Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 74 AIR MATA LUKA


__ADS_3

"Aku tidak akan menceraikanmu, Naya," ucap Sean, sesaat setelah Sandra keluar dari kamar Kanaya. Istri pertamanya itu meminta Sean menahan Kanaya untuk pergi.


Entah apa yang ada di pikiran Sandra, yang jelas, saat ini tidak mungkin dia membiarkan Kanaya pergi. Perempuan itu baru saja melahirkan, bahkan belum pulih benar.


Kanaya boleh pergi, tetapi nanti. Saat kondisi perempuan itu sudah membaik. Bayi laki-laki yang dilahirkan Kanaya pun masih butuh Asi. Sandra merasa tidak tega seandainya bayi mungil yang akan menjadi anaknya itu meminum susu formula, sementara usianya masih hitungan hari.


Selama Kanaya hamil, Sandra seringkali membaca artikel tentang seputar ibu hamil dan menyusui. Jadi, Sandra sangat tahu kalau Asi itu sangat penting.


Oleh karena itu, Sandra ingin Sean menahan Kanaya. Dia ingin Kanaya tinggal sebentar lagi bersama mereka.


"Dia masih butuh kamu." Sean menunjuk ke arah bayi mungil yang masih terlelap di dalam boks.


"Dia masih perlu Asi dari kamu, Naya. Apa kamu lupa? Kita bahkan belum memberinya nama." Sean kembali berucap saat melihat Kanaya hanya terdiam.


Perempuan itu menutup wajah dengan kedua tangannya. Bahunya berguncang seiring tangis yang akhirnya pecah setelah ia berusaha menahannya sedari tadi.


Sean mendekati perempuan yang baru beberapa hari lalu melahirkan putranya itu, kemudian memeluknya dengan erat.


"Kalau kamu memang tidak ingin tinggal bersama kami, paling tidak bertahanlah untuk berapa waktu lagi. Dia sangat membutuhkanmu." Lagi-lagi, kedua mata Sean menatap putranya yang masih tertidur pulas.


Kanaya masih terisak, tak berminat untuk menjawab ucapan Sean. Dalam hati Kanaya, seandainya dia bisa memilih, dirinya jelas akan memilih tetap tinggal bersama putranya.


Biar bagaimanapun, apa yang dikatakan Sean memang benar. Akan tetapi, semakin lama dia melihat putranya, semakin berat buat Kanaya untuk melepaskan anaknya.


"Kalau aku bisa memilih, aku juga akan memilih tetap bersama dia. Aku tidak ingin memberikan dia pada kalian." Ucapan Kanaya sangat menohok hati Sean.

__ADS_1


"Maafkan aku dan Sandra. Aku tahu ini sangat berat untukmu. Tapi bukankah, kamu sendiri yang telah membuat kesepakatan bersama? Aku hanya mengikuti rencana kalian." Sean menatap wajah pucat Kanaya.


Perempuan itu terlihat sangat kacau. Rambutnya berantakan. Kedua matanya sembab. Wajahnya terlihat pucat.


"Seandainya aku tidak membutuhkan uang untuk biaya operasi ayah, aku juga tidak akan membuat kesepakatan dengan Sandra." Kanaya menatap pria yang masih sah menjadi suaminya itu dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.


"Sekarang aku bahkan takut untuk mengabari mereka. Aku takut terjadi sesuatu pada ayah, jika tahu kalau cucunya akan diambil oleh kalian."


"Aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada ayah, Sean. Ayah pasti akan sangat kecewa." Kanaya kembali menangis membuat Sean pun kembali merengkuh tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku. Aku juga sangat berat melepaskan kamu. Aku ingin kamu tetap tinggal di sini. Aku mencintaimu, Naya. Aku tidak ingin kamu pergi." Sean mempererat pelukannya.


"Kenapa aku harus mengalami semua ini, Sean? Apa aku memang tidak pantas untuk bahagia?"


"Siapa bilang kamu tidak pantas bahagia? Semua orang yang hidup di dunia ini pantas bahagia. Termasuk kamu." Sean menatap Kanaya dengan hari bergetar. Hatinya sakit melihat perempuan itu menangis di depannya.


"Dulu, kamu meninggalkan aku. Tidak pernah mengabariku dan tidak pernah mencariku. Lalu, tiba-tiba takdir mempertemukan aku denganmu dengan status yang berbeda." Kanaya menatap Sean air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Kamu dan Sandra kemudian menjebakku masuk ke dalam dunia kalian, menjadi orang ketiga dari hubungan kalian. Apa kamu tahu bagaimana perasaanku selama ini Sean? Apa kamu tahu apa yang aku rasakan selama ini?"


Sean terdiam, mencoba mencerna semua ucapan yang keluar dari mulut perempuan yang sangat dicintainya itu.


Seandainya kamu tahu selama ini aku selalu menekan kesakitanku sendiri karena kamu. Aku sangat mencintaimu Sean. Akan tetapi, aku tidak mungkin mengkhianati persahabatanku dengan Sandra.


Katakanlah Kanaya memang bodoh. Sudah dimanfaatkan oleh Sandra, tetapi, dia masih baik-baik saja. Rasa sayang Kanaya terhadap Sandra, mengalahkan kekecewaan yang ia rasakan akibat perbuatan sahabatnya itu.

__ADS_1


Kanaya sangat tahu, jika Sandra pun merasakan perasaan yang sama seperti dirinya. Perasaan cemburu, perasaan sakit hati tatkala melihat Sean tampak begitu perhatian padanya.


Sandra cemburu saat Sean sedang memperhatikannya. Kanaya bahkan seringkali melihatnya menangis. Perempuan itu berpura-pura tegar, padahal hatinya pun sama-sama sakit seperti Kanaya.


Sandra sebenarnya adalah wanita yang baik. Hanya saja, obsesinya menjadi seorang model membuat Sandra mampu melakukan berbagai cara untuk menggapai semua impiannya.


"Jadi maksud kamu, dulu kamu menungguku? Kamu juga punya perasaan yang sama padaku?" Sean menatap Kanaya dengan kedua mata berbinar.


"Itu dulu! Sudah lama sekali. Sebelum kamu menghilang tanpa kabar. Kini, aku–"


"Jangan bohong, Naya! Aku yakin kamu pasti masih punya perasaan yang sama denganku," potong Sean. Hatinya berdenyut nyeri mendengar perempuan di depannya itu melupakannya.


"Kamu terlalu percaya diri Sean. Semua yang aku rasakan padamu sudah–"


"Kamu bohong, Naya! Aku tahu kamu pasti masih–"


"Semuanya sudah menjadi masa lalu, Sean! Kalau pun saat ini aku punya perasaan yang sama denganmu, keputusanku tetap tidak akan berubah. Sandra adalah sahabatku, aku tidak akan mungkin mengkhianatinya!"


Biarlah luka itu aku simpan sendiri. Aku memang mencintaimu. Tetapi, Sandra juga sangat mencintaimu. Aku tidak mungkin merebut posisi Sandra di hati kamu. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu juga sangat mencintai Sandra?


Kanaya masih menangis menatap pria tampan di depannya.


*Hari ini aku ingin menangis sepuasnya. Melupakan semua rasa sakit yang kurasakan selama ini.


BERSAMBUNG* ....

__ADS_1


__ADS_2