
Setelah menghukum Maya dengan tangannya sendiri, Sandra memutuskan pergi dari sana. Perempuan itu menangis, merasa patah hati dengan apa yang sudah terjadi dalam hidupnya.
Sean tidak bisa melakukan apa-apa selain menyuruh orang-orang untuk menjaga perempuan yang terus memaksa untuk bercerai darinya itu.
Semenjak kejadian yang menimpanya, Sandra susah di dekati. Wanita itu tidak mau sekali menemui Sean saat laki-laki itu memaksa untuk bertemu.
Beberapa hari setelah Sandra menghukum Maya, perempuan itu kemudian digelandang ke kantor polisi setelah Sean dan Sandra memberikan laporan tentang kejahatan Maya.
Saat ini, Sandra sudah bersiap ke pengadilan agama untuk mengurus surat gugatan cerai. Wanita itu sudah memutuskan untuk tetap bercerai dengan Sean meskipun dirinya masih sangat mencintai pria itu.
Namun, sebelum Sandra ke pengadilan, model cantik itu ingin menemui Kanaya terlebih dahulu di rumah Sean. Sandra ingin mengatakan sesuatu pada Kanaya sebelum dirinya benar-benar pergi jauh dari Sean.
Ya! Sandra memutuskan untuk pergi setelah melayangkan surat gugatan cerai.
***
Sandra memasuki rumah besar yang biasa dia tinggali bersama Sean. Namun, sejak Sandra menyuruh Sean menikah lagi dengan sahabatnya, Sandra juga seringkali membawa Kanaya ke rumah itu.
Kedatangan Sandra membuat Kanaya yang sedang asyik menyusui Nathan sangat terkejut sekaligus bahagia. Setelah hampir sebulan lamanya, sahabatnya itu akhirnya pulang juga.
Kanaya sudah menyuruh Sean agar menyuruh istri pertamanya itu pulang ke rumah, tetapi, Sandra selalu menolaknya. Perempuan itu bahkan tidak mau sama sekali beertemu dengan Sean.
Menurut Sean, keputusan Sandra untuk bercerai juga sudah tidak bisa diganggu gugat. Wanita itu sudah memutuskan untuk tetap bercerai dengan Sean apapun alasannya.
Mendengar perkataan suami sirinya itu, Kanaya tidak bisa berkata atau melakukan apapun. Apalagi, Sandra begitu sulit untuk dihubungi. Setiap kali dirinya mencoba menelepon, panggilan teleponnya tidak pernah tersambung.
Perempuan itu sepertinya benar-benar tidak ingin orang-orang yang berhubungan dengan Sean mengganggunya.
"Sandra."
"Naya."
Sandra mendekati Naya yang tampak terkejut melihatnya. Sahabat yang ia pilih sebagai madunya itu, saat ini sedang menyusui putranya. Darah daging Sean yang sudah Sandra akui sebagai anaknya.
Namun, karena rahasianya terbongkar, Sandra akhirnya memutuskan untuk memberikan bayi mungil itu pada Kanaya. Lagipula, kedua orang tuanya Sean sudah tahu kalau anak itu adalah Kanaya dengan Sean. Jadi, meskipun dulu Sandra sudah membayar Kanaya dan mempunyai kesepakatan tentang anak itu, tetap saja perempuan itu akhirnya kalah.
__ADS_1
Sandra kalah bahkan sebelum dirinya menikmati keberhasilan rencananya. Rencana bodoh yang diatur oleh Maya karena wanita itu memang sengaja ingin menghancurkan Sandra secara perlahan dan tanpa disadari oleh Sandra sendiri.
Entah motif kebencian apa yang Maya sembunyikan, hingga gadis itu begitu membenci Sandra dan ingin menghancurkan wanita yang telah menjadi sahabatnya bertahun-tahun itu sampai hancur tak bersisa.
"Kamu kemana saja, San, aku sangat khawatir padamu." Kanaya menatap sahabatnya itu dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir." Sandra menatap Kanaya, meyakinkan wanita di depannya itu kalau dirinya saat ini baik-baik saja.
Meskipun kenyataannya, saat ini hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Bagaimana keadaan Nathan?" Sandra menatap bayi mungil yang kini tampak tertidur di gendongan Kanaya.
"Dia baik-baik saja." Kanaya tersenyum melihat Sandra mencium pipi Nathan.
"Dia memang lebih cocok tinggal bersama ibunya. Maafkan aku karena selama ini aku terlalu egois ingin memilikinya dengan paksa."
"Sandra–"
"Terlepas dari perjanjian kita di masa lalu, awalnya aku benar-benar ingin merawat dia. Tapi, gara-gara hasutan Maya, aku malah menandatangani beberapa kontrak dan memutuskan bekerja kembali tanpa sepengetahuan Sean." Sandra menunduk, menyesali semua perbuatannya.
"Tuhan tidak rela aku menyakiti kamu terus menerus," lanjut Sandra dengan penuh sesal.
"Sandra–"
"Aku minta maaf, Nay, aku harap, kamu mau memaafkan semua kesalahanku." Model cantik itu menangis.
"Maafkan aku."
"Kamu tidak salah, Sandra, karena kamu tidak bersalah. Kalau aku tidak bersedia membantumu, aku juga tidak akan terjebak masuk ke dalam keluargamu." Kanaya ikut terisak.
"Aku bersalah padamu karena memaksamu untuk membantumu dengan sebuah ancaman."
"Seharusnya, aku tidak memanfaatkan kesulitan kamu untuk memenuhi keegoisanku. Mama Rosie benar, aku adalah wanita yang tidak pantas berada dalam keluarga Ibrahim." Tangis Sandra pecah. Sementara itu, Kanaya menggeleng pelan dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Aku akan bercerai dengan Sean. Setelah itu, berjanjilah, kalau kalian berdua akan bahagia setelah aku pergi dari kehidupan kalian." Kalimat itu keluar seiring rasa sakit di hati Sandra.
__ADS_1
"Tidak, Sandra. Apa kamu lupa tujuan kamu menikahkan aku dengan Sean?" Kanaya mengingatkan.
"Menikahlah dengan Sean secara resmi setelah aku bercerai dengannya." Sandra tidak memedulikan perkataan Kanaya.
"Sandra–"
"Demi Nathan, Naya."
Kanaya menggeleng. Air mata masih membasahi pipinya. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini.
"Aku tidak mungkin menikah dengan Sean secara resmi, Sandra."
"Kenapa, Nay? Kenapa tidak bisa?" Sandra menatap sahabatnya dengan air mata berlinang.
"Aku tidak mungkin merebut semua yang menjadi milikmu. Sean adalah milikmu, Nathan juga milikmu!"
Sandra menggeleng pelan.
"Sean bukan lagi milikku sepenuhnya semenjak dia juga menjadi suamimu, Naya." Sandra mengusap air matanya dengan kasar.
"Apa maksudmu?" Kanaya menatap Sandra dengan bibir bergetar.
"Bukankah kamu sendiri yang mengatur pernikahan kami? Kamu sendiri yang mengatakan padaku, kalau menikah dengan Sean hanyalah pekerjaan untuk mendapatkan anak. Kamu rela berbagi Sean denganku sampai aku hamil, dan aku menuruti semua maumu, Sandra. Lalu, kenapa sekarang kamu seolah-olah ingin menyalahkan aku?"
"Bukan itu yang aku maksud, Nay."
"Lalu?" Air mata Kanaya luruh rasa sakit mulai menyerang hatinya.
Sementara itu, Sandra menelan saliva. Haruskah dia mengatakan sesuatu yang dia ketahui sekarang? Haruskah dia mengatakan kalau dirinya mengetahui semua yang dua orang itu rahasiakan?
BERSAMBUNG ....
Halo reader kesayangan ... maafkan Author yang beberapa hari ini nggak bisa update. Tiga hari ini, Author sakit, nggak bisa nulis. Jangankan mau nulis, lihat layar ponsel saja rasanya kepalanya berputar-putar.
Terima kasih buat yang masih stay nungguin kisah Sean dan Kanaya, lope-lope sekebon buat kalian ❤❤❤❤
__ADS_1