Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 119 PERLU BUKTI


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, Sean dan Sandra akhirnya resmi bercerai. Perceraian mereka saat ini sudah sah, baik secara agama maupun negara. Segala yang seharusnya milik Sandra, Sean kembalikan. Termasuk, rumah besar yang dulu ditinggali olehnya dengan Sandra.


Rumah besar itu adalah hadiah Sean dari Sandra saat mereka menikah. Oleh karena itu, Sean akhirnya memberikan rumah itu untuk Sandra sebagai harta gono-gini.


Setelah itu, Sean berencana memboyong Kanaya dan putranya untuk tinggal di rumah baru mereka. Namun, ternyata cukup sulit. Semenjak hari itu, hari di mana Sandra memutuskan untuk bercerai, Kanaya kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah orangtuanya dengan membawa baby Nathan bersamanya.


Sesuai dengan janji Kanaya saat itu. Dirinya tidak akan mudah menerima Sean walaupun mereka masih terikat pernikahan siri. Kanaya tidak ingin bersama Sean seandainya pria itu masih menyimpan rasa cinta untuk Sandra.


Bukan karena egois, hanya saja, Kanaya sudah kenyang menikmati rasa sakit saat dirinya masih bersama Sandra dan Sean saat dirinya masih menjadi istri kontrak Sean.


Rasa cintanya pada Sean, membuat Kanaya semakin hari semakin tersiksa. Oleh karena itu, kali ini Kanaya benar-benar ingin kejadian di masa lalu terulang kembali.


Kanaya ingin memastikan kalau Sean benar-benar sudah melupakan Sandra kemudian baru bisa bersamanya. Seandainya lelaki itu belum melupakannya, lebih baik, Kanaya hidup sendiri saja bersama baby Nathan.


Bukan karena Kanaya egois, tetapi, percayalah! Hidup bersama pria yang mencintai perempuan lain itu tidaklah mudah. Walaupun pria yang kita cintai setiap hari ada bersama kita, tetapi, kalau hatinya untuk orang lain, buat apa?


Biarlah Sean berjuang dulu. Kanaya ingin lihat sampai di mana laki-laki itu akan berjuang untuk mendapatkan cinta istri dan anaknya.


"Bee, aku pulang." Kanaya yang baru saja menidurkan Nathan berbalik ke arah pintu saat mendengar suara Sean.


Sudah tiga hari, pria itu tidak pulang karena kesibukannya. Tempat tinggal Kanaya yang berada di luar kota menjadi alasan kenapa Sean tidak bisa pulang setiap hari.


Jarak rumah dan tempat kerja Sean jelas sangat jauh dan tidak memungkinkan buat Sean untuk bolak-balik setiap hari.


Laki-laki itu mendekati Kanaya dengan wajah lelahnya. Hari hampir jam delapan malam, laki-laki itu datang, padahal, besok bukanlah hari libur.


"Kalau kamu lelah, ngapain pulang ke sini?" Bukannya menyambut Sean dengan senyuman, Kanaya justru terlihat cemberut.

__ADS_1


Melihat istrinya cemberut, Sean bukannya marah, tetapi, malah memeluk Kanaya.


"Aku kangen." Sean meletakkan wajahnya pada ceruk leher Kanaya. Menghirup aroma tubuh sang istri yang sangat dirindukannya.


Kanaya berdecak sebal, tetapi, perempuan itu tak menolak saat laki-laki yang secara agama masih sah sebagai suaminya itu, memeluknya dengan erat.


Sama halnya dengan Sean, Kanaya pun sangat merindukan pria itu. Namun, Kanaya selalu bisa menahan perasaannya.


"Kamu mandi dulu, aku siapin makan malam untukmu." Kanaya melepaskan pelukannya.


Sean mengangguk. Mengecup kening Kanaya sebentar, sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


"Terima kasih, Sayang." Sean menatap beberapa hidangan makanan yang tersedia di meja makan. Kanaya yang baru selesai menata di meja makan, membuka celemek, kemudian duduk di samping Sean.


Kanaya hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya. Mereka berdua kemudian makan malam sambil sesekali berbincang.


Sean dengan antusias menanyakan perkembangan Nathan selama beberapa hari dirinya tidak pulang. Mereka berdua bercerita sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut mereka.


Hampir kehilangan waktu kebersamaan karena keteguhan Kanaya yang belum bisa ditaklukkan, membuat Sean menggunakan waktu kebersamaan mereka dengan sebaik mungkin.


Pria itu akan terus bertanya tentang perkembangan putranya dan juga tentang apa saja yang dilakukan oleh sang istri saat dirinya tidak ada.


Selesai makan malam, mereka kembali masuk ke dalam kamar. Sean mendekati istrinya yang saat ini sedang menyusui baby Nathan yang tiba-tiba terbangun karena lapar.


Sean ikut membaringkan tubuhnya di samping Kanaya yang sedang menyusui putranya dengan posisi berbaring miring.

__ADS_1


Laki-laki itu memeluk Kanaya. Melepaskan rasa rindu yang membuncah karena beberapa hari ini tidak bertemu dengan wanita pujaannya itu.


"Aku mencintaimu," bisik Sean.


"Sampai kapan kamu menyiksaku seperti ini, Bee."


"Sampai kamu yakin, kalau hanya aku lah wanita satu-satunya yang ada dalam hatimu," jawab Kanaya tanpa melihat ke arah Sean.


"Sudah berbulan-bulan, Nay, masa iya kamu nggak percaya juga sama aku." Sean berucap dengan nada kesal. Namun, tak urung, laki-laki itu mengeratkan pelukannya.


"Memangnya kamu sudah melupakan dia hanya dalam waktu hitungan bulan?"


Mendengar ucapan Kanaya, Sean mengembuskan napas pelan. Melupakan Sandra? Jelas, laki-laki itu perlahan melupakannya. Apalagi, hatinya saat ini hanya dipenuhi oleh Kanaya.


Namun, sepertinya akan sangat sulit membuat perempuan dalam pelukannya itu percaya begitu saja. Biar bagaimanapun, Kanaya adalah saksi, bagaimana dulu dia begitu mencintai Sandra.


Apalagi, saat awal-awal Sean menikah siri dengan Kanaya. Dirinya bahkan dengan begitu sombongnya mengatakan pada Kanaya kalau ia sangat mencintai Sandra.


"Tidakkah kamu melihat kesungguhanku, Bee? Aku benar-benar mencintaimu." Sean kembali berucap di telinga Kanaya.


"Aku ingin bukti. Bukan hanya ucapan saja."


"Bukti apalagi? Apa perlu kita bikin adik buat Nathan biar kamu percaya? Kalau iya, aku siap sekarang juga."


"Sean!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2