Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 32 BERANGKAT KE SURABAYA


__ADS_3

Setelah puas bermain di atas ranjang dengan Sandra, Sean memutuskan kembali ke hotel karena pagi-pagi sekali laki-laki itu harus berangkat ke Surabaya.


Pria itu menarik koper yang sudah dipersiapkan oleh Sandra. Istri pertamanya itu menyiapkan segala keperluan Sean saat sampai di kota pahlawan.


"Aku berangkat, Sayang ...." Sean mengecup lembut kening Sandra. Sementara Sandra mengangguk.


"Aku akan menyusulmu ke sana beberapa hari lagi." Sandra tersenyum cantik. Perempuan itu sangat senang karena ternyata ia juga ada pekerjaan yang mengharuskannya pergi ke Surabaya.


"Jangan lupa mampir ke hotel. Pamitan sama Kanaya." Sandra mengingatkan.


"Iya, Sayang, aku langsung ke hotel sekarang." Sean mengecup bibir Sandra. Sungguh berat rasanya berpisah dengan istri cantiknya itu.


Meskipun dirinya sudah menghabiskan malam dengan Sandra, tetapi entah mengapa, Sean tidak pernah merasa puas menyentuh tubuh istrinya itu.


Sean masuk ke dalam mobil. Pria itu melajukan mobilnya ke arah hotel. Laki-laki itu ingin menemui Kanaya, istri keduanya.


Sean ingin memenuhi janjinya pada istri keduanya itu untuk menemuinya sebelum pergi ke Surabaya.


Sean sampai di depan pintu kamar hotel. Saat dirinya masuk, ia melihat Kanaya masih tertidur di ranjang. Perempuan itu bahkan terlihat sangat pulas tanpa menyadari kedatangannya.


Sean menatap wajah cantik itu dengan seksama. Netranya memindai wajah perempuan yang telah dinikahinya secara siri atas kemauan Sandra.


Perlahan, Sean mengusap pipi Kanaya.


Dia terlihat begitu cantik saat tertidur.


Sean tersenyum, pria itu melirik ke arah jam tangannya. Masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum ia pergi ke Surabaya.


Pria berwajah tampan itu naik ke atas tempat tidur. Memeluk tubuh Kanaya dari belakang. Tanpa sadar, Sean memejamkan matanya. Ikut tertidur sambil memeluk Kanaya, istri yang dinikahinya tanpa cinta.


***

__ADS_1


Kanaya menggeliatkan tubuhnya saat merasakan sesuatu menerpa kulitnya. Kedua matanya membola saat melihat apa yang terjadi.


Sean, laki-laki yang seharian kemarin itu membuatnya menangis, saat ini sedang menyusuri setiap inci tubuhnya dengan indera perasanya. Entah sejak kapan, semua baju yang melekat di tubuhnya itu sudah terbuka dengan sempurna.


Saat Kanaya ingin protes, Sean langsung membungkam mulut Kanaya dengan bibirnya.


***


Kanaya membantu Sean memakaikan kemeja yang sudah dipersiapkannya saat laki-laki itu baru selesai mandi.


"Gara-gara kamu, aku jadi terlambat," ucap Sean tanpa merasa bersalah.


Kanaya menatap tajam ke arah pria yang baru saja menikmati tubuhnya itu dengan kesal.


"Jelas-jelas kamu yang mulai, tapi kamu malah menyalahkan aku?" Kanaya baru saja selesai mengancing kemeja Sean. Sementara, pria itu buru-buru merapikannya dengan memasukkan kemeja itu ke dalam celana. Mulutnya masih menggerutu karena ia terlambat dari jadwal yang sudah ditentukan.


"Aku sudah menyuruhmu untuk berhenti, tapi kamu tak mendengarkan aku."


"Ya sudah, kalau gitu ngapain kamu kesal dan terus menyalahkan aku?" Kanaya ikut merasa kesal mendengar gerutuan Sean.


"Karena kamu memang salah!"


"Seandainya tubuhmu tidak terlihat begitu menggoda, aku juga pasti tidak akan menggaulimu sampai berulang-ulang." Sean hanya bisa melanjutkan kata-katanya dalam hati.


Ia merutuki dirinya yang begitu mudahnya takluk di depan Kanaya. Sean juga merasa heran kenapa staminanya begitu kuat meskipun sebelumnya ia sudah terlebih dulu melayani hasrat Sandra hingga perempuan itu ambruk berkali-kali.


Hasratnya seolah tidak pernah padam di depan kedua perempuan yang sama-sama menyandang status sebagai istrinya itu.


Kenapa saat menyentuh dirinya aku tidak bisa berhenti, sama seperti saat aku menyentuh Sandra?


Sean tidak pernah habis pikir dengan dirinya sendiri. Saat menyentuh Kanaya, tubuhnya langsung merespon dengan cepat, sama seperti saat dirinya sedang menyentuh Sandra.

__ADS_1


Awalnya, Sean akan merasa bersalah dengan Sandra saat menyentuh Kanaya. Namun, kini perasaan itu ia buang jauh-jauh. Apalagi, saat istri pertamanya itu dengan terang-terangan menyuruhnya berlaku adil pada Kanaya.


Akan tetapi, meskipun begitu, Sean tidak bisa bersikap lembut lewat kata-kata terhadap Kanaya. Saat memperlakukan istri keduanya itu di atas ranjang, Sean akan melakukannya dengan lembut.


Namun, saat mengatakan sesuatu pada Kanaya, Sean tidak bisa berbicara dengan lembut. Entah mengapa, Sean seolah menginginkan jarak antara dirinya dengan Kanaya.


Sean tidak ingin Kanaya salah paham dengan sikapnya. Waktu setahun bukanlah waktu yang sebentar. Apalagi, mereka berdua akan sering bertemu dan berakhir dengan adegan panas di atas ranjang.


Tidak akan menutup kemungkinan, jika suatu saat Kanaya akan merasa bergantung padanya. Bukan hanya itu, bisa saja suatu saat Kanaya juga akan jatuh cinta padanya bukan?


Dalam hati Sean yang paling dalam, sebenarnya apa yang ia khawatirkan bukan hanya berlaku untuk Kanaya saja, tetapi juga untuk ... dirinya!


Setelah rapi, Sean bergegas keluar dari kamar hotel. Namun, sebelum keluar, pria itu menatap Kanaya dengan dalam. Memindai wajah cantik itu sebelum ia pergi untuk waktu yang cukup lama.


Pekerjaan Sean di Surabaya mungkin akan memakan waktu sebulan bahkan lebih. Tergantung situasi di sana. Seandainya perusahaan kembali berjalan dengan normal, Sean akan kembali lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan.


"Aku berangkat." Sean mengusap pipi Kanaya. Perempuan itu mengangguk sebagai jawaban.


Sean mengecup kening Kanaya cukup lama kemudian memeluknya.


"Katakan pada ayah dan ibumu kalau aku tidak bisa mengantarkan kamu pulang karena aku terburu-buru."


Kanaya kembali mengangguk mendengar ucapan Sean. Tak mendapat jawaban dari Kanaya, Sean kemudian meraih bibir merah tanpa lipstik itu dengan bibirnya.


"Jika ada waktu untuk pulang, aku akan pulang menemuimu. Aku ingin Sean junior segera tumbuh di sini." Sean mengusap perut rata Kanaya yang hanya tertutup bathrobe.


Sean kembali mencium bibir Kanaya, sebelum akhirnya dia benar-benar pergi meninggalkan kamar hotel itu.


"Hati-hati." Kanaya melambaikan tangannya, sementara Sean hanya mengangguk sambil mengulas senyum.


Senyum yang membuat hati Kanaya berdebar-debar.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2