
Kedua mata Kanaya membola mendengar ucapan Sandra. Istri kedua dari Sean itu menatap tak percaya pada sahabatnya.
"A–apa yang kamu katakan, Sandra? Apa maksudmu dengan bercerai dengan Sean?" Kanaya menatap Sandra dengan raut wajah terkejut yang sangat kentara.
Perempuan itu benar-benar tidak menyangka, kalau Sandra akan mengucapkan kata-kata yang bahkan tidak ada dalam bayangannya sedikitpun.
Sandra sangat mencintai Sean. Wanita itu bahkan rela melakukan apapun demi laki-laki yang sangat dicintainya itu. Jadi, Kanaya sungguh merasa terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sandra.
"Aku akan bercerai dengan Sean, Nay," ulang Sandra. Bibirnya bergetar saat mengucapkan kalimat sakral itu.
Di belakang mereka Rosie dan Sean tampak terkejut mendengar ucapan Sandra. Sean memang sudah tahu kalau Sandra ingin bercerai dengannya. Hanya saja, saat kemarin Sandra mengucapkannya, Sean pikir perempuan itu hanya sedang kalut. karena itu Sandra mengatakan sesuatu yang menurutnya sangat mustahil.
Bukannya apa-apa, Sean sangat tahu kalau Sandra sangat mencintainya. Perempuan itu bahkan rela melakukan apapun demi tetap bersamanya. Termasuk, menikahkannya dengan Kanaya agar mereka bisa mendapatkan pewaris yang diinginkan oleh Rosie dan Ibrahim.
Namun, sepertinya dugaan Sean salah. Hari ini Sandra kembali mengucapkan kalimat yang sama dengan apa yang sudah dia ucapkan padanya yaitu, perceraian.
"Kamu jangan bicara sembarangan, Sandra. Kalian berdua saling mencintai, bagaimana mungkin kalian mau berpisah begitu saja?" Kanaya menggeleng, mendengar kalimat yang kembali keluar dari mulut Sandra.
"Tidak, Naya. Aku sudah membuat keputusan. Apa yang dikatakan oleh mama kemarin memang benar, aku memang egois. Aku tidak pantas bersama Sean dan tidak pantas terus berada di dalam keluarga Ibrahim." Sandra menatap ke arah Rosie dengan kedua mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Rosie hanya menghela napas panjang. Wanita paruh baya itu terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Seandainya saja Sandra dalam keadaan tidak terluka, sudah pasti, Rosie akan menjawab pertanyaan wanita itu.
Namun, saat ini Sandra sedang terluka. Bukan hanya terluka tubuhnya tetapi juga hatinya. Rosie sangat yakin apa yang sudah terjadi pada Sandra kemarin sangat membuatnya terpukul dan bisa saja membuat wanita itu merasa trauma, hingga akhirnya dengan putus asa, Sandra membuat keputusan untuk bercerai dengan Sean.
"Sebaiknya, sekarang kamu istirahat dulu, Sandra. Kamu masih belum pulih. Setelah kamu sembuh, kita bisa membicarakan masalah ini baik-baik," ucap Rosie bijak.
Namun, Sandra justru menggelengkan kepala. Merasa tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh perempuan yang masih menjadi mertuanya itu.
"Tidak, Ma. Justru aku ingin membicarakan semuanya sekarang, agar aku bisa tenang, Ma." Air mata Sandra semakin deras mengalir.
"Aku sudah tidak pantas lagi untuk Sean. Lelaki asing itu sudah menyentuhku dan menginjak harga diriku sebagai seorang istri. Aku sudah tidak bisa lagi menjadi istri Sean karena aku sudah kotor!" Sandra terlihat putus asa.
"Sandra." Sean menatap wanita yang sampai kini masih bersemayam di hatinya itu. Meskipun, rasa dalam hatinya sudah dipenuhi oleh Kanaya. Namun, biar bagaimanapun, Sandra adalah orang yang bertahun-tahun bersamanya.
Akan tetapi, perasaannya terhadap Sandra justru terombang-ambing saat dirinya justru menyadari kalau perempuan yang diberikan Sandra untuk dinikahinya itu, ternyata adalah cinta pertama yang dulu bertahun-tahun pernah bertahta di dalam hatinya yang paling dalam.
Bahkan, saat dirinya sudah bersama Sandra, wanita itu masih tetap ada di dalam hatinya yang paling dalam. Hanya saja, selama bersama dengan Sandra, Sean menekan hatinya agar tidak mengingat kembali, gadis jelek bertampang cupu yang telah membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.
"Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi." Sean memperingatkan. Meskipun dirinya saat ini memang dalam keadaan posisi yang sulit, Sean tetap memperingatkan.
__ADS_1
Biar bagaimanapun, Sandra adalah orang yang sudah bersamanya selama enam tahun. Tidak akan mudah bagi Sean untuk melupakannya begitu saja.
Namun, dalam hati, Sean sudah bertekad. Seandainya Sandra memang bersikeras untuk berpisah dengannya, mau tidak mau, Sean pun harus mengabulkannya.
Sandra benar, Nathan butuh keluarga yang lengkap. Ia dan Kanaya benar-benar harus bisa menjadi partner yang baik agar putranya mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya.
"Sean benar, Sandra. Jangan membuat keputusan di saat sedang marah. Kamu belum pulih benar. Kita bisa bicarakan ini baik-baik nanti." Kanaya berbicara dengan suara bergetar.
Tidak! Bukan ini yang Kanaya inginkan. Dia tidak mau Sandra dan Sean berpisah. Meskipun dia tidak munafik, kalau dirinya sangat mencintai laki-laki itu, tetapi, Kanaya bukanlah perempuan yang akan mengambil kesempatan demi kepentingan atau pun kebahagiaannya sendiri.
Apalagi, perempuan itu saat ini sedang dalam keadaan tidak berdaya.
"Aku tetap pada keputusanku. Aku ingin bercerai dengan Sean sekarang juga. Akui ingin bercerai dengannya, karena aku sudah gagal menjaga martabatku sebagai seorang istri."
"Maafkan aku, Sean. Aku tidak bermaksud membiarkan laki-laki itu menyentuhku. Tapi, saat itu aku benar-benar tidak bisa melawan dia." Sandra mengungkapkan semuanya dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya.
Dadanya berdenyut nyeri seiring rasa sakit yang menjalar ke ruang hatinya.
Sementara itu, di balik pintu yang sedikit terbuka, seseorang menangis penuh penyesalan saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sandra.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sandra. Maaf!"
BERSAMBUNG ....