Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 92 TANGISAN SANDRA


__ADS_3

Kanaya terperanjat mendengar ucapan Sean. Begitupun Sandra yang langsung histeris. Perempuan itu sungguh tidak menyangka kalau Sean menyetujui permintaan Rosie untuk berpisah dengannya.


Sean pergi meninggalkan Sandra yang terus menangis. Sementara itu, Rosie dan Ibrahim mendekati Kanaya dan mengambil Nathan dari gendongan Kanaya.


Sepasang suami istri itu kemudian meninggalkan kamar Nathan setelah memberikan senyuman pada Kanaya, tanpa memedulikan Sandra yang terus menangis pilu.


Kanaya mendekati sahabat baiknya itu kemudian memeluknya. Membiarkan model cantik itu menangis, menumpahkan segala kesedihannya.


Cukup lama mereka saling berpelukan. Kanaya mengusap rambut sahabatnya, berharap, dengan begitu Sandra bisa merasa sedikit tenang.


"Aku hancur, Nay, hidupku sudah hancur sekarang. Aku tidak menyangka kalau Sean akan meninggalkan aku." Sandra menangis tersedu.


"Tenanglah! Aku yakin, saat ini Sean hanya sedang marah saja. Nanti, kalau marahnya sudah mereda, keadaan kalian pasti akan kembali baik-baik saja. Bukankah Sean sangat mencintaimu?" Kanaya mencoba menenangkan, meskipun hatinya berdenyut sakit saat mengatakan kalimat itu.


"Sean sangat marah, Nay, aku tidak pernah melihat dia semarah ini sama aku. Aku tidak yakin kalau kali ini dia akan memaafkan aku." Sandra kembali berucap di tengah isak tangisnya.


Kanaya terdiam mendengar ucapan Sandra. Perempuan itu membiarkan sahabatnya itu terus menangis. Dia tahu, Sandra saat ini pasti merasa shock saat mendengar keputusan Sean yang mengatakan akan menuruti keinginan ibunya untuk berpisah dengan Sandra.


"Aku tidak mau berpisah dengan Sean, aku tidak mau, Nay. Hanya dia satu-satunya pria yang sangat mengerti diriku. Aku mencintainya." Sandra semakin terisak. Apalagi, saat mengingat kalau Sean lebih memilih menuruti keinginan Rosie.


"Aku tidak ingin kehilangan dia, Nay. Tolong bicara pada Sean agar dia membatalkan niatnya untuk meninggalkan aku. Aku mohon, Naya." Sandra menangis semakin kencang.

__ADS_1


Tidak! Dia tidak mau kehilangan Sean. Sean adalah pria yang sangat dicintainya. Pria itu adalah pria di balik kesuksesan dirinya. Kalau tiba-tiba Sean meninggalkan dirinya, entah bagaimana nanti nasibnya.


"Dari awal aku sudah menduga kalau semua ini cepat atau lambat pasti akan terjadi. Saat kedua orang tua Sean mengetahui rahasia mereka, mertuanya itu pasti akan sangat marah. Apalagi, mereka berdua sudah sangat menginginkan cucu," batin Kanaya.


"Saat ini kamu sedang menuai hasil perbuatanmu. Seandainya dulu kamu mau menuruti ucapan Sean, aku yakin, saat ini kamu pasti bahagia, begitupun dengan aku." Kanaya kembali berucap dalam hati.


Perempuan itu menghela napas panjang sambil terus memeluk Sandra yang masih terus menangis. Kanaya tidak tahu apa dia harus merasa senang atau sedih, yang jelas, dia berharap, sahabatnya ini sadar,. kalau apa yang dia lakukan selama ini adalah salah.


Mengorbankan keluarga yang jelas-jelas mencintainya hanya demi karir. Sandra adalah wanita terbodoh yang Kanaya kenal. Jika saja bisa, rasanya ia ingin sekali memukul kepala Sandra agar perempuan itu sadar. Mengorbankan laki-laki sebaik Sean dan juga mertua yang menyayanginya hanya demi karir?


Seandainya Kanaya jadi Sandra, ia pasti akan lebih memilih menjadi istri yang senantiasa memanjakan suaminya. Menunggu pria itu pulang dari kantor, memasak dan menghabiskan waktu bersama untuk melepaskan lelah.


Kanaya mencibir saat tiba-tiba bayangan Sean mengungkapkan cintanya kembali terlintas. Namun, detik berikutnya bayangan itu berganti dengan raut wajah kecewa pria itu saat menyadari kalau Sandra ternyata lebih memilih karir dibandingkan dirinya dan Nathan.


Kanaya kembali menghembuskan napas panjang. Berada di antara kedua pasangan suami istri yang saling mencintai dan menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka adalah sesuatu yang membuatnya merasa tertekan.


Selama setahun ini, Kanaya sudah lelah. Sudah cukup Kanaya merasakan sakit hati selama dirinya menikah dengan Sean dan menjadi madu dari sahabatnya sendiri. Kini, Kanaya tidak lagi ingin berurusan dengan mereka.


Kejadian hari ini memberikan banyak pelajaran untuk Kanaya. Sebuah kebohongan, serapat mungkin kamu menyimpannya, tetap saja, suatu saat pasti akan terbongkar juga.


Sama seperti apa yang dirasakan oleh Sandra saat ini.

__ADS_1


***


"Kita harus segera menikahkan Sean dengan perempuan itu, Pa. Setelah Sean bercerai dengan Sandra, aku ingin Sean segera menikahi ibunya Nathan," ucap Rosie sambil menggendong baby Nathan.


Ibrahim yang mendengarnya hanya mengangguk tak berkomentar.


"Aku sungguh tidak menyangka kalau Sandra berani membohongi kita. Aku sungguh sangat kesal!" Rosie kembali mengungkapkan kekesalannya.


"Sudahlah! Kamu jangan marah-marah terus. Pikirkan kesehatanmu." Ibrahim mengingatkan. Rosie menghela napas panjang.


"Menurutmu, apa perempuan yang menjadi ibunya Nathan itu adalah perempuan baik-baik?" Rosie menatap Ibrahim. Meminta pendapat suaminya tentang Kanaya.


"Aku akan menyuruh Heru untuk menyelidikinya. Papa juga merasa penasaran pada perempuan itu." Rosie mengangguk mendengar jawaban suaminya.


"Menurut Papa, apa Sean benar-benar akan meninggalkan Sandra? Papa tahu sendiri bukan, kalau Sean sangat mencintainya?"


"Entahlah, Ma. Kita lihat saja nanti. Bukankah dia sendiri yang mengatakan kalau dia setuju meninggalkan Sandra?"


"Aku tidak yakin." Rosie mengembuskan napas panjang. Bibirnya tertarik membentuk senyuman saat melihat baby Nathan yang tersenyum padanya.


"Aku sungguh bahagia dengan kehadiran Nathan. Aku juga bersyukur, akhirnya putra kita berhasil mempunyai pewaris, meskipun bukan terlahir dari rahim Sandra."

__ADS_1


Ibrahim mengangguk membenarkan ucapan istrinya. Melihat bayi mungil itu mengingatkan Ibrahim pada saat Rosie melahirkan Sean dulu.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2