
Setelah tiga jam lebih, dua kendaraan itu akhirnya sampai di ibukota. Sesuai rencana, Sean mengantarkan Kanaya terlebih dahulu ke hotel.
Pria itu masuk ke dalam hotel bintang lima bersama dengan Kanaya, sementara Sandra menunggu mereka di dalam mobil.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Sandra terlebih dahulu menemui Kanaya. Perempuan yang berprofesi sebagai model cantik itu meminta maaf pada madunya karena tidak bisa mengajak sahabatnya itu mampir ke rumahnya.
Sean melarang Sandra membawa Kanaya demi keamanan rencana istrinya dan keamanan Sean sendiri yang takut khilaf dan akhirnya menerkam Kanaya di rumah yang ditempatinya dan Sandra.
Sean tidak ingin menyakiti hati Sandra jika Kanaya ikut dengannya ke rumah besar itu. Laki-laki itu sangat memikirkan perasaan Sandra tetapi dia tidak memikirkan perasaan Kanaya sama sekali.
Kanaya masuk ke dalam kamar diikuti oleh Sean. Pria berwajah tampan itu berjalan di belakang Kanaya sambil menarik koper milik istrinya.
Kanaya langsung merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Sementara itu, Sean menatap wanita itu dengan tatapan tak terbaca.
"Aku pergi dulu."
"Hmm ...." Kanaya menjawab dengan malas. Hatinya masih sangat kesal dengan Sean.
"Apa mulutmu tiba-tiba menjadi tidak berfungsi? Sampai-sampai kamu tidak bisa menyahuti ucapanku?" Sean merasa kesal.
Laki-laki itu ingin mendekati Kanaya, tetapi perempuan itu terlebih dahulu bangkit dari ranjang, membuat Sean mengurungkan niatnya.
"Pergilah! Temani Sandra. Nikmati waktu kalian berdua sebelum kamu berangkat ke Surabaya." Akhirnya, kata-kata itu keluar dari mulut Kanaya.
Meskipun hatinya sangat kesal pada Sean, tetapi Kanaya benar-benar tulus mengucapkan kata-kata itu.
Kanaya meraih tangan Sean kemudian menciumnya.
"Pergilah!" ucap Kanaya tanpa melihat ke arah Sean.
__ADS_1
"Kamu mengusirku?" Mendengar ucapan istri keduanya, entah mengapa Sean merasa sangat kesal.
Kanaya menghela napas berat.
"Kamu bilang akan pergi ke rumah Sandra bukan?"
"Jangan biarkan Sandra terlalu lama menunggumu di luar," lanjut Kanaya membuat Sean menelan kembali ucapannya. Kekesalannya langsung menghilang saat nama perempuan yang sangat dicintainya itu disebut oleh Kanaya.
"Aku akan menemuimu sebelum aku berangkat ke Surabaya." Sean menatap wajah cantik Kanaya yang terlihat lelah.
"Tidak perlu. Kamu temani Sandra saja. Dia lebih membutuhkan kamu dibanding aku." Kanaya naik ke atas ranjang tanpa menatap Sean yang menghembuskan napas panjang melihat tingkah Kanaya yang terkesan mengabaikannya.
Apa dia marah? Kenapa sikapnya berbeda sekali dengan saat berada di rumah itu?
Sean menatap Kanaya yang memunggunginya.
Kata-kata Sean membuat Kanaya yang sudah memejamkan mata tersenyum mencibir tanpa menoleh pada laki-laki itu.
"Kamu benar, aku adalah istrimu. Perempuan yang kalian bayar untuk melahirkan anak kalian dengan embel-embel pernikahan!" ucap Kanaya penuh penekanan.
Perempuan itu kembali memejamkan mata. Berusaha meredam rasa sakit yang mendera hatinya.
Sakit hati yang Kanaya rasakan bukan kerena ia cemburu karena Sean lebih memilih Sandra dibandingkan dengan dirinya. Kanaya sakit hati karena pria itu dengan tanpa perasaan mengucapkan kata-kata yang membuatnya sakit hati.
Sean terdiam mendengar ucapan Kanaya. Kata-kata yang keluar dari mulut istri keduanya itu mengingatkannya pada perdebatannya dengan Kanaya sebelum berangkat ke ibukota tadi pagi.
"Kamu marah dengan ucapanku tadi pagi?" Sean mendekati Kanaya.
"Untuk apa aku marah? Bukankah, semua yang kamu katakan itu adalah benar?" ucap Kanaya tanpa merubah posisinya.
__ADS_1
"Aku hanya mengingatkanmu kalau apa yang terjadi antara kita adalah simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan!" Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Sean.
"Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau dan kamu tinggal membayar dengan memenuhi apa yang aku dan Sandra inginkan!" lanjut Sean penuh penekanan.
Mendengar ucapan Sean, amarah Kanaya naik seketika. Wanita itu berbalik menatap suaminya.
"Kamu benar. Hubungan kita memang atas dasar saling menguntungkan!" Kanaya menatap tajam pria yang saat ini berada di depannya. Kedua tangannya terkepal menahan amarah.
Rasanya, ia ingin sekali memaki pria di depannya itu kalau dirinya juga sadar diri dan tidak akan pernah berharap lebih pada pria itu.
Kanaya memang mencintai Sean. Akan tetapi, perempuan itu sudah memutuskan untuk mengubur dalam-dalam perasaan cintanya pada Sean.
Meskipun saat ini laki-laki itu adalah suaminya, tetapi Kanaya sangat sadar, jika perasaan yang ia miliki saat ini adalah salah. Kanaya tidak akan mungkin mengkhianati Sandra dengan membiarkan rasa cintanya pada suami sahabatnya itu terus berkembang.
"Kamu tidak perlu terus mengingatkan aku tentang statusku, Sean! Apa kamu tahu? Jika aku bisa memilih, aku tidak akan pernah memenuhi permintaan Sandra untuk menikah denganmu!" Kedua mata Kanaya masih menatap tajam ke arah pria yang baru satu minggu ini menjadi suaminya itu.
Apa dia pikir, aku sangat bahagia dengan pernikahan ini?
Pandangan Kanaya masih memindai wajah tampan Sean. Napasnya naik turun seiring amarah yang perlahan menguasai hatinya.
"Aku hanya ingin kamu sadar dan mengerti, Kanaya. Jangan pernah berpikir, kalau aku akan mengunakan hati saat bersama denganmu."
"Sampai kapan pun, aku hanya akan mencintai Sandra. Tidak ada perempuan lain selain dia. Meskipun beberapa hari ini aku sering bercinta denganmu dan suatu saat akan mempunyai darah daging yang bersemayam di rahimmu, aku akan tetap mencintai Sandra!"
"Baik sekarang, atau pun nanti, aku hanya akan mencintai dia!"
BERSAMBUNG ....
Terserah padamu lah, Sean. Jika suatu saat kamu ternyata jauh cinta sama Kanaya, jangan harap Otor akan mempermudah jalanmu untuk mendapatkan Kanaya!
__ADS_1