Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 99 TOLONG AKU


__ADS_3

Sandra membuka tasnya, kemudian mengeluarkan satu botol minuman dingin rasa jeruk yang dia beli sebelum masuk ke dalam kamar hotel.


"Maaf, May, aku sudah punya minuman sendiri." Sandra memperlihatkan minuman itu pada Maya. Model cantik itu kemudian membuka tutup botol minuman itu kemudian meminumnya hingga minuman itu tinggal separuh.


Maya dan ketiga lelaki itu saling berpandangan.


"Saat mau ke sini tadi, aku merasa haus, jadi aku memutuskan untuk membeli minum dulu," jelas Maya. Sandra merasa tidak enak karena sudah menolak pemberian Maya.


Memang benar kata Maya, jus mangga adalah minuman kesukaannya, tetapi, saat Sandra memilih minuman lainnya, maka jus itu pun tidak akan disentuhnya lagi.


"Baiklah! Aku tidak memaksa kalau kamu memang tidak mau." Maya terlihat kecewa, tetapi perempuan itu menutupinya dengan sebuah senyuman di wajahnya.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita langsung saja pada inti pertemuan ini?" Sandra yang merasa jengah dengan ketiga pria di hadapannya langsung membuka pembicaraan.


"Nona sungguh tidak sabaran." Seseorang yang bernama Alex menatap Sandra dari atas sampai ke bawah. Laki-laki itu menelan saliva saat melihat tubuh Sandra yang membuat libidonya langsung naik.


"Bisakah kita langsung membicarakan tentang pekerjaan? Waktuku tidak banyak. Setelah ini, aku ada janji dengan klien yang lain. Benar, 'kan, May?" Sandra melirik ke arah sang manager yang terlihat gugup.


"Setelah pulang dari sini, kamu ada janji bertemu dengan Nyonya Martha. Dia ingin kamu menjadi ambassador produk kecantikan milik perusahaannya," jelas Maya. Kedua netra perempuan itu melirik ketiga laki-laki yang kini sedang menatapnya.


"Mari kita mulai membahas pekerjaan." Sandra duduk manis di atas sofa. Menunggu ketiga orang itu berbicara.


Satu persatu, ketiga orang itu menjelaskan pada Sandra dan Maya apa yang mereka inginkan. Ketiganya membahas pekerjaan seperti rencana awal. Akan tetapi, beberapa menit kemudian, suasana berubah.


Satu pria di antara mereka yang bernama Bagas menunjukkan gelagat yang tidak biasa. Pria berwajah lumayan tampan itu terlihat gelisah.

__ADS_1


"Lu kenapa?" Hans menatap Bagas dengan heran.


"Gue minum itu." Bagas menunjuk minuman di atas meja. Jus mangga yang tadi dipersiapkan Maya untuk menjebak Sandra.


"Bego, Lu! Udah tahu itu minuman udah disiapin buat dia, kenapa lu minum?" Hans melotot ke arah Bagas.


"Berisik lu! Gue udah nggak tahan nih! Ngiler gue liat body Sandra." Bagas berbisik pada Hans. Tubuhnya menggeliat. Sementara itu, tubuh bagian bawahnya sudah menegang minta dilepaskan.


"Sialan!" rutuk Bagas.


"May, semuanya sudah selesai, 'kan? Ayo kita pulang." Sandra merasa ada yang tidak beres, karena itu ia ingin segera keluar dari kamar hotel.


Lagipula, kenapa Maya memilih bertemu di dalam kamar? Biasanya, mereka akan mengadakan pertemuan di luar. Kalau pun di hotel, Maya pasti akan memilih bertemu di restoran bukannya di dalam kamar seperti ini.


Apalagi, pria yang bernama Bagas.


Pria itu menatap Sandra seolah ingin menelanjangi wanita itu.


"Maya!" teriak Sandra.


"I–iya, San, kenapa?" Maya tergagap. Saat ini, ia sedang kebingungan karena ternyata rencana yang sudah disusunnya gagal. Kini, ketiga pria itu menatap Maya seperti serigala yang ingin menelannya hidup-hidup.


"Ayo kita pulang. Semuanya sudah selesai bukan?" Sandra menatap Maya yang kembali terdiam. Perempuan itu seperti bukan Maya yang dikenalnya.


Sandra mulai tidak nyaman dengan ketiga orang itu. Apalagi, saat melihat ke arah Bagas. Wajah laki-laki itu memerah. Tatapannya penuh gairah. Sandra yang merasa tidak nyaman segera berdiri. Berniat segera pergi dari kamar itu.

__ADS_1


"Ayo Maya, kita pergi dari sini." Sandra menarik tangan Maya, tetapi perempuan itu masih terdiam. Maya terlihat gelisah.


"Kenapa kamu buru-buru sekali, Nona. Kita bahkan belum selesai mengobrol." Bagas yang sudah mabuk birahi, merasa sudah tidak tahan lagi.


Tangan besarnya meraih tangan Sandra dan menarik perempuan itu hingga menabrak dada bidangnya. Bagas bahkan dengan kurang ajar meremas bokong Sandra.


"Brengsek!" Sandra berteriak marah, tangannya terangkat menampar wajah pria itu.


"Sialan! Dasar perempuan murahan, berani-beraninya kau menamparku!" teriak Bagas. Laki-laki yang sedang terbakar gairah itu kemudian langsung memeluk Sandra dan menciumi wajahnya dengan paksa.


"Brengsek! Lepaskan aku. Lepas!" Sandra berteriak sambil terus meronta. Perempuan itu berusaha melepaskan diri, tetapi tenaganya jelas kalah dari Bagas.


"Maya! Tolong aku!" teriak Sandra. Netranya melirik Maya yang tampak bergeming. Perempuan itu bukannya menolong, tetapi malah menonton Sandra yang sedang berusaha melepaskan diri dari Bagas.


"Brengsek! Lepaskan aku!" Sandra terus memberontak saat pria di depannya itu dengan beringas menciumi wajahnya.


Model cantik itu merasa panik. Apalagi, saat melihat Maya justru meninggalkannya. Matanya menatap sahabat sekaligus managernya itu.


"Maya!" teriak Sandra. Tetapi, perempuan itu tetap pergi diikuti oleh Hans dan Alex tanpa menoleh ke arahnya lagi.


"May–" Belum selesai Sandra berteriak, mulutnya sudah dibungkam dengan ciuman dari Bagas. Pria muda berusia sekitar dua puluh enam tahunan itu terlihat sangat beringas bagaikan serigala kelaparan yang sedang memakan mangsanya.


Tuhan ... aku mohon, tolonglah aku.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2