Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 97 PENYESALAN SANDRA


__ADS_3

Setelah perdebatan yang panjang, Sean akhirnya ikut ke rumah Kanaya. Meskipun Kanaya sudah berjuang keras agar laki-laki itu tidak ikut ke rumahnya, tetapi Sean tetap memaksa.


Pria berwajah tampan yang sedang patah hati itu bahkan mengancam, kalau dia tidak akan mengizinkan Kanaya membawa Nathan pergi jika dia tidak ikut serta.


"Benar-benar menyebalkan! Kenapa harus ada pria tidak tahu diri seperti Sean di dunia ini?" Kanaya menggerutu dalam hati.


Kanaya jelas-jelas sedang menghindari Sean, tetapi, pria itu malah menempel seperti perangko. Setelah mengusir sandra dari rumah kemarin, Sean mengurung diri seharian di kamar. Pria itu bahkan melewatkan jam makan.


Namun, pagi ini pria itu justru terlihat bersemangat saat mengetahui kalau dirinya akan pergi ke rumah orang tua Kanaya sambil membawa Nathan.


"Aku ikut. Kalau aku tidak ikut, kamu tidak boleh membawa Nathan." Sean kembali mengucapkan kalimat itu.


Kanaya memberengut kesal. Perempuan cantik itu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Sean.


Seharusnya saat ini Sean menyelesaikan masalahnya dengan Sandra, bukannya malah memilih ikut pergi dengannya. Apalagi, alasan Sean adalah ingin menenangkan diri.


Menenangkan diri dari masalah yang sedang menimpa antara dia dan Sandra.


"Seharusnya kamu menyelesaikan masalahmu dengan Sandra terlebih dahulu, bukannya malah mengikutiku." Kanaya berucap dengan nada kesal.


"Justru karena aku ingin menyelesaikan masalahku dengan Sandra, makanya aku diam. Aku ingin Sandra sadar, jika apa yang dia lakukan selama ini adalah salah." Sean menjelaskan dengan suara pelan.


"Apa maksudmu dengan membuatnya sadar? Kalau kamu ingin membuatnya sadar, seharusnya saat ini kamu berada di sampingnya, menjelaskan padanya kalau semua yang dia lakukan itu salah. Aku yakin, kalau saat ini pasti dia sedang membutuhkanmu."


"Sandra mencintaimu, Sean. Seperti kamu yang selalu mengatakan kalau kamu sangat mencintainya," ucap Kanaya, sambil menatap pria yang saat ini duduk di sampingnya.


Laki-laki itu masih memaksa ikut.


"Aku ingin menikmati hari ini bersamamu dan juga putra kita. Apa aku salah?" Sean menatap wajah cantik Kanaya. Sungguh! Sean memang ingin menikmati hari bersama dengan Kanaya dan Nathan.

__ADS_1


Memikirkan Sandra hanya membuat Sean sakit kepala. Sean sungguh kecewa karena wanita yang masih menjadi istri pertamanya lebih mementingkan karirnya.


"Kanaya." Suara seseorang yang berdiri di belakang mereka terdengar.


Kanaya dan Sean sama-sama menoleh ke belakang.


"Mama sudah siap?" Rosie mengangguk. Awalnya ia tidak ingin ikut ke rumah Kanaya, tetapi, saat mendengar kalau Sean akan ikut, perempuan paruh baya itu tiba-tiba bersemangat ingin ikut dengan Kanaya.


"Mama kelihatannya sangat bahagia." Sean menatap wajah sang mama yang masih terlihat cantik di usianya yang menginjak hampir lima puluh tahun.


"Iya, dong, mama bahagia karena sekarang mama sudah punya cucu. Apalagi, cucu mama ganteng banget." Rosie mendekati Kanaya yang menggendong Nathan, kemudian menciumi wajah cucunya yang sangat menggemaskan.


"Ayo kita berangkat, Nay," ajak Rosie. Mereka berdua masuk ke dalam mobil yang rencananya akan dikendarai oleh Sean.


Namun, belum sempat Sean masuk ke dalam mobil, seseorang yang muncul dari depan pintu gerbang memanggil Sean.


"Sandra."


"Sayang, aku merindukanmu." Sandra memeluk erat tubuh laki-laki yang masih menjadi suaminya itu.


"Aku merindukanmu. Aku tahu, aku salah. Maafkan aku. Kamu tahu 'kan, kalau semua yang aku lakukan karena aku sangat mencintaimu? Aku tidak akan menyuruhmu menikah dengan Kanaya kalau mama tidak mengancamku menikahkan kamu dengan perempuan lain, Sean," ucap Sandra panjang lebar. Model cantik itu sungguh menyesali kebodohannya yang dengan sengaja menikahkan Sean dengan sahabatnya.


"Aku menyesal, Sean. Aku sungguh-sungguh sangat menyesal." Sandra kembali menangis. Kedua tangannya masih memeluk Sean dengan erat.


Sementara itu, di dalam mobil, Rosie terlihat sangat kesal melihat kedatangan Sandra yang langsung memeluk Sean. Sedangkan Kanaya justru berdoa, semoga Sean dan Sandra bisa segera menyelesaikan masalahnya dengan Sandra.


Biar bagaimanapun, mereka saling mencintai. Seandainya rasa cinta di antara mereka masih tersisa, Kanaya sangat yakin, mereka berdua pasti akan kembali berbaikan.


Kanaya menghela napas panjang. Menghalau rasa sakit yang mengalir ke hatinya. Berada di antara dua orang yang saling mencintai dengan perasaan cinta yang bahkan mengalahkan gunung saking besarnya, membuat dirinya seringkali sakit hati.

__ADS_1


Namun, demi persahabatannya dengan Sandra, Kanaya rela melakukannya. Ia tidak mau semakin terluka jika terus-menerus di antara mereka.


"Kita berangkat duluan saja, Nay. Kelamaan nungguin Sean. Nanti keburu Nathan rewel." Suara Rosie menyadarkan lamunan Kanaya. Perempuan cantik itu menatap Sean dan Sandra yang masih berpelukan.


"Terserah Mama saja."


***


"Aku benar-benar sangat menyesal, Sean. Aku mohon, berikan aku kesempatan. Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku mencintaimu, Sean." Sandra kembali menangis tersedu.


Kedua tangannya masih memeluk Sean dengan erat, seolah takut Sean akan benar-benar meninggalkannya.


Kemarin, saat Sean mengusirnya, dunia Sandra seolah hancur. Perempuan yang berprofesi sebagai model itu sangat ketakutan seandainya Sean benar-benar meninggalkannya.


"Aku mencintaimu. Aku tidak ingin berpisah denganmu, apalagi sampai bercerai denganmu, Sean. Aku sungguh-sungguh tidak ingin kehilangan kamu." Suara isak tangis Sandra masih terdengar.


Tubuhnya masih menempel erat pada tubuh Sean. Namun, pria di hadapannya itu masih terdiam seperti patung. Sean mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut wanita yang bertahun-tahun menemaninya.


"Menyesal? Benarkah?" Suara Sean terdengar dingin.


"Aku bahkan masih ingat perkataanmu kemarin." Sean mencibir.


"Dengar, Sandra! Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku tidak peduli. Tapi ingat, sebaiknya kamu jangan menggangguku lagi!" Sean melirik ke arah mobil yang ditumpangi oleh Kanaya.


"Sean–"


"Penyesalan kamu sudah terlambat, Sandra! Sejak kamu memutuskan kembali menerima pekerjaan tanpa seizinku, dan berniat meninggalkan baby Nathan demi karirmu, aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang kamu lakukan!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2