Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 73 AKU BERIKAN ANAKKU PADA KALIAN


__ADS_3

Kanaya sudah sampai di rumahnya bersama Sean dan Sandra. Model cantik itu tidak ikut menjemput Kanaya karena dirinya baru saja sampai setelah kemarin pulang ke ibukota untuk menyiapkan semua perlengkapan untuk bayi mereka.


Ya! Sandra masih dengan begitu percaya diri menganggap bayi yang dilahirkan oleh Kanaya adalah putranya. Meskipun anak itu bukan lahir dari rahimnya, tetapi, Sandra langsung jatuh cinta saat pertama kali ia melihat bayi mungil itu.


"Kamu istirahat dulu. Kamu pasti bosan dan lelah karena beberapa hari menginap di rumah sakit." Sandra menyuruh Sean membaringkan tubuh Kanaya di atas ranjang. Pria itu menggendong Kanaya dari mobil saat melihat perempuan itu kesusahan saat berjalan.


Sebenarnya bukan hanya Sean yang berinisiatif ingin menggendong Kanaya, akan tetapi, Sandra yang saat itu menyambut kedatangan mereka di depan pintu pun tidak tega melihat sahabatnya berjalan dengan tertatih.


Sepertinya, Kanaya masih merasakan sakit pasca melahirkan secara normal. Melihat itu, dengan segera Sandra menyuruh Sean menggendong madunya itu.


"Terima kasih, San. Maafkan aku, karena beberapa hari ini aku sudah merepotkan kalian berdua." Kanaya menatap Sean dan Sandra bergantian.


Sepasang suami istri itu tersenyum.


"Kamu ini bicara apa? Wajar saja aku dan Sean membantumu. Apa kamu lupa aku dan Sean ini siapamu?" Sandra menatap Kanaya dengan kesal.


Harusnya aku yang minta maaf karena sebentar lagi aku akan membawa putranya. Bukannya dia yang meminta maaf padaku dan Sean.


Sandra menatap sahabatnya dengan kesal sekaligus merasa bersalah. Awalnya Sandra ingin membatalkan niatnya untuk membawa anak yang dilahirkan oleh Kanaya.


Akan tetapi, Sandra mengurungkan niatnya karena Maya mengatakan kalau ia sampai membatalkan membawa bayi itu, maka karirnya akan hancur saat itu juga.

__ADS_1


Selama ini, publik mengetahui kalau Sandra sedang hamil. Sandra bahkan kerap kali memposting saat dirinya memakai baju hamil dengan perut yang terlihat membuncit.


Sandra melakukan itu atas suruhan Maya. Selama berbulan-bulan di rumah Kanaya, Maya seringkali memintanya berfoto dengan menggunakan baju hamil dengan perutnya yang sudah membesar.


"Tapi aku benar-benar telah merepotkan kalian berdua. Aku minta maaf."


"Naya. Apa kamu lupa, kalau aku adalah suamimu? Beberapa hari ini aku membantumu sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai suamimu. Jadi, kamu tidak perlu meminta maaf, karena bagiku, kamu tidak merepotkan sama sekali." Sean menatap Kanaya dengan penuh cinta. Laki-laki itu bahkan tidak menyadari kalau Sandra sedang menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


"Iya, kamu benar. Kamu memang suamiku. Suami sementara. Apa kamu lupa jika sebentar lagi kita juga akan bercerai?"


Sean dan Sandra tersentak mendengar ucapan Kanaya.


"Naya," ucap Sean dan Sandra secara bersamaan.


"Bukankah apa yang aku ucapkan ini benar? Aku sudah menjalani tugasku sebagai istrimu. Aku juga sudah melahirkan anak yang kalian inginkan. Jadi, sebentar lagi kerja sama kita akan selesai bukan?" Kanaya menatap kedua orang yang disayanginya itu dengan rasa sakit di hatinya.


Ya Tuhan ... sanggupkah aku menjalani kehidupanku setelah ini?


"Kalian sudah mendapatkan apa yang kalian inginkan dan aku sudah membayar hutangku pada kalian. Setelah ini, kalian bisa hidup dengan bahagia."


"Naya." Sean dan Sandra kembali berucap bersamaan. Mereka berdua tidak menyangka kalau Kanaya akan berbicara seperti itu.

__ADS_1


Memang benar, semua rencana Sandra sudah berhasil. Mempunyai anak darah daging dari Sean tanpa harus susah payah melahirkan. Dengan hadirnya bayi itu, Sandra bisa memenuhi keinginan mertuanya untuk memiliki cucu.


Model cantik itu juga tidak perlu takut lagi kalau ibu mertuanya akan menjodohkan Sean karena saat ini cucu yang diinginkannya sudah hadir ke dunia.


Walaupun bayi itu bukanlah anak yang lahir dari rahimnya, tetapi, bukankah anak itu tetap akan menjadi seorang pewaris keluarga Ibrahim? Biar bagaimanapun, bayi itu adalah putra biologis Sean Ibrahim.


Akan tetapi, saat mengingat semua itu, kenapa perasaan Sandra tiba-tiba justru merasa tidak tenang? Rencananya tercapai, tetapi saat melihat sahabatnya terlihat begitu hancur, sudut hatinya terluka.


Berbulan-bulan Sandra tinggal bersama Kanaya. Ia seringkali menahan rasa cemburunya pada Kanaya saat melihat Sean begitu perhatian pada sahabatnya itu.


Sandra juga seringkali menyemangati diri sendiri agar ia tetap kuat menahan sakit hatinya karena setelah Kanaya melahirkan, semuanya pasti akan berakhir.


Sesuai perjanjian tidak tertulis yang sudah ia sepakati bersama Kanaya dan juga Sean, mereka akan bercerai setelah Kanaya melahirkan.


Namun, kenapa saat ini Sandra justru sangat berat saat mendengar ucapan Kanaya yang mengatakan, kalau dia sudah menyelesaikan tugasnya untuk melahirkan seorang anak yang sangat diinginkan olehnya?


"Naya, tidak bisakah kamu tetap tinggal bersama kami?" Sean menatap wajah cantik Kanaya dengan penuh harap.


"Kalau aku tetap tinggal bersama kalian, itu sama saja kalian mengingkari janji kalian berdua padaku."


"Tapi, Nay–"

__ADS_1


"Sesuai janjiku padamu, Sandra. Aku berikan anakku pada kalian. Tolong jaga dan rawat anakku baik-baik."


BERSAMBUNG ....


__ADS_2