
Sean menatap tajam ke arah Bagas yang terbaring tak berdaya di ranjang pasien.
Pria itu terpaksa dirawat akibat pukulan Sean yang bertubi-tubi saat di ruang rawat inap Sandra tadi. Bagas yang tidak siap diserang, langsung limbung karena dihajar habis-habisan oleh Sean.
Terdapat banyak luka di tubuh Bagas karena pukulan Sean. Laki-laki yang hampir saja memperkosa Sandra itu tidak sadarkan diri saat Sean seperti orang kesetanan memukulinya.
"Maaf!" Kata-kata itu terdengar lirih keluar dari mulut Bagas. Wajahnya terlihat meringis kesakitan.
Mendengar ucapan Bagas, Sean semakin meradang. Laki-laki itu mendekati Bagas dan ingin kembali memukulnya, tetapi, saat melihat luka-luka pada wajah Bagas, Sean menghentikan tangannya di udara.
Tidak mungkin dia melukai seorang pasien yang terlihat tidak berdaya. Sean mengepalkan tangannya. Kedua matanya tajam menatap ke arah Bagas.
"Aku memang menyentuhnya. Tapi aku tidak melakukannya. Istrimu memilih melukai dirinya daripada membiarkan aku merebut kehormatannya sebagai istrimu." Bagas menjelaskan apa yang telah dilakukannya pada Sandra.
Gurat penyesalan terlihat pada wajahnya yang terlihat babak belur. Laki-laki itu menatap Sean dengan rasa bersalah.
Seandainya saja Maya tidak menjebaknya, dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan mempermalukan harga diri perempuan itu.
"Maafkan aku. Aku dijebak oleh Maya. Seandainya perempuan itu tidak mengatakan kebohongan tentang Sandra, aku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang akan mencelakai Sandra," Bagas berucap pelan sambil meringis menahan sakit.
"Jangan menimpakan semua kesalahan yang kamu buat pada orang lain, brengsek! Jelas-jelas kamu yang telah membuat Sandra celaka!" Sean berkata penuh penekanan.
Sorot matanya tajam menatap Bagas dengan aura penuh pendam. Rasanya, laki-laki itu ingin kembali menghajar laki-laki itu habis-habisan.
Namun, melihat luka yang diderita oleh Bagas, Sean mengurungkan niatnya. Suami dari Sandra dan Kanaya itu menarik tangannya yang tadi bersiap memukul Bagas.
"Maya menjual Sandra padaku juga kedua temanku."
"Apa?"
__ADS_1
"Perempuan itu telah menipu kami. Demi membayar semua hutangnya, dia menjual Sandra pada kami." Bagas menjelaskan sambil sesekali meringis menahan sakit karena sudut bibirnya yang terluka.
"Aku tidak peduli, siapa yang salah, yang jelas, kamu juga bersalah. Aku pastikan, kalian semua akan membayar lebih dari apa yang kamu lakukan pada Sandra!" Sean menatap tajam ke arah Bagas dengan penuh amarah.
Kata-kata Sandra kembali terngiang.
"Bawa Maya ke hadapanku, Sean. Aku ingin tahu, kenapa dia mengkhianatiku!"
***
Esok harinya, Sean memenuhi janjinya pada Kanaya. Pria itu menyuruh orang untuk menjemput Kanaya dan mamanya dan juga baby Nathan.
Baby Nathan ditinggal di rumah Sean ditemani oleh Bi Marni dan pengasuh barunya. Sementara Kanaya dan Rosie pergi ke rumah sakit. Mereka berdua menyusul Sean yang sudah berada di sana menunggu mereka.
Sampai di rumah sakit, Kanaya melihat suaminya duduk di kursi tunggu sembari memainkan ponselnya.
Laki-laki itu tersenyum hangat saat mendengar suara Kanaya memanggilnya. Netranya menangkap dua perempuan beda generasi yang sama-sama dicintainya. Rosie dan Kanaya.
Ah! Rasanya, Sean seperti orang yang baru jatuh cinta untuk pertama kalinya saat melihat sang istri tersenyum manis padanya.
"Sean."
"Sa–Naya." Hampir saja kalimat sayang terucap dari bibir Sean. Untung saja pria itu segera sadar, kalau tidak, Kanaya pasti akan kesal.
"Apa kamu sudah menemui Sandra?" tanya Kanaya sesaat setelah mencium tangan lelaki yang bergelar suaminya itu. Kanaya bahkan membiarkan lelaki itu mencium keningnya.
Di belakang mereka, Rosie tersenyum melihat interaksi antara dan Kanaya. Pemandangan sederhana yang tidak pernah perempuan paruh baya itu lihat sebelumnya.
Rosie tidak pernah melihat Sandra melakukan hal yang sama, seperti yang Kanaya lakukan pada Sean. Sandra tidak pernah memperlakukan Sean seperti itu. Model cantik itu hanya akan mencium pipi Sean, kemudian dibalas ciuman pula oleh Sean.
__ADS_1
Tidak ada cium tangan sebagai rasa hormatnya sebagai seorang istri pada suaminya. Seperti yang dilakukan Kanaya sekarang ini.
"Aku belum menemuinya." Sean tersenyum mengusap rambut Kanaya.
"Kenapa kamu belum menemuinya?" Kanaya terlihat kesal.
"Aku menunggumu juga mama." Pandangan mata Sean menatap ke arah Rosie.
"Kalau begitu, ayo kita temui Sandra sekarang!" Kanaya menarik tangan Sean. Perempuan itu benar-benar tidak sabar melihat keadaan sahabatnya.
"Sabar, Bee." Sean tersenyum, tangannya kembali terulur mengusap kepala Kanaya.
Sementara itu, di belakang mereka, Rosie hanya menggelengkan kepala.
Saling mencintai, tapi pura-pura tidak ingin bersama.
Sebagai orang tua, Rosie jelas paham apa yang terjadi di antara mereka berdua. Hanya saja, posisi mereka memang sulit. Meskipun mereka sudah menikah, tetapi hubungan mereka tidak bisa berjalan dengan mulus seperti suami istri lainnya.
Rosie sangat tahu bagaimana perasaan Sean terhadap Sandra. Kalaupun saat ini putranya itu merasa lelah menghadapi Sandra, tidak mungkin dirinya dengan begitu mudah menyingkirkan wanita yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya itu.
Apalagi, Sean tahu kalau Sandra begitu mencintainya. Tak jauh berbeda dengan Sean, posisi Kanaya pun sangat sulit. Perempuan itu, sangat tahu kehadirannya di tengah-tengah pernikahan Sandra dan Sean adalah murni karena keinginan Sandra.
Jadi, tidak akan mudah bagi Kanaya untuk tetap bersama Sean, meskipun dia sangat mencintai lelaki yang merupakan ayah dari bayinya itu.
Pernikahan mereka adalah atas keinginan Sandra. Oleh karena itu, mereka berdua tidak mudah mengakui perasaan masing-masing. Biar bagaimanapun, Sandra adalah sahabat baik Kanaya. Tidak mungkin bagi Kanaya untuk mengkhianati Sandra dengan terang-terangan mengakui cintanya pada Sean.
Benar-benar hubungan yang sangat rumit! Namun, biar bagaimanapun, kalian berdua juga harus bahagia. Apalagi, ada Nathan yang sangat membutuhkan kalian.
Rosie menghela napas panjang. Menatap kedua orang yang saat ini sedang saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Bee?" Kanaya menatap Sean yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh cinta.
BERSAMBUNG ....