
"Ceraikan Sandra, nikahi wanita itu!"
"Mama!"
Sandra dan Sean terkejut mendengar ucapan Rosie. Begitupun dengan Kanaya dan Ibrahim.
"Apa perlu aku ulangi lagi, Sean?"
"Ma!" Sean menggelengkan kepalanya. Meskipun dia marah karena Sandra begitu mengecewakannya, tetapi, Sean sungguh terkejut mendengar ucapan mamanya. Sean bahkan belum berpikir sejauh itu, meskipun dia tahu jelas kalau Sandra baru saja mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya.
"Ceraikan Sandra dan nikahi dia!" ulang Rosie dengan masih bernada marah.
"Tidak, Ma, aku tidak mau bercerai dengan Sean." Sandra menatap Rosie dengan berlinang air mata.
"Aku mencintai Sean. Aku tidak mau berpisah dengannya," lanjut Sandra. Kedua matanya beralih pada Sean, seolah meminta tolong pada pria itu agar lelaki itu ikut membelanya seperti biasa.
Namun, Sean yang kelihatannya masih sangat terkejut mendengar ucapan mamanya yang menyuruh bercerai dengan Sandra, tak bereaksi saat perempuan itu menatapnya.
"Kamu mencintai Sean?" Rosie mencibir.
"Kalau kamu mencintai Sean, kamu tidak akan mungkin melakukan hal gila seperti ini, Sandra!"
"Aku pikir ancamanku waktu itu akan membuatmu sadar. Akan tetapi, aku tidak menyangka kalau ternyata kamu malah melakukan hal gila seperti ini. Mama benar-benar kecewa sama kamu, Sandra!"
"Mama." Sandra menggeleng pelan dengan air mata bercucuran.
__ADS_1
"Aku tidak mau bercerai dengan Sean, Ma. Aku mencintainya. Kalau mama tidak mengancamku akan menikahkan Sean dengan perempuan lain, aku pasti tidak akan melakukan ini semua, Ma."
"Jadi, kamu menyalahkan mama karena mama ingin menikahkan Sean dengan wanita lain jika kamu tidak mau hamil?"
"Iya, Ma. Aku mencintai Sean. Aku tidak mau Sean menikah dengan perempuan lain!" Sandra tiba-tiba berteriak. Air matanya semakin deras mengalir. Netranya yang berembun menatap Sean yang belum juga bereaksi.
Sandra sendiri merasa heran. Biasanya, laki-laki itu akan membelanya dan bersedia menjadi tameng saat dirinya melakukan kesalahan. Namun, kali ini Sean hanya diam saja.
"Kamu takut mama menikahkan Sean dengan orang lain? Lalu, siapa dia? Siapa perempuan yang ternyata rahimnya kamu sewa, hah?" Rosie juga ikut berteriak. Emosinya kembali naik mendengar ucapan Sandra.
"Dia sahabatku. Aku yang meminta Sean menikahinya secara siri agar aku bisa mendapatkan anak seperti yang mama inginkan!" Sandra menjawab dengan tegas. Sementara Rosie tersenyum miris.
"Kamu bilang, kamu takut dengan ancaman mama yang akan menikahkan Sean dengan perempuan lain, tapi kamu sendiri malah menyuruh Sean menikah dengan sahabatmu. Apa kamu sudah gila, Sandra?" Rosie kembali menggelengkan kepala. Tidak menyangka gadis cantik yang lima tahun lalu pernah membuatnya langsung menyayanginya layaknya putri sendiri itu justru memberikan Sean pada sahabatnya sendiri.
Netranya beralih menatap Sean yang masih terdiam. Putra kebanggaannya itu bahkan belum melakukan apapun untuk membela Sandra seperti biasanya.
Sean tidak lagi berdiri di depan Sandra untuk melindungi sang istri itu dari kemarahannya seperti yang sudah-sudah. Apa putranya saat ini sudah memutuskan berhenti menjadi pahlawan Sandra?
Kedua matanya beralih pada Kanaya. Wanita cantik itu mendekap Nathan sambil sesekali menciumnya. Seolah menenangkan bayi mungil itu agar tidak menangis karena keributan yang terjadi.
Setelah itu, perempuan yang Sean perkenalkan bernama Kanaya itu buru-buru membelakanginya karena bermaksud menyusui baby Nathan yang ingin menangis.
Rosie menggeleng perlahan. Masih tidak mempercayai apa yang terjadi.
Sean bahkan sudah menikahi wanita itu secara diam-diam atas permintaan Sandra. Itu berarti, baby Nathan tetap cucunya. Cucu yang lahir dari menantu yang berbeda.
__ADS_1
'Sandra, Sandra ... sepertinya kamu memang sudah gila. Kamu melarangku untuk menikahkan Sean dengan perempuan lain, tapi kamu sendiri justru memberikan Sean pada wanita lain yang bahkan saat ini sudah melahirkan darah daging Sean. Apa kamu tidak berpikir lebih jauh sebelumnya?'
'Aku bahkan tidak perlu repot-repot menendangmu dari rumah ini, karena aku yakin, Sean pun sudah jengah dengan sikapmu.'
Rosie tertawa dalam hati. Menertawakan kebodohan Sandra yang telah memberikan putranya pada Kanaya. Biar bagaimanapun, sebenarnya Rosie tetap punya harapan kalau Sandra tetap menjadi istrinya Sean. Meskipun dirinya berkali-kali kecewa pada Sandra karena lebih mementingkan karir daripada keluarganya.
Rosie berharap, suatu saat Sandra bisa berubah dan bisa menjadi istri dan menantu yang patuh dan mau menjaga nama baik keluarga besarnya. Namun, kini kesabaran wanita itu sudah habis. Apalagi, setelah Rosie melihat kenyataan yang terjadi saat ini.
Rosie sangat membenci perselingkuhan. Apa pun itu alasannya, dia tidak akan mentolerir. Wanita itu juga pasti dengan tegas akan menolak jika Sean harus menyandang suami yang mempunyai dua istri.
Pandangan Rosie beralih pada Sandra. Melihat menantunya itu justru semakin menambah masalah bukannya berubah menjadi baik, membuat Rosie mengubah keputusannya. Sudah cukup selama ini dia dan Ibrahim memberikan kesempatan pada Sean dan Sandra. Sudah bertahun-tahun, Rosie dan Ibrahim memberikan kesempatan pada Sean untuk mendidik istrinya.
Kini, dia sudah tidak tahan lagi. Apa yang dilakukan Sandra tidak bisa dimaafkan lagi. Kesalahan perempuan itu sudah sangat fatal dan tidak bisa lagi dimaafkan.
Rosie berbalik menatap Ibrahim yang saat ini berada di belakangnya. Berjaga-jaga agar sang istri bertindak melakukan sesuatu yang tidak terkendali.
Ibrahim mengangguk saat melihat Rosie yang menatapnya dengan kedua mata berkaca-kaca. Laki-laki itu mengusap bahu Rosie. Seolah memberi izin pada wanita yang dicintainya itu untuk melakukan sesuatu.
"Sandra." Rosie menatap Sandra yang masih terus menangis.
Perempuan yang sudah menjadi menantunya selama enam tahun itu mendongak. Tatapannya menunjukkan penyesalan dan juga permohonan. Berharap agar Rosie kembali menarik keputusannya. Tubuhnya bergetar saat melihat kemarahan sekaligus raut penyesalan ibu mertuanya.
"Berhentilah menjadi menantuku!"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1