Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 87 TERBONGKAR 2


__ADS_3

"Kalau bukan karena mama yang terus memojokkanku untuk segera punya anak, aku juga tidak akan melakukan semua ini. Sampai sekarang, aku bahkan sangat menyesal karena telah menghancurkan hati Kanaya dan keluarganya!" Sandra berteriak mengungkapkan kekesalannya.


Sementara itu, Rosie terus mengepalkan tangannya.


Kurang ajar!


"Jadi, setelah anak itu lahir pun hanya sebatas ini? Kamu bahkan tidak tersentuh sama sekali dengan kehadiran Nathan?" Sean menatap Sandra dengan raut wajah kecewa.


"Aku pikir kamu akan berubah setelah kamu mengakui Nathan sebagai anakmu. Tapi, ternyata masih hanaya sebatas ini? Sebatas karena mama menginginkan cucu dan mengancammu akan menikahkan aku dengan perempuan lain kalau kamu kamu tidak menuruti keinginannya?"


"Sean ...."


"Aku sangat kecewa sama kamu, Sandra!"


"Sean." Sandra menggeleng pelan. Melihat raut wajah kekecewaan Sean, hatinya berdenyut sakit.


Tidak! Bukan ini yang dia inginkan. Sandra berpikir, setelah Kanaya melahirkan dan bayinya diserahkan padanya, ia akan langsung kembali bekerja. Sang pewaris yang didambakan oleh mertuanya sudah lahir, setelah itu ia akan kembali bekerja seperti biasanya.


Nathan akan diserahkan pada baby sitter agar ia bisa bekerja dengan tenang. Bukankah, wanita karir lainnya juga melakukan hal yang sama seperti itu? Lalu, di mana salahnya?


"Aku hanya ingin bekerja. Apa itu salah?"


"Tidak! Keinginan kamu untuk bekerja tidaklah salah. Tapi, seharusnya kamu bisa menahan diri. Nathan bahkan belum genap berusia satu bulan. Kamu sangat tahu bukan, kalau dia sangat rewel akhir-akhir ini?" Sean menatap Sandra yang langsung terdiam.

__ADS_1


"Kamu bisa menyuruh Kanaya tinggal di sini untuk sementara waktu. Bukankah dia ibunya? Wajar jika dia berkorban sedikit lagi untuk menyusui Nathan bukan?"


"Iya, kamu benar. Aku akan menyuruh Kanaya tinggal di sini


bersama kita."


Sandra tersenyum mendengar ucapan Sean.


Kalau Kanaya tinggal di sini, ia bisa bekerja dengan tenang tanpa harus memikirkan keadaan Nathan.


"Tapi, setelah itu, bersiaplah semua rahasiamu terbongkar!" ancam Sean dengan penuh penekanan.


"Kamu mengancamku?" Sandra menatap kaget pada suaminya.


Kedua bola mata Sandra membola.


"Sekarang, terserah kamu saja. Lakukanapa yang ingin kamu lakukan. Akan tetapi, jangan meminta bantuanku jika suatu saat mama dan papa tahu."


"Sean." Sandra menatap laki-laki yang dicintainya itu dengan tatapan tak percaya. Sepertinya Sean benar-benar marah kali ini. Tidak biasanya ia bersikap seperti itu.


Sementara itu, Kanaya hanya terdiam menatap sepasang suami istri itu dengan tatapan tak terbaca. Kanaya tidak menyangka kalau Sandra ternyata begitu.


Mengorbankan keluarga hanya demi karir? Kanaya bahkan sangat yakin kalau suatu saat, Sandra akan membayar mahal keputusannya hari ini.

__ADS_1


Kanaya kembali mengecup lembut pipi Nathan. Kepalanya mendongak menatap Sean yang mendekatinya.


"Sepertinya, jalan satu-satunya kamu harus tetap di sini merawat putra kita. Kamu tidak mau terjadi apa-apa padanya bukan?" Kanaya mengangguk. Perempuan itu bahkan tak menolak saat Sean mencium keningnya cukup lama.


"aku mencintaimu," bisik Sean dengan bibir bergetar.


Sementara Kanaya menatap Sean dengan rasa sakit di hatinya. Sepertinya, sat ini perasaan Sean sangat kacau. Mendengar keputusan Sandra yang tidak sesuai dengan prediksi sepertinya sangat menghancurkan hatinya. Pria itu bahkan berkaca-kaca menatap Kanaya.


"Sekuat apa pun aku mencoba, ternyata hasilnya akan tetap sama. Aku tidak ada arti apa-apa dibandingkan karirnya."


"Sean ...." Kanaya terhenyak kaget. Laki-laki itu merosot ke lantai, merebahkan kepalanya pada pangkuan Kanaya.


Sementara itu, di balik pintu, Rosie memegangi dadanya. Di sampingnya, Ibrahim yang baru datang beberapa saat yang lalu pun tidak bisa menyembunyikan raut kecewanya.


Sedangkan Bi Lasmi dan Bi Entin hanya bisa menundukkan kepala. Mereka berdua memegang nampan berisi makanan yang dipesan oleh ketiga majikannya.


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.


"Mama ...."


Plakk!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus sang model.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2