
Ibrahim dan istrinya sampai di depan rumah Sean. Sepasang suami istri itu terlihat sangat antusias saat baru sampai di halaman rumah putranya. Setahun lebih semenjak kepergian mereka keluar negeri untuk kepentingan bisnis, mereka belum pernah sekalipun bertemu dengan Sean.
Ibrahim dan Rosie turun dari mobil setelah sang sopir membukakan pintu mobil untuk mereka.
"Ayo, Pa, buruan! Aku sudah tidak sabar ingin melihat cucuku." Rosie menggandeng Ibrahim masuk ke dalam rumah.
Semenjak mengetahui kabar tentang kehamilan Sandra, Rosie sudah ingin terbang kembali ke negaranya karena ia merasa bahagia karena sang menantu akhirnya hamil.
Namun, karena pekerjaan Ibrahim yang cukup padat dan tidak bisa ditinggalkan, Rosie akhirnya menuruti Ibrahim untuk bertahan dulu sementara.
Setelah pekerjaan mereka selesai, baru mereka akan pulang.
Rosie merasa senang karena ancamannya ternyata berhasil. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu memang sengaja mengancam Sandra agar menantunya itu mau menuruti keinginannya untuk memiliki cucu.
Selama ini, Rosie merasa kesal dengan Sandra yang selaluf seenaknya saja pada Sean. Memanfaatkan rasa cinta Sean agar mau menuruti keinginannya, Termasuk menunda kehamilan selama lima tahun ini.
Sandra lebih mementingkan karir daripada keluarganya. Entah apa yang dicari oleh perempuan itu. Padahal, meskipun dia tidak bekerja, Sean pasti akan memenuhi semua kebutuhannya bahkan sampai tujuh turunan.
Sementara itu, Sean tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan perempuan yang sudah lima tahun menjadi istrinya itu. Mengingat itu, Rosie merasa geram. Namun, kemarahannya mereda saat beberapa bulan yang lalu, Rosie sangat bahagia saat Sean mengatakan kalau istrinya sedang hamil.
Bi Entin menyambut kedatangan kedua orang tua majikannya, dengan langkah terburu-buru.
"Tuan, Nyonya," sapa Bi Entin sopan. Perempuan itu menundukkan kepala. Ibrahim dan Rosie menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Di mana cucuku, Bi?"
"Ada di kamar, Nyonya." Bi Entin kemudian menyuruh Rosie mengikutinya.
__ADS_1
Sandra baru saja bangun saat pintu kamar tamu yang ia jadikan sebagai kamar baby Nathan terbuka. Perempuan itu sangat terkejut saat melihat siapa yang datang.
"Mama, Papa." Sandra mendekati Rosie dan Ibrahim.
"Mama dan Papa kenapa tidak memberi kabar kalau kalian sudah pulang?" Sandra memeluk Rosie setelah mencium punggung tangannya, kemudian menyalami tangan Ibrahim.
"Kami baru saja sampai. Dari Bandara langsung ke sini karena sudah penasaran ingin melihat cucu Mama."
"Oh, ya?" Sandra tampak terkejut sambil menatap kedua mertuanya bergantian.
Rosie dan Ibrahim tersenyum, kemudian mereka berdua mendekati bayi mungil yang tertidur pulas di atas ranjang bayi yang berukuran cukup luas.
Sandra baru saja menyuruh BI Lasmi untuk memindahkan baby Nathan dari boks bayi.
"Mama sudah tidak sabar ingin bertemu dengan cucu Mama. Makanya mama dan papa langsung kemari," jawab Rosie dengan kedua mata berbinar..
Wajah perempuan paruh baya itu terlihat sumringah saat melihat baby Nathan. Tangannya terulur membelai wajah dan kepala bayi laki-laki itu.
"Setelah penantian panjang, akhirnya kita punya cucu juga, Pa. Mama benar-benar bahagia sekali. Terima kasih, Sandra, karena kamu sudah mewujudkan impian mama sebagai oma." Rosie menatap menantunya dengan senyum mengembang.
"Sama-sama, Ma. Sandra juga ikut tersenyum. Namun, jantungnya berdebar-debar.
Mereka bertiga kemudian bercengkrama dengan baby Nathan yang ternyata masih asyik terlelap. Sepertinya bayi mungil itu masih mengantuk, apalagi, semalaman dia begadang karena terus menangis.
***
Kanaya mengaktifkan ponselnya. Ratusan panggilan tak terjawab dari Sean dan Sandra tertera pada layar ponselnya.
__ADS_1
Akan tetapi, Kanaya langsung menghapusnya. Wanita cantik itu saat ini sedang berusaha untuk mulai melupakan mereka berdua karena ia tidak mau kembali berurusan dengan sahabat dan suaminya itu.
Suami? Tapi bukankah pria itu saat ini masih menjadi suaminya? Sean belum mau menceraikan Kanaya karena pria itu mengatakan kalau dia sangat mencintai perempuan itu.
Air mata Kanaya lolos seketika saat melihat foto bayi laki-laki pada layar ponselnya. Perempuan itu terisak sambil mengusap-usap layar datar itu sambil terus menatap foto Baby Nathan.
"Sayang ... maafkan mama. Mama terpaksa meninggalkan kamu, maaf!" Kanaya menangis sambil memeluk ponsel di tangannya.
Hatinya sangat sakit karena terpaksa meninggalkan anaknya. Sebenarnya Kanaya ingin bertahan di sana, tetapi sampai kapan? Cepat atau lambat, ia juga harus menyerahkan bayinya pada Sandra bukan?
Jadi, sebelum rasa sakitnya semakin dalam, Kanaya memutuskan untuk pergi meninggalkan anaknya.
"Maafkan Mama, Nak. Maaf!" Tangisan Kanaya terdengar menyayat hati. Perempuan itu mencurahkan segala rasa sakit yang selama ini ia tahan. Rasa sakit selama setahun pernikahannya dengan Sean.
Sean ... kenapa aku harus dipertemukan denganmu di saat yang tidak tepat? Kenapa aku harus menikah denganmu di saat kamu sudah menjadi milik sahabatku?
Pria itu, bagaimana Kanaya bisa melupakan pria yang selama bertahun-tahun sudah bertahta di hatinya? Apalagi, pria itu adalah ayah dari anak yang telah dilahirkannya dua Minggu yang lalu.
Kanaya terus menangis, mencurahkan isi hatinya. Menangisi takdir yang seolah sedang mempermainkannya.
Di tengah isak tangisnya, Kanaya mengusap buah dadanya yang terasa nyeri. Keduanya terlihat membesar dan mengeras. Baju Kanaya bahkan sampai basah terkena air susu yang keluar sendiri dari kedua p*y*daranya.
Tiba-tiba, ucapan ibunya saat menelepon beberapa jam yang lalu kembali terngiang di telinganya.
"Anak kamu membutuhkan ASI darimu, Nay. Kasihan dia. Sean mengatakan pada ibu, baby Nathan menangis sampai tengah malam saat kamu pergi meninggalkannya.
Tangis Kanaya semakin pecah. Apalagi saat membayangkan bayi mungil itu menangis semalaman.
__ADS_1
"Sayang ... maafkan mama. Maafkan mama ...."
BERSAMBUNG ....