
Kedua orang tua Sean dan kedua orang tua Kanaya kini berkumpul di ruang keluarga. Begitupun kedua adik Kanaya, Juna dan Kayla.
Kanaya dan Sean tak ketinggalan. Sepasang suami istri itu juga ikut duduk di sana dengan baby Nathan berada dalam gendongan Sean.
Mereka semua sedang bercengkrama. Sesekali mereka tertawa bersama. Dalam kesempatan itu mereka pergunakan untuk membicarakan pernikahan Sean dan Kanaya.
Mereka ingin mengadakan resepsi pernikahan Sean dan Kanaya serta mengumumkan tentang cucu mereka. Pewaris dari keluarga Ibrahim.
Sean dan Kanaya tersenyum mendengar rencana kedua orang tua mereka. Kedua orang tua Sean maksudnya karena Rosie dan Ibrahim lah yang paling bersemangat. Sedangkan, kedua orang tua Kanaya hanya mengangguk, mengiyakan.
Keadaan keluarga Kanaya dan Sean ibarat langit dan bumi. Beruntung, keluarga Sean tidak mempermasalahkan sama sekali tentang status sosial mereka.
"Bagaimana Sean, Naya, apa kalian setuju dengan usul kami?" Rosie menatap sepasang suami istri di depannya itu.
"Terserah kalian saja. Aku sama Naya akan menuruti semua rencana kalian. Iya, kan, Bee?" Sean menatap sang istri dengan penuh cinta. Sementara Kanaya mengangguk setuju.
"Terserah kalian saja, yang penting semua orang bahagia," ucap Kanaya dengan senyum yang mengembang sempurna di wajahnya.
Melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua orang tua dan mertuanya membuat Kanaya merasa bahagia. Wanita itu tidak ingin merusak kebahagiaan mereka.
"Baiklah, kalau begitu, kita sepakat mengadakan resepsi pernikahan kalian tiga bulan dari sekarang. Biar tidak terlalu cepat. Biar bagaimanapun, semua orang tahu kalau kamu dan Sandra baru saja bercerai," ucap Rosie.
"Lalu bagaimana dengan Nathan, Ma? Mereka akan mengira kalau Nathan adalah anak dari hubunganku dengan Sean sebelum menikah. Kita tidak mungkin membuka aib Sandra 'kan, Ma?"
Semua orang terdiam mendengar ucapan Kanaya.
"Orang akan mengira kalau Nathan lahir sebelum aku menikah." Kanaya menatap kedua mertuanya.
"Seandainya kita ingin menjelaskan status Sean, berarti kita harus mengungkapkan semua kebenaran. Tapi jika kita nekad mengungkapkan semua kebenaran, dalam hal ini, Sandra lah yang nantinya akan hancur." Kanaya menatap Rosie dan Ibrahim secara bergantian.
"Sandra sudah mengorbankan semua impiannya bersama Sean. Saat ini, walaupun aku tidak tahu dia ada di mana, tapi aku yakin, dia saat ini sedang tidak baik-baik saja," lanjut Kanaya.
"Biarkan dia bahagia. Kita jangan mengusiknya." Pandangan Kanaya beralih pada Sean. Laki-laki itu mengangguk menyadari kekhawatiran Kanaya tentang Sandra.
"Naya benar, Ma. Saat ini Sandra sedang berusaha keras untuk kembali bangkit. Karirnya lagi bagus di luar sana. Kita tidak boleh egois. Jangan karena kita ingin memperkenalkan Nathan pada dunia, publik kemudian jadi bertanya-tanya dan akhirnya justru berpengaruh pada nama baik keluarga kita." Sean menjelaskan panjang lebar.
Apa yang dipikirkan oleh Kanaya memang benar. Seandainya keluarga mereka membuka identitas Nathan, satu persatu rahasianya pasti akan terungkap.
Rahasia pernikahan kontraknya dengan Kanaya, dan semua keegoisan dan ambisi Sandra juga akan terkuak. Begitupun dengan poligami yang ia jalankan selama ini.
"Kamu benar juga, Nak. Walaupun sebenarnya mudah buat kita untuk menutup mulut orang, tetapi, kita tidak boleh membawa nama Sandra dalam hal ini. Biar bagaimanapun, Sandra sudah berbaik hati untuk menyatukan Sean dan Kanaya." Rosie akhirnya angkat bicara.
Mereka semua mengangguk, membenarkan ucapan Rosie.
"Berarti kita akan mengadakan resepsi saja tanpa harus mengenalkan siapa Nathan?" Kanaya menatap kedua mertua dan juga suaminya. Mereka semua saling berpandangan.
"Bagaimana jika resepsinya kita tunda saja? Lagipula, kalau hanya untuk menikah resmi, bukankah kita hanya tinggal ke kantor catatan sipil saja?"
Semua orang menatap Kanaya, kemudian menggeleng sambil tersenyum.
"Mama ingin mengenalkan menantu dan cucu mama pada semua orang, Sayang. Mama ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka." Rosie tersenyum bahagia.
"Terserah mama bagaimana bagusnya, yang penting, tolong hargai Sandra. Jangan sampai kita mencemarkan nama baiknya." Kanaya terlihat memohon.
"Pasti, Sayang. Mama dan papa tidak akan bertindak ceroboh. Biar bagaimanapun, Sandra telah membantu kita."
***
Sandra menghempaskan bokongnya di atas sofa. Perempuan cantik itu menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata.
"Lelah sekali rasanya," ucap Sandra sambil mengembuskan napas panjang. Model cantik itu baru saja pulang setelah hampir seharian mengikuti peragaan busana.
Kaki jenjangnya bahkan terasa sangat pegal karena beberapa jam mondar-mandir di atas catwalk. Beruntung, Sandra mempunyai stamina yang kuat, hingga wanita itu tidak merasa kelelahan saat bekerja.
Saat bekerja, Sandra merasa sangat senang karena dia sangat mencintai pekerjaannya. Namun, setelah pulang kerja, perempuan itu baru merasakan lelah.
Sudah beberapa bulan berlalu semenjak Sandra memutuskan untuk bercerai dengan Sean. Sungguh! Kalau dirinya boleh jujur, di lubuk hatinya yang paling dalam, Sandra masih sangat mencintai Sean.
__ADS_1
Namun, keadaan memaksanya untuk meninggalkan laki-laki itu. Seandainya saja, Maya tidak melakukan hal gila itu, dirinya saat ini pasti masih bahagia bersama Sean.
Sandra mengembuskan napas panjang. Kedua tangannya mengepal erat saat bayangan lelaki yang hampir saja memperkosanya itu kembali melintas.
Apalagi, saat lelaki itu meminta maaf padanya.
Aku tidak akan pernah memaafkanmu bajingan!
BERSAMBUNG ....
Baca juga karya temen Author yang satu ini yuk!
Judul: Selepas Kata Akad
Author: Ridz
Sinopsis:
"Akhirnya aku sadar, aku hanya menjadi tempat tujuan untuk dia yang memiliki tujuan yang lain."
Agnes Alaydrus, harus merelakan sidang skripsinya gagal dikarenakan dia menolong seorang pria yang kecelakaan, sesampainya dirumah kabar bahagia yang harus dia bawa hanya tersisa kabar duka.
Setahun kemudian Agnes harus mengalami sebuah insiden yang membuatnya harus menikahi sosok, Halim Guna Hartawan, sosok pria yang ia tolong dulu.
Namun ternyata Halim sudah menjalin hubungan dengan wanita lain bernama Glenda, yang mengaku sebagai malaikat penolong Halim setahun yang lalu, sehingga Agnes harus menerima perselingkuhan suaminya didepan matanya sendiri setelah sah menjadi istri Halim.
Cuplikan:
Setahun sudah berlalu semenjak kematian Ayah dari Agnes, Agnes yang sebatang kara pun harus menerima nasibnya menjadi seorang diri, karena ibunya sendiri sudah pergi entah kemana.
Agnes yang gagal menjadi dokter kini bekerja di sebuah rumah makan sebagai pelayan, karena dia harus mengulang kembali semesternya dan menyiapkan kembali program untuk mencapai cita-citanya yang tertunda.
Jam makan siang sudah tiba, Agnes kini berada di belakang rumah makan, dimana di belakang rumah makan itu ada sebuah meja dan kursi yang menghadap ke gang kecil untuk mengakses rumah warga yang berada di belakang rumah makan itu.
Disaat Agnes sedang duduk melamun, tiba-tiba saja ada seorang nenek tua menghampirinya dan meminta makan.
Agnes terdiam sesaat, dia masuk ke dalam rumah makan menuju ruangan karyawan, mengambil tasnya dan merogohnya.
Isi Tasnya hanya ada uang seratus ribu rupiah, itu adalah uang terakhirnya, dan akhir bulan masih lama, Agnes yang pada dasarnya terlalu baik memilih memberikan uang tersebut dan membungkus makanan untuk nenek itu.
"Ini Nek, makanan sama ada sedikit uang buat Nenek," Agnes memberikan bungkusan makanan dan uang itu kepada nenek pengemis tadi dengan harapan Allah akan membalas kebaikan Agnes hari ini.
"Makasih," Nenek itu beranjak pergi meninggalkan Agnes yang masih terdiam berdiri disana.
Disaat Agnes menatap nenek pengemis itu pergi, ia kembali terhenyak dalam lamunan, padahal uang seratus ribu itu untuk fotokopi tugas kuliahnya yang harus di kumpul besok, sekarang Agnes harus berusaha keras mendapatkan uang gantinya.
"AGNES!"
Suara teriakan kencang membuat Agnes membalikkan badannya dan ternyata ada Bossnya, Bossnya merupakan seorang pria berusia tua yang terkenal pelit.
"Kamu ngasih makanan ke pengemis lagi yah!"
Mendengar itu membuat Agnes mengangguk dengan keadaan menunduk, Bossnya tampak murka, karena Agnes selalu begitu.
"Maaf-"
"Sudah! Lepas seragam kamu kemudian pergi dari sini! KAMU SAYA PECAT!"
Agnes terdiam mematung, dia menganggukkan kepalanya, berjalan masuk ke ruangan karyawan melepas seragam kemudian mengambil tasnya.
Agnes berjalan meninggalkan rumah makan itu, padahal dia sudah nyaman dan sesuai dengan bayaran disana yang bisa memenuhi kebutuhan kuliahnya.
"Apa aku berhenti kuliah aja yah? Tapi ini kan cita-citanya Ayah, kalau aku berhenti sekarang, berarti cita-cita ayah gak kesampean dong," ujar Agnes dalam hati.
Agnes berjalan melangkahkan kakinya meninggalkan area rumah makan itu sebelum sebuah mobil menghadang dirinya.
__ADS_1
Agnes kebingungan karena dia tidak tahu menahu apa yang akan terjadi sekarang, dari dalam mobil turunlah seorang Ibu Paruhbaya yang sangat dia kenali bersama wanita yang Agnes juga kenal beserta beberapa bodyguard mereka.
"Mama!" Agnes berteriak dan berlari memeluk Ibunya itu yang sudah beberapa tahun ini tidak bertemu dengannya.
Namun sayang, bukannya sambutan baik yang dia terima, Agnes malah enggan dipeluk dan di dorong agar menjauh sedikit.
"Mama gamau peluk Agnes, Agnes kangen sama Mama, Ma, Ayah udah meninggal, Mama kemana aja?"
"Bu Sinta, bawa sekarang?" tanya Bodyguard yang ada disana.
Wanita bernama Bu Sinta yang merupakan ibu Agnes tersebut lalu mengangguk dan membuat beberapa bodyguard langsung membekuk Agnes dan membawanya masuk ke mobil.
"Ini ada apaan!" ujar Agnes merasa heran.
"Diam! Kalau kamu masih nganggap saya Ibu kamu, kamu harus nurut sebentar lagi kamu akan nikah!" ujar Bu Sinta yang membuat Agnes mendelik tajam.
"Hah!"
"Bisa Diam, Gak!" ujar wanita satunya lagi yang Agnes kenal itu adalah Glen.
"Mbaknya, Mbak yang dulu kan?" tanya Agnes pada Glenda.
"Iya! Dan aku kakak tiri kamu, hari ini kamu harus nikah dengan pacar aku, dan kamu tahu siapa, dia adalah Halim, orang yang kamu tolong dulu, tapi kamu jangan sampai berbicara apapun tentang masa lalu kepada Halim," jawab Glenda.
"T-tapi, Mama jelasin ini kenapa!"
"Sudah Agnes! Mending kamu nurut dan jangan banyak bicara, sebentar lagi kita akan menemui Halim!" bentak Bu Sinta yang membuat Agnes terdiam.
Tak lama kemudian mobil Bu Sinta dan Glenda sampai di depan sebuah rumah, mereka berdua kemudian membawa Agnes tanpa bodyguard masuk ke dalam sana.
Dimana ada Halim, sosok pria yang Agnss tolong dulu sampai akhirnya Agnes harus kehilangan kesempatan sidang skripsi waktu itu.
"Mas, ini yang akan menikah dengan kamu," ujar Glenda berjalan ke arah Halim kemudian memeluknya.
"Dia siapa, Tan?" tanya Halim pada Bu Sinta.
"Anak Tante, udahlah dia adik tirinya Glenda," jawab Bu Sinta.
"Anak kandung Tante, dong?" tanya Halim.
"Sangat disayangkan, Faktanya begitu."
Bertapa hancurnya hati Agnes mendengar semua perkataan ibu kandungnya itu, yang sudah Agnes rindukan selama beberapa tahun ini.
"Nama kamu siapa?" tanya Halim kepada Agnes.
"A-agnes, Mas," jawab Agnes diam tidak berani menatap.
Halim berjalan ke arah Agnes kemudian menarik dagunya. "Kita akan menikah besok, didepan keluarga saya, sah secara agama dan hukum tapi ini agar saya memenuhi syarat harta warisan keluarga saya, jadi kita hanya menikah kontrak selama tiga bulan saja."
"T-tapi-"
"AGNES! NURUT! KAMU MAU DURHAKA SAMA MAMA!" ancam Bu Sinta yang membuat Agnes terdiam.
"I-iya, Mas."
"Dan selama kalian menikah, kalian cuma formalitas yah, karena Mas Halim itu cintanya cuma sama aku yang nyelamatin nyawanya dulu, jadi kamu jangan berlagak seperti istri sebenar nantinya, oke?" Glenda menggandeng tangan Halim.
Penyelamat nyawa? Glenda? Semua pertanyaan itu berkembang dikepala Agnes, padahal faktanya dialah yang harus merelakan sidang skripsinya demi menyelamatkan Halim dan mendonorkan darahnya waktu itu, jadi ini alasan Glenda menyuruhnya diam.
"Hari ini, kamu nginap disini, memastikan kamu gak kabur nanti! Bodyguard bawa dia ke kamar dan kurung dia!"
Bodyguard tersebut mengangguk mendengar perintah Bu Sinta yang langsung membawa Agnes ke sebuah kamar di dalam rumah, sesampainya didalam sana Agnes langsung dimasukkan dan di ambil ponselnya serta dikunci dari luar.
Agnes terdiam sekarang, dia memilih duduk di ranjang dengan tangisan tiada henti. "Ayah! Tolongin Agnes Yah!"
Agnes sekarang merindukan ayahnya, satu-satunya sosok yang selalu menguatkannya, karena ibu yang dia anggap bisa menguatkannya malah ikut menghancurkan dirinya, berasa dijual dan diperlakukan tidak semestinya, Agnes benar-benar ibarat sampah yang bisa dimainkan dan ibarat boneka yang bisa di setting apapun.
__ADS_1
Agnes menangis dalam ringkuh membasahi bantal dikamar itu, salah apa dia selama ini, Agnes menghapus air matanya dan meraih tasnya didalam sana ada mukena.
Agnes kemudian berjalan ke kamar mandi didalam kamar itu mengambil wudhu, karena dia tahu sebaik-baiknya tempat untuk mengadu adalah Allah, karena tidak ada yang lebih dekat darimu kecuali Allah.