Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 47 AKU TAKUT KEHILANGAN SEAN


__ADS_3

"Naya ...."


Sandra kehilangan kata-kata. Semua ucapan yang keluar dari mulut Kanaya langsung menampar hatinya.


"Maafkan aku, Nay, aku–"


"Tidak perlu meminta maaf. Kamu tidak salah, Sandra. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu sudah menolong ayahku. Kalau bukan karena kamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi saat itu."


Mendengar ucapan Kanaya, rasa bersalah Sandra semakin besar.


"Naya, Maaf! Maafkan aku karena aku begitu egois memanfaatkan kesulitanmu untuk memenuhi keinginanku. Maaf!" Sandra terisak di ujung telepon.


Sebenarnya, Sandra adalah orang baik. Perempuan itu juga bukanlah orang yang sombong. Model cantik itu juga suka menolong orang lain. Akan tetapi, karena ambisinya, perempuan itu berubah.


Bujukan sang manager yang selalu mengomporinya kalau dia bisa sukses dan meraih semua impiannya dengan mudah membuat Sandra lupa.


Dia lupa pada kodratnya sebagai wanita dan malah memilih mengorbankan suami tercintanya demi karir dengan alasan yang tidak masuk akal.


Tidak ingin melahirkan karena takut bentuk tubuhnya akan jelek setelah dirinya mempunyai hamil dan mempunyai anak.


Padahal, kalau saja Sandra bisa berpikir jernih dan tidak berpikiran sempit, model cantik itu pasti bisa melihat beberapa model dan artis terkenal lainnya yang tetap bertubuh seksi dan ideal meskipun mereka sudah pernah melahirkan dan mempunyai beberapa orang anak.


Banyak metode untuk menurunkan berat badan. Di jaman sekarang, asalkan ada uang, semuanya akan mudah. Apalagi Sandra, penghasilannya sebagai model sudah membuatnya berlimpahan uang, belum lagi uang dari Sean yang jumlahnya bahkan lebih dari cukup.

__ADS_1


Sebagai kepala rumah tangga, meskipun Sandra mempunyai penghasilan sendiri, Sean tetap memberikan nafkah untuk istrinya. Tidak tanggung-tanggung, Sean bahkan memberikan ratusan juta perbulan untuk uang belanja keperluan rumah tangga pada Sandra.


Seandainya saja Sandra tidak terbujuk rayuan Maya, mungkin saat ini dirinya baik-baik saja. Dia tidak akan merasa resah dan gelisah karena memikirkan Sean dan Kanaya.


Hampir setiap malam, Sandra tidak bisa tidur karena memikirkan Sean. Ia takut kalau Sean akan berpaling darinya dan lebih memilih Kanaya. Apalagi, saat dia tahu kalau Kanaya hamil.


Rasa sakit menjalar ke ruang hatinya. Semalaman Sandra tidak bisa tidur. Perempuan itu hanya menangis sedih. Merasa takut kehilangan suaminya.


Namun, lagi-lagi Maya menghiburnya dan meyakinkan Sandra kalau Sean tidak akan pernah berpaling darinya. Sang manager sangat yakin kalau Sean akan tetap setia meskipun dia sudah tidur dan akhirnya memiliki anak dengan sahabatnya.


Maya juga terus meyakinkan Sandra kalau semua rencananya pasti akan berhasil. Setelah itu, Sandra akan hidup bahagia bersama Sean dan juga anak yang dilahirkan Kanaya. Dengan begitu, sang mertua tidak lagi ikut campur kehidupannya karena keinginan mereka terpenuhi.


"Kenapa kamu menangis Sandra? Bukankah, seharusnya kamu merasa senang dengan kehamilanku?" Kanaya merasa heran mendengar tangisan Sandra.


"Tapi apa Sandra?"


"Aku takut kehilangan Sean. Aku takut Sean lebih memilihmu dari pada aku karena sekarang kamu sedang hamil. Aku takut–"


"Sandra! Apa kamu sadar dengan ucapanmu?" ucap Kanaya kesal.


Sementara, Sandra terus terisak mendengar ucapan Kanaya. Ia tahu, Kanaya pasti akan marah karena merasa tersinggung dengan ucapannya.


"Apa kamu lupa perjanjian kita? Apa kamu juga lupa siapa aku? Kita sudah bersahabat cukup lama, Sandra. Kalau bukan karena keinginan kamu, aku juga tidak akan menikah dengan Sean!" Kanaya mengungkapkan kekesalannya, sementara Sandra semakin menangis.

__ADS_1


"Maaf! Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku baru sadar ternyata rasanya sesakit ini ...." Jebol sudah benteng pertahanan Sandra. Perempuan itu akhirnya mengakui kalau dirinya juga wanita rapuh yang tak bisa berbagi orang yang dicintainya.


Selama dua bulan ini Sandra menahan sesak dan rasa sakit di hatinya. Perempuan itu pura-pura kuat di depan Sean dan Kanaya. Kalau saja tidak ada Maya yang selalu menghiburnya, Sandra pasti sudah menghentikan niatnya setelah pernikahan mereka berlangsung.


"Rasanya sangat sakit, Nay. Aku yang menginginkan pernikahan kalian, tetapi kenapa aku juga yang merasa kesakitan?" Sandra masih menangis di ujung sana.


"Aku sangat mencintai Sean, aku sangat takut kehilangan dia. Aku ...." Sandra tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Perempuan itu menangis sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Kamu mencintai suamimu. Tapi kenapa kau malah meminta suamimu menikah lagi?"


"Hanya demi karir kamu mengorbankan Sean. Apa menurutmu itu sebanding dengan apa yang kamu dapatkan saat ini?" lanjut Kanaya.


"Karir bisa berhenti kapan saja. Akan ada wajah-wajah baru yang nantinya akan menggantikanmu di dunia hiburan. Saat karirmu redup, apa kamu akan tetap memilih pekerjaanmu dibandingkan suami yang sangat mencintaimu?"


"Sandra, seandainya dulu aku tidak membutuhkan uang itu untuk biaya operasi ayahku, aku pasti tidak akan menyetujui persyaratan darimu. Bukan karena aku tidak ingin menolongmu, hanya saja, menurutku hanya orang yang tidak waras saja yang mau menukar cinta sejatinya hanya demi kebahagiaan sementara!"


"Naya ...."


"Kamu bodoh karena terlalu mengikuti hawa nafsumu. Seandainya aku jadi kamu, aku akan lebih memilih meninggalkan karirku di dunia model daripada harus kehilangan orang yang kita cintai dan sangat mencintai kita."


"Sekarang ... semuanya sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Aku dan Sean sudah mengikuti semua rencanamu. Bahkan saat ini aku sedang hamil darah daging Sean. Semoga saja, rencanamu berjalan lancar sampai aku melahirkan!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2