
Ciuman mereka berakhir, setelah mereka sama-sama hampir kehabisan oksigen. Kanaya menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Sean dengan napas terengah.
Perempuan itu sungguh sangat malu saat menyadari dirinya ikut terbuai oleh ciuman Sean yang memabukkan. Wajahnya merah padam karena malu. Sementara itu, Sean justru tersenyum. Laki-laki itu mempererat pelukannya.
"Masa ciuman sama suami sendiri saja malu. Kita halal bahkan untuk lebih dari sekedar ciuman." Ucapan Sean dihadiahi sebuah cubitan yang melayang pada pinggangnya.
"Sudah lama sekali aku tidak memelukmu seperti ini. Terima kasih, Bee, karena sudah mengizinkan aku memelukmu lagi." Sean mempererat pelukannya.
"Jangan terlalu kencang, aku tidak bisa bernapas." Kanaya memukul dada Sean dengan pelan. Pelukan Sean membuatnya sesak napas.
"Setelah semuanya berakhir, aku akan menikahimu dengan resmi." Sean membelai rambut Kanaya. Mengecup kening perempuan itu cukup lama.
"Aku tidak mau."
Jawaban Kanaya membuat Sean menatap ke arahnya.
"Kamu lupa, apa yang sudah kamu lakukan padaku dari awal pernikahan sampai saat ini?" Kanaya membalas tatapan Sean dengan tatapan tak terbaca.
Laki-laki itu pikir, semua yang sudah dia lakukan selama ini padanya bisa ia lupakan dengan mudah? Rasa sakit hatinya terhadap pria itu bahkan belum sembuh, tetapi, laki-laki itu dengan begitu mudahnya membicarakan tentang pernikahan resmi dengannya. Sama seperti ucapan Sandra beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Aku berjanji padamu, aku akan memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu. Beri aku kesempatan untuk menunjukkan dan membuktikan perasaan cintaku padamu juga Nathan." Sean menatap Kanaya dengan penuh harap.
Tidak lagi. Dia tidak lagi ingin kehilangan seseorang yang sangat dia cintai. Cukup Sandra saja yang pergi, Kanaya jangan. Apalagi, sudah ada anak di antara mereka.
Sean tidak akan pernah melepaskan mereka berdua dengan mudah. Seandainya pun dia harus berjuang, dia akan berjuang sampai titik penghabisan agar dia bisa memiliki kedua orang yang sangat dicintainya itu.
Kanaya dan Nathan adalah prioritas utama baginya sekarang setelah Sandra meninggalkannya.
Sean akan melupakan Sandra. Laki-laki itu akan membuang semua kenangannya bersama Sandra dari hidupnya. Sean berjanji dalam hati, kalau mulai saat ini, dirinya hanya akan mencintai Kanaya. Tidak ada perempuan lain selain dia.
Wanita yang telah membuat hidupnya dan keluarganya sempurna dengan calon pewaris yang lahir dari rahimnya.
Meskipun kehadiran Nathan tidaklah seperti pasangan suami-istri lainnya, tetapi, semua itu tidak akan membuatnya menyangkal kalau Sean adalah darah dagingnya. Darah daging yang lahir dari rahim sewaan dengan harga satu milliar.
"Aku akan memberimu kesempatan. Tapi, jika kamu mengingkari semuanya, aku tidak akan memaafkanmu. Tidak akan ada kesempatan kedua jika kamu kembali melakukan kesalahan." Kanaya menatap tajam pada pria di depannya itu.
Kesempatan. Kanaya akan memberikan kesempatan pada Sean untuk berjuang demi mendapatkan kepercayaan dan cinta darinya. Kanaya tidak akan menerima Sean seandainya laki-laki itu masih menyimpan cintanya pada Sandra.
Mungkin memang terdengar jahat, tetapi, bukankah itu wajar? Kanaya tidak ingin hidup dalam bayang-bayang cintanya Sean terhadap Sandra. Perempuan itu tidak akan sanggup merasakan sakit di hatinya seandainya Sean masih mencintai Sandra tetapi berpura-pura mencintainya agar bisa bersama Nathan.
__ADS_1
"Yakinkan hatimu, jika kamu sudah yakin kalau kamu hanya mencintai aku, saat itu pasti akan tiba. Aku akan dengan senang hati menerima kamu. Namun, seandainya di hati kamu masih ada perempuan lain, sebaiknya kamu jangan berharap kalau aku akan menerimamu." Ucapan Kanaya begitu tegas.
Rasa cintanya pada Sean membuat Kanaya tidak ingin semakin terjerumus ke lembah luka. Dia harus berhati-hati. Kanaya harus memastikan, kalau Sean benar-benar mencintainya, baru dia akan menerima pria itu lagi dalam hidupnya.
"Aku akan menunjukkan padamu dan membuktikan kalau semua janjiku adalah benar, Nabila Kanaya."
"Jangan terlalu percaya diri. Aku masih ingat dengan benar bagaimana kamu dengan lantang mengatakan kalau Kamu tidak akan pernah mencintai perempuan lain selain Sandra."
Kanaya memejamkan mata Saat ingatannya kembali ke masa lalu.
"Kamu benar. Dulu, aku memang mengatakan semua itu. Kata-kata itu keluar sebelum aku menyadari siapa pemilik hatiku yang sebenarnya." Sean menjawab dengan hati bergemuruh saat ingatannya kembali pada masa dirinya seringkali melontarkan kata-kata yang membuat Kanaya sakit hati.
"Maafkan sikapku di masa lalu. Aku janji, aku tidak akan pernah lagi mengulanginya."
"Aku tidak perlu janji, aku hanya perlu bukti." Kanaya melepaskan pelukan Sean. Akan tetapi, pria itu kembali menariknya ke dalam pelukan.
"Aku akan membuktikan padamu, kalau aku benar-benar mencintaimu dan juga menyayangi Nathan, Bee." Sean menatap wajah Kanaya yang terlihat meragukannya.
"Percayalah padaku." Laki-laki itu kembali mendekati wajah Kanaya. Bibirnya dengan pelan mendekati bibir Kanaya.
__ADS_1
Ciuman itu kembali terjadi. Kanaya tidak bisa menolak. Rasa cintanya yang teramat besar pada Sean membuat wanita itu kembali terjerat kenikmatan lidah Sean yang mulai menelusup dan menari di dalam mulutnya.
BERSAMBUNG ....