
Kanaya terpaksa mengikuti kemauan Sean untuk pindah ke rumah barunya. Rumah baru yang tidak kalah besar dengan rumah milik Sean yang sudah diberikan untuk Sandra sebagai harta gono-gini.
Sesampainya di rumah itu, Kanaya melihat Nathan sedang tertidur pulas di kamarnya. Sean memang sudah mempersiapkan kamar khusus untuk putranya.
Letak kamar itu bersebelahan dengan kamarnya. Sean bahkan sengaja membuat pintu penghubung antara kamarnya dan kamar putranya. Tujuannya adalah untuk mempermudah Kanaya dan dirinya menjaga Nathan.
"Kamarnya luas banget. Aku suka." Kanaya mengembangkan senyum. Merasa takjub dengan dekorasi kamar putranya.
Kanaya menarik napas panjang. Menatap Sean yang saat ini juga sedang menatapnya.
Jika semua ini adalah mimpi, Kanaya berharap, dia tidak segera terbangun dari mimpi itu. Lihatlah! Sean benar-benar memberikan yang terbaik untuk Nathan.
Bisa bersama dengan Sean dengan status sebagai istri satu-satunya seperti mimpi untuk Kanaya. Perempuan itu bahkan masih ingat dengan jelas bagaimana kisah cinta Sandra dan Sean selama beberapa tahun.
Cintanya Sandra pada Sean, begitupun sebaliknya. Kanaya juga sangat tahu betapa pria itu sangat mencintai Sandra. Itu semua terbukti dari ucapan lelaki itu pada awal pernikahan kontraknya dengan Sean.
Kini, tiba-tiba semua berubah. Sandra yang begitu mencintai Sean, tiba-tiba menggugat cerai Sean dengan alasan tidak pantas menjadi istri lelaki itu karena dirinya merasa kotor setelah seorang pria tak dikenal hampir saja memperkosanya.
Setelah kabar yang mengejutkan dari Sandra, kini giliran Sean yang terus saja memberinya kejutan. Pria itu terus saja merayu untuk melegalkan pernikahan mereka agar mereka resmi menikah baik secara agama maupun negara.
Tidak ada yang lebih bahagia dari itu semua. Namun, salahkah jika Kanaya meragukan semua itu? Rasanya seperti mimpi bisa mendapatkan semuanya. Semua impian yang pernah ia rangkai sewaktu remaja.
"Sean."
"Iya, Bee."
Kanaya menatap menatap pria di depannya itu dengan kedua mata berkaca-kaca. Melihat wanitanya terlihat ingin menangis, Sean dengan segera memeluk istrinya.
"Terima kasih."
Tadi pagi, saat dirinya kembali mempertanyakan tentang perasaan laki-laki itu pada Sandra, Sean menjawab, tidak ada lagi alasan untuk dia tetap memikirkan Sandra.
__ADS_1
Bagi Sean, Sandra adalah masa lalu yang harus dia lupakan. Sedangkan dirinya dan Nathan adalah masa depannya. Masa depan yang akan dia perjuangkan.
Mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut lelaki itu, Kanaya akhirnya menuruti keinginan lelaki itu untuk pergi ke rumah barunya.
"Ini belum seberapa Bee, bahkan jika mau, aku akan memberikan apapun yang kamu mau di dunia ini." Sean memeluk erat perempuan yang sangat dicintainya itu.
Sementara itu, Kanaya menangis dalam pelukan pria yang dulu hanya bisa diimpikannya.
Sean adalah lelaki yang sempurna. Bukan hanya dari wajah dan penampilannya saja, tetapi, secara materi juga Sean sangat sempurna. Sementara Kanaya, perempuan itu adalah gadis sederhana yang juga terlahir dari keluarga biasa-biasa saja.
Bisa menjadi seseorang yang berada di samping Sean adalah hal yang mustahil yang dulu hanya bisa dimimpikannya. Kini, Kanaya sungguh tidak menyangka kalau semua mimpinya ternyata terwujud.
Setelah bertahun-tahun penantian, Kanaya justru dipertemukan dengan Sean lewat Sandra. Sungguh! Takdir memang terkadang tidak bisa kita sangka-sangka.
Semua yang tadinya mustahil bagi kita, menjadi mudah jika Tuhan sudah berkehendak.
***
Setelah menikmati makan malam bersama keluarga, Sean dan Kanaya memilih masuk ke dalam kamar setelah ikut bercengkrama dengan keluarga Sean dan juga keluarganya.
"Semoga saat terbangun nanti, dia menangis agar aku tahu kalau dia sudah bangun." Kanaya menghela napas panjang. Terkadang dia merasa bersalah karena setiap kali anaknya terbangun pagi-pagi dirinya tidak tahu.
Nathan jarang sekali menangis kecuali bayi mungil itu benar-benar haus. Saat di rumah kedua orang tuanya, ibu Kanaya seringkali membawa Nathan yang sudah terbangun tanpa sepengetahuan Kanaya.
Bayi mungil itu terkadang sudah membuka matanya tanpa suara tangis sehingga Kanaya yang kelelahan, tidak menyadari kalau putranya terbangun.
"Kamu tenang saja, aku akan menjaganya. Kamu bisa tidur dengan nyenyak." Sean meraih pinggang istrinya. Merapatkan tubuh perempuan itu ke arah tubuhnya.
"Mulai besok, aku akan menyuruh bibi tidur di sini kalau kamu mau."
"Jangan. Tidak usah. Untuk sekarang, aku masih bisa mengurus dia."
__ADS_1
"Tapi, Bee–"
"Kalau malam kita yang jaga. Kalau siang hari, kamu boleh memberikannya pada bibi, saat aku sedang beristirahat," pungkas Kanaya.
"Baiklah, terserah kamu saja. Aku tidak mau kamu kelelahan karena seharian menjaga putra kita." Sean menatap Kanaya dengan penuh cinta.
"Sudah tugasku menjaganya. Aku ibunya." Kanaya mendongak menatap Sean. Perempuan itu bahkan tak menolak saat lelaki itu mengecup bibirnya.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu," ucap Kanaya dalam hati.
Mereka berdua kemudian keluar dari kamar Nathan setelah mengunci pintu kamar putranya. Mereka berdua keluar lewat pintu penghubung ke arah kamar mereka.
Sepasang suami istri itu kemudian membaringkan tubuh lelah mereka di atas ranjang empuk berukuran besar.
Sean memeluk tubuh istrinya. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Kanaya yang membuatnya ketagihan.
"Bee, bisakah aku minta hakku malam ini?" Sean menatap wajah cantik istrinya.
"Jangan menolakku malam ini Bee, aku sudah lama menahannya," lanjut Sean dengan raut wajah memelas.
"Kamu lupa, kalau semalam aku bilang lagi kedatangan tamu?" Kanaya tersenyum tipis. Ia sungguh merasa heran dengan Sean. Apa di kepalanya hanya ada pikiran itu saja?
Wajah Sean langsung berubah cemberut. Dirinya benar-benar lupa dengan ucapan Kanaya semalam.
Puasa lagi deh! Kapan berbukanya coba?
"Bee, kenapa sih, kamu nggak usir saja dia. Nyebelin banget tahu nggak! Aku kan udah nahan dari lama. Giliran kamu mau, tamu tak diundang datang!" Sean menggerutu, sementara Kanaya terbahak.
"Gagal deh, buka puasa!"
__ADS_1
BERSAMBUNG ....
Pantesan si Sean demen istrinya dua. Mesumnya kebangetan! 😂😂😂