Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 91 TINGGALKAN SANDRA, SEAN!


__ADS_3

"Sean!"


"Sean!" Sandra berteriak, kemudian berlari mengejar pria itu.


"Apa maksudmu menyerahkan semua keputusan pada mama? Apa kamu juga menyetujui keputusan mama untuk bercerai denganku?" Sandra menatap Sean dengan tatapan tak percaya.


"Sudah aku bilang, aku serahkan semua keputusan pada mama." Sean melepaskan tangan Sandra yang menggenggam tangannya.


"Se–Sean ...." Sandra menggeleng dengan deraian air mata.


"Kamu tidak lupa ucapanku beberapa menit yang lalu bukan?" Sean memindai wajah cantik Sandra. Wanita yang sudah menjadi istrinya selama tahun ini.


Selama ini, dia sibuk dengan pekerjaannya, begitupun dengan Sandra. Mereka berdua sama-sama sibuk, kalaupun mereka bisa menghabiskan waktu bersama, mereka hanya menghabiskannya dengan bergulat di atas ranjang.


Tidak ada istri yang setiap hari menemaninya sarapan pagi atau bercengkerama. Hanya sesekali saja mereka menyempatkan waktu untuk liburan. Itu pun jika Sean sudah memaksa Sandra, sehingga perempuan itu akhirnya mau menuruti semua keinginannya untuk berlibur. Itu pun paling lama hanya tiga hari saja.


Namun, meskipun begitu, selama bertahun-tahun, Sean merasa bahagia hidup bersama Sandra. Laki-laki itu sangat mencintai Sandra, karena itu ia merasa bahagia dengan apa pun yang dilakukan oleh perempuan itu. Apalagi, saat melihat Sandra bahagia.


Namun, perasaannya tiba-tiba terusik saat perempuan itu memintanya menikah lagi dengan Kanaya. Sahabat baik Sandra yang ternyata adalah wanita dalam masa lalunya.


Hatinya sedikit demi sedikit goyah. Segala sesuatu yang awalnya sangat menyenangkan bersama Sandra, berubah menjadi hambar. Walaupun saat itu Sandra tidak bekerja karena hamil pura-pura, tetapi, tetap saja, hubungannya dengan Sandra tidak seindah seperti dulu, saat Kanaya belum masuk dalam kehidupannya.


Kanaya, wanita yang telah menjadi ibu dari putranya. Perempuan yang ia nikahi secara siri atas kemauan Sandra, juga perempuan yang merupakan cinta pertamanya.

__ADS_1


Sebenarnya bukan hanya tentang Kanaya saja. Namun, sikap egois dan ambisius Sandra juga sudah membuat Sean jengah.


Apalagi, saat perempuan itu mengatakan kalau karirnya lebih penting dibandingkan Nathan dan dirinya. Rasanya, dunianya hampir saja terbalik.


Setelah bertahun-tahun dirinya melakukan apa pun demi perempuan itu, memberikan segenap cinta yang dia punya dan mengabulkan semua keinginannya, ternyata, perempuan itu tidak menganggap dirinya berarti apa pun.


Menyadari itu, Sean merasa hatinya sangat sesak. Rasanya sangat sakit saat mengetahui kalau orang yang kita cintai dengan sepenuh hati, ternyata dia hanya menganggap kita hanya sebatas baru loncatan agar dia bisa mendapatkan semua yang diinginkannya.


"Sean, aku minta maaf kalau aku bersalah padamu. Aku tahu, aku terkadang memang tidak menuruti keinginanmu, tapi aku benar-benar mencintai kamu, Sean. Aku mencintaimu, aku tidak mau berpisah denganmu. Aku mohon ...." Sandra menatap pria di depannya dengan tatapan memohon.


Hatinya merasa panik sekarang. Rasa takut kehilangan pria di depannya itu menyeruak membuat tubuhnya bergetar.


Tidak! Aku tidak boleh kehilangan Sean. Aku mencintainya. Kalau dia tidak ada lagi di sisiku, siapa yang akan mendukungku dan juga karirku?


Melihat pria itu, Sandra semakin menangis. Pria di depannya itu tidak seperti Sean yang biasanya. Sean tidak seperti ini. Laki-laki itu pasti tidak akan tahan jika melihatnya bersedih, apalagi sampai menangis.


Akan tetapi, sekarang pria itu bahkan tampak tidak peduli.


"Sean ... aku mohon, bilang sama mama kalau aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku mencintaimu, Sean. Aku minta maaf jika aku salah. Aku tahu kamu marah karena aku lebih memilih bekerja dibandingkan mengurus Nathan. Aku janji, setelah ini aku akan membatalkan kontrak kerja yang sudah aku tanda tangani dengan mereka, tapi aku mohon, tolong bujuk mama agar tidak memisahkan kita. Aku mohon ...." Sandra menangis tersedu-sedu. Akan tetapi, pria di depannya itu tetap diam. Tidak peduli dengan tangisannya.


"Sean."


Sean terdiam tak menanggapi ucapan Sandra. Pria itu mati-matian menahan rasa agar dirinya tidak kembali goyah dengan keputusannya.

__ADS_1


"Sean." Sandra kembali memanggil Sean di tengah isak tangisnya.


"Kamu sendiri yang membuat masalah. Dari awal aku sudah mengingatkanmu, Sandra. Selama ini aku diam bukan karena aku menyetujui semua yang kamu lakukan." Sean menatap Sandra dengan rasa sakit di hatinya.


Sementara itu, di belakang mereka, Kanaya masih terlihat shock. Kanaya memang sudah menduga semua ini akan terjadi saat mendengar keputusan Sandra yang menukar kebahagiaan keluarganya demi karir.


Namun, melihat penyesalan Sandra ia sungguh merasa iba. Seandainya saja dirinya bisa menasihati Sandra untuk tidak melakukan hal gila ini, Kanaya yakin, sahabat baiknya itu pasti tidak akan mengalami hal ini.


Entah apa yang mempengaruhi Sandra, sehingga membuat perempuan itu berubah. Sandra ia kenal selama setahun belakangan ini, tidak seperti Sandra yang ia kenal dahulu. Perempuan baik yang sering menolongnya kala dirinya susah itu sudah berubah menjadi Sandra yang lain.


"Tinggalkan, Sandra, Sean!" Teriakan Rosie membuat semua orang terkejut mendengarnya.


"Tinggalkan dia, dan mulailah hidup barumu bersama ibu dari putramu! Biarkan Sandra memilih hidupnya sendiri. Bukankah dia bilang kalau karirnya jauh lebih penting darimu juga putramu?"


"Mama." Sandra menggeleng sambil menangis.


"Baiklah! Terserah mama saja. Kalau mama memang menginginkan aku meninggalkan dia, aku akan lakukan."


"Sean."


"Sean."


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2