Sayang ....
__ADS_1
Sean mengepalkan tangannya erat. Beberapa menit yang lalu, orang suruhannya sudah mengirimkan kabar tentang siapa saja orang yang terlibat dalam masalah yang menimpa Sandra.
Saat ini, mereka bahkan sudah menangkap ketiga orang yang menjadi dalang dari penyebab Sandra nekad bunuh diri.
Mereka sengaja menyisakan satu orang yang menyebabkan Sandra nekad berniat mengakhiri hidupnya. Seseorang yang ingin memperkosa Sandra, Bagas.
Sean menyuruh orang-orangnya mengawasi Bagas, tetapi, tidak menangkapnya seperti Alex, Hans dan Maya. Laki-laki yang telah berani ingin menyentuh istrinya itu biar nanti Sean sendiri yang mengurusnya.
***
Bagas menatap wajah pucat Sandra yang terbaring di ranjang rumah sakit. Wajah perempuan itu sangat cantik meskipun tanpa makeup.
Bagas menarik nafas dalam-dalam kemudian, menghembuskannya perlahan. Netranya tak beralih pada Sandra.
Maafkan aku. Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini. Seandainya aku tahu dari awal kalau kamu bukanlah wanita seperti yang dikatakan oleh Maya, aku pasti tidak akan menyentuhmu.
Seandainya dia tidak selamat, seumur hidup, aku pasti akan menyesalinya. Untung saja lukanya tidak terlalu dalam.
Bagas masih menatap Sandra yang belum sadarkan diri. Saat ini, selain menunggu Sandra bangun, dia juga sedang menunggu suaminya Sandra, alias Sean.
Bagas akan meminta maaf pada pria itu. Selanjutnya, terserah dia mau melakukan apa padanya. Bagas sudah siap dengan resiko yang akan ia dapatkan saat bertemu dengan Sean.
Setelah ini, Bagas sudah bisa memprediksi bagaimana nasibnya di tangan Sean. Bagas hanya berharap, semoga saja sebelum Sean datang, Sandra sudah terlebih dulu bangun agar dia bisa meminta maaf langsung pada wanita itu.
"Bangun, Sandra. Aku minta maaf karena aku sudah menyebabkan kamu seperti ini. Kalau aku tahu dari awal Maya menjebakmu, aku tidak mungkin melakukan itu padamu," ucap Bagas dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
"Aku menyesal karena aku sudah membuatmu seperti ini. Aku sungguh-sungguh menyesal, Sandra." Bagas terus menatap perempuan itu dengan rasa bersalah. Tangannya terkepal, mengingat Maya yang sudah menjebak dirinya dan Sandra juga kedua temannya.
*Tidak disangka, perempuan itu ternyata begitu jahat dan licik. Menipuku dan kedua temanku, lalu menjual sahabatnya sendiri hanya demi uang.
Kenapa orang seperti Sandra bisa mempunyai teman dalam selimut seperti Maya*?
Bagas masih setia menunggu Sandra tersadar dari pengaruh obat. Laki-laki itu bangkit mendekati ranjang, saat melihat Sandra mulai menggerakkan tangan dan perlahan membuka matanya.
Bagas segera mendekat, menatap Sandra yang saat ini sedang menyesuaikan pandangannya yang mengabur.
"Kamu sudah sadar?" Bagas menatap dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Kamu!" Sandra melotot dengan wajah bertambah pias dan ketakutan.
"Tenang, Sandra aku tidak akan melakukan apa pun padamu. Aku hanya ingin minta maaf," ucap Bagas sungguh-sungguh.
"Kalau Maya tidak menjebak kita, aku tidak akan pernah melakukan perbuatan itu padamu," lanjut Bagas
"Aku minta maaf. Aku–"
"Jangan sentuh istriku!"
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....