Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 96 MEMBAWA NATHAN KE RUMAH


__ADS_3

Kanaya bersiap pulang ke rumahnya. Setelah pembicaraannya dengan kedua orang tua Sean, perempuan itu tetap bersikeras pulang ke rumahnya. Bukannya apa-apa, saat ini, situasi rumah tangga Kanaya dengan Sandra sedang memanas, tidak mungkin dia terus berada di sana, apalagi, sampai menerima tawaran mamanya Sean untuk tetap tinggal dan menjadi istri Sean.


Meskipun Kanaya sangat mencintai Sean, ia tidak mau mengambil kesempatan di saat hubungan Sandra dan Sean sedang tidak baik. Kanaya sangat tahu, Sean dan keluarganya merasa sangat kecewa dengan perbuatan Sandra.


Akan tetapi, bukankah Sandra sudah menyesali perbuatannya? Kanaya yakin, setelah Sandra minta maaf, hubungan mereka berdua pasti akan kembali seperti semula. Setelah itu, lalu dirinya?


Posisi Kanaya tetap hanya akan menjadi ibu dari putra yang dilahirkannya. Walaupun Sean seringkali mengatakan kalau dia juga mencintainya, tetapi, Kanaya tidak bisa percaya begitu saja. Biar bagaimanapun, masih ada Sandra yang menguasai hati Sean. Jadi, tidak akan mungkin tiba-tiba Sean mencintainya.


Lagipula, apa pria itu bisa jujur mengakui di depan Sandra dan kedua orang tuanya kalau dia mencintainya?


Kanaya tidak yakin, kalau itu akan terjadi. Secara, dari awal Sean selalu mengatakan kalau di dunia ini yang dia cintai hanya Sandra. Tidak ada wanita manapun selain Sandra. Bahkan, meskipun setiap hari mereka bercinta, tetapi, tetap tidak akan mengubah kalau wanita yang dicintai oleh Sean adalah Sandra.


Jadi, bagaimana mungkin Rosie berpikir kalau Nathan lahir dengan penuh cinta? Mungkin benar, bayi mungil itu lahir dengan cinta, tetapi hanya cinta sepihak saja. Cinta Kanaya pada Sean yang sudah lama tersimpan bertahun-tahun lamanya.


Terus terang saja, Kanaya memang menggunakan semua cinta yang dia punya saat ia melakukan kewajiban bersama Sean. Kewajiban yang Sean katakan sebagai tugas dari istri pertamanya.


Meniduri Kanaya hingga hamil!


"Mama sudah siapkan kamar Nathan di rumah kamu. Orang-orang suruhan mama baru saja menyelesaikannya satu jam yang lalu." Suara Rosie membuat Kanaya yang baru saja menggendong Nathan dan menyusuinya menoleh ke arahnya.


Setelah perdebatan panjang mereka, Rosie akhirnya setuju dengan Kanaya. Kedua mertuanya itu setuju Kanaya membawa Nathan ke rumahnya.

__ADS_1


Namun, dengan satu catatan, rumah itu harus aman dan nyaman untuk tuan muda kecil keluarga Ibrahim. Kanaya tersenyum senang. Dia merasa sangat bersyukur karena kedua orang itu mau menyetujui permintaannya membawa baby Nathan.


Pagi-pagi sekali, Rosie menyuruh orang-orang suruhannya untuk membersihkan rumah Kanaya. Bukan karena rumah Kanaya kotor, mereka hanya mengganti beberapa perabotan dan membuat kamar khusus yang akan ditempati baby Nathan.


"Terima kasih, Ma." Kanaya tersenyum. Atas keinginan Rosie, Kanaya memanggil Rosie dengan sebutan Mama Rosie. Begitupun dengan Ibrahim. Pria itu pun mengizinkan Kanaya memanggilnya papa.


Entah apa reaksi Sandra jika ia melihat kedua orang tua Sean begitu baik padanya. Kanaya yakin, sahabatnya itu pasti akan cemburu. Apalagi, kedua mertuanya itu saat ini sedang sangat kecewa dengan Sandra.


"Kamu temui Sean sebelum pergi. Dari kemarin dia tidak mau keluar kamar." Rosie menepuk bahu Kanaya. Perempuan paruh baya itu juga membelai pipi Nathan yang saat itu sedang menghisap ASI Kanaya dengan rakus.


"Nanti aku akan menemuinya, Ma. Setelah itu, aku langsung berangkat bawa Nathan," ucap Kanaya.


Rosie mengangguk, kemudian tersenyum pada perempuan yang menjadi ibu dari cucunya itu.


Kanaya menatap Rosie dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Terima kasih sudah menuruti keinginan aku membawa Nathan ke rumah, Ma. Aku harap Mama mengerti dan mau menerima keputusanku." Kanaya menatap Rosie dengan kedua mata berkaca-kaca. Tidak menyangka kalau Nyonya dan Tuan besar keluarga Ibrahim ternyata mau menuruti keinginannya.


"Mama yang harusnya berterima kasih karena sudah mengingatkan mama. Biar bagaimanapun, kita sama-sama perempuan. Tidak akan mudah bagi kita hidup satu atap dengan istri lain dari suami kita." Rosie menghela napas panjang.


"Sean adalah tipe pria yang sangat setia. Kalau bukan karena Sandra yang melakukan hal bodoh dengan menikahkan kamu dengan Sean, mama yakin, seumur hidup, laki-laki itu pasti akan setia pada Sandra."

__ADS_1


Kata-kata yang keluar dari mulut Rosie membuat sudut hati Kanaya berdenyut.


"Sayangnya, Sean terlalu buta. Sandra sudah melakukan banyak kesalahan, tetapi Sean selalu saja memaafkannya. Mama sudah seiring memeringati Sean, tapi ... kamu tahu sendiri Sean 'kan?"


"Keras kepala!" Mereka berucap bersamaan, kemudian tertawa.


Suara batuk yang disengaja dari luar pintu membuat Kanaya dan Rosie memalingkan wajah mereka ke arah pintu.


Sean melangkah maju mendekati Rosie dan Kanaya. Sehari semalam di dalam kamar sendirian, laki-laki itu akhirnya merasa bosan.


Sean memeluk sang mama, kemudian mencium pipi wanita itu. Setelah itu, pandangannya beralih pada wajah cantik Kanaya juga sang putra.


"Pagi, Sayang ...."


Bibir Sean mendarat pada kening Kanaya cukup lama. Pria itu memeluk pinggang istri keduanya. Memeluk wanita yang sedang menggendong buah hatinya dengan Nathan berada di tengah-tengah mereka berdua.


Bayi mungil itu terlihat sangat bersemangat menyedot ASI pada payudara Kanaya yang terlihat padat, menyembul dari bajunya. Sean menelan saliva. Kepalanya menunduk, menempelkan bibirnya pada pipi Nathan. Sementara, netranya melirik bagian tubuh Kanaya yang saat ini sedang dihisap baby Nathan secara rakus.


Ah! Tiba-tiba jiwa lelakinya bergejolak.


"Aku akan pulang ke rumah membawa Nathan."

__ADS_1


.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2