Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 100 LEBIH BAIK AKU MATI


__ADS_3

Sandra dengan sekuat tenaga terus memberontak, tetapi tenaganya kalah kuat. Bagas terus menyerang dirinya. Laki-laki itu sudah terbakar birahi, hingga dalam otaknya hanya berisi bagaimana caranya bisa meluapkan hasrat yang menggebu.


Pengaruh obat perangsang yang tak sengaja ia minum membuat Bagas terus menyerang Sandra tanpa mendengar teriakan dan tangisan perempuan itu.


Sandra menjerit kesakitan saat Bagas menggigit tubuh bagian atasnya. Sandra menangis sambil terus memberontak. Kedua matanya berkeliling, mencari sesuatu yang bisa ia pergunakan untuk melawan laki-laki itu.


Sandra sekuat tenaga mendorong, menendang bahkan menggigit Bagas, tetapi, tenaga pria itu terlalu kuat, ditambah lagi, saat ini pria itu dalam keadaan pengaruh obat perangsang.


"Lepaskan aku, lepas! Aku mohon, lepaskan aku!" Sandra berteriak. Namun, lagi-lagi teriakannya tenggelam saat Bagas kembali mengunci mulutnya dengan bibir pria itu.


"Brengsek!"


"Bajingan!"


"Lepaskan aku!"


Bagas melempar tubuh Sandra ke atas ranjang. Laki-laki yang sudah dikuasai oleh nafsu itu dengan rakus menciumi seluruh tubuh Sandra.


Perempuan itu berteriak histeris. Meminta tolong dan berteriak sekuat tenaga, tetapi semua itu sia-sia. tidak ada yang mendengar teriakannya.


Sementara itu, laki-laki yang bernama Bagas itu semakin brutal menjamah tubuhnya. Sandra sudah putus asa. Bayangan suami tercintanya muncul, membuat Sandra semakin menangis.


Sean ....


Mengingat pria itu, Sandra semakin menangis. Apa nasibnya memang harus berakhir menyedihkan seperti ini? Diceraikan suami, dikhianati sahabat, kemudian diperkosa oleh laki-laki yang baru saja dia kenal?

__ADS_1


Tragis sekali!


Sandra terus menangis. Dengan sisa tenaga yang ada, perempuan itu terus memberontak. Kakinya yang masih memakai sepatu hak tinggi, tidak sengaja menendang senjata Bagas yang sudah keluar dari sarangnya dan siap bertempur.


Bagas mengerang kesakitan, laki-laki itu bangkit dari tubuh Sandra. Wajahnya memerah menahan ngilu dan gairah secara bersamaan.


Kesempatan itu digunakan oleh Sandra. Model cantik yang pakaiannya sudah setengah terbuka itu bangun dari tempat tidur. Namun, baru beberapa langkah, Bapak sudah menarik pinggang Sandra.


"Maya bilang, kamu sudah terbiasa melayani beberapa pria, tapi kenapa di hadapanku kamu berpura-pura seperti gadis yang akan kehilangan keperawanan?" Suara Bagas terasa berat karena gairah yang semakin memuncak.


"Aku tidak pernah melayani siapa pun kecuali suamiku. Apa yang dikatakan oleh Maya itu tidak benar!" Sandra berteriak. Apalagi, saat lidah Bagas dengan kasar mulai kembali beraksi di bagian lehernya. Tangannya yang memeluk pinggang pun sudah kemana-mana.


Sandra menjerit, menyadari kalau dirinya saat ini mungkin tidak akan terlepas dari laki-laki brengsek itu.


"Aku sudah membayarmu dengan mahal pada Maya, jadi, sebaiknya kamu menurut!" Bagas semakin brutal, sementara Sandra semakin histeris.


Kedua matanya yang penuh air mata terus memindai, mencari sesuatu. Tangannya terulur, saat netranya tak sengaja melihat pisau yang tadi dipakai oleh Maya untuk mengupas buah.


Setelah berhasil memegang pisau ditangannya, tanpa pikir panjang Sandra menusukkan pisau itu ke perutnya.


Aku lebih baik mati, daripada harus melayani pria yang bukan suamiku.


Suara jeritan Sandra membuat Bagas menarik tangannya yang sedang bermain di daerah sensitif perempuan itu. Kedua tangannya membelalak ketika melihat cairan berwarna merah mengalir di lengannya.


"Sial! Apa yang sudah kau lakukan?" Bagas berteriak panik saat melihat darah yang keluar dari perut Sandra.

__ADS_1


"Lebih baik aku mati, daripada harus memberikan tubuhku pada pria yang bukan suamiku," ucap Sandra sambil tersenyum mengejek.


Wajah perempuan itu terlihat pucat, sementara darah yang keluar dari perutnya semakin banyak.


"Sial!"


Bagas bergegas memakai kembali pakaiannya, merapikan baju yang dikenakan Sandra yang sudah terbuka di bagian dada dan juga bagian tubuh bawahnya. Tangannya meraih jas miliknya, meletakkannya pada luka di perut Sandra yang terus mengeluarkan darah.


Wajah Bagas terlihat panik. Laki-laki itu kemudian mengangkat tubuh Sandra, kemudian berlari keluar dari kamar hotel.


"Brengsek!"


"Sialan!"


"Setelah ini, aku akan membuat perhitungan denganmu, Maya!" Bagas memaki dalam hati.


Netranya menatap ke arah wajah cantik Sandra yang sudah pucat pasi. Tubuh Bagas gemetar, laki-laki itu semakin mempercepat langkahnya.


Terngiang kembali kata-kata Sandra sebelum perempuan itu ambruk.


Lebih baik aku mati, daripada harus memberikan tubuhku pada pria yang bukan suamiku.


"Sial!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2