Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 86 TERBONGKAR


__ADS_3

Rosie berjalan dengan tenang menuju kamar Nathan. Setelah mandi, emosinya mulai mereda. Perempuan paruh baya itu mengira, kalau kedatangannya saat itu bisa membuka hati Sandra agar mau menyusui anaknya dengan benar.


Namun, setelah dirinya pulang ke rumah dan semalam kembali lagi ke rumah Sean, ia harus menghadapi kenyataan kalau cucunya ternyata masih minum susu dengan menggunakan botol. Parahnya lagi, Rosie melihat ada beberapa dus susu formula di lemari dapur.


Saat Rosie menanyakan tentang susu itu, Bi Lasmi dan Bi Entin menjawab secara bersamaan kalau Sandra lah yang membelinya. Dengan wajah pucat pasi, mereka juga mengatakan kalau Sandra sudah mulai bekerja.


Oleh karena itu, Sandra sengaja membeli beberapa dus susu formula untuk jaga-jaga.


Semua jawaban dari asisten rumah tangganya Sandra itu, seketika membuat Rosie naik darah. Baru diberikan nasihat kemarin, tetapi, menantunya itu justru melanggarnya. Bahkan kini malah seenaknya kembali bekerja. Bisakah perempuan itu berhenti bekerja untuk sementara dan fokus pada anaknya?


Rosie menghela napas panjang. Mencoba menetralkan perasaannya. la ingin menggendong Nathan, jadi, dia tidak ingin emosi menguasai hatinya.


Rosie berdiri di depan pintu kamar baby Nathan yang sedikit terbuka dengan kedua mata melotot. Di dalam sana, ia melihat Kanaya sedang menyusui baby Nathan sambil sesekali mencium lembut bayi mungil itu.


Wajah cantik Kanaya tersenyum, membelai pipi putranya. Rosie mengepalkan tangannya. Emosinya naik seketika melihat Kanaya begitu lancang memberikan ASI pada cucunya.


Berani-beraninya dia menyusui cucuku!


Rosie baru saja berniat ingin membuka pintu, tetapi, ucapan Kanaya membuat ia menghentikan niatnya.


"Aku sudah memeras ASI banyak. Bi Lasmi sudah menaruhnya di kulkas. ASI itu cukup untuk stok beberapa hari."

__ADS_1


Apa?


Kedua mata Rosie membola mendengar ucapan perempuan itu.


"Tapi, Nay, tidak bisakah kamu tinggal di sini saja? Nathan membutuhkanmu. Aku dan Sean juga. Kehadiran mama membuatku was-was dan ketakutan." Suara Sandra terdengar membuat Rosie yang masih berada di balik pintu menggeram dalam hati.


"Tugasku sudah selesai, Sandra. Aku sudah memenuhi keinginanmu untuk menjadi rahim pengganti."


Kalimat yang keluar dari mulut Kanaya bagaikan petir yang menyambar di siang hari. Rosie hampir saja menjerit kalau saja ia tidak segera menutup mulutnya.


"Aku sudah memenuhi keinginan kamu untuk menikah siri dengan Sean. Hamil selama sembilan bulan, kemudian melahirkan. Setelah melahirkan, aku memberikan Nathan padamu sesuai perjanjian. Hutangku sudah lunas, Sandra. Lalu, apalagi yang kamu mau dariku sekarang?" Nada suara Kanaya terdengar kesal. Sementara Rosie, rasanya ingin sekali berteriak sekarang. Akan tetapi, perempuan paruh baya itu masih bisa menahannya.


"Apa?" Sean yang berada di samping Sandra berteriak marah.


"Apa kamu sudah gila? Kembali bekerja bahkan di saat Nathan belum genap satu bulan?"


"Sayang ...." Sandra sangat terkejut melihat reaksi Sean yang langsung memarahinya. Sean bahkan membentaknya di hadapan Kanaya.


"Sandra! Selama ini aku selalu memenuhi permintaanmu. Semua keinginan kamu, bahkan keinginan kamu untuk menikahkan aku dengan Kanaya pun aku lakukan. Semua demi apa? Demi kamu! Aku mencintaimu karena itu aku rela melakukan semuanya untukmu!"


"Sean ...."

__ADS_1


"Tapi, sekali saja aku ingin kamu juga mau menuruti keinginanku, Sandra. Aku hanya ingin kamu diam di rumah, menjaga Nathan dan memenuhi semua kebutuhannya. Termasuk kasih sayang dari kamu, Sandra! Bukankah kamu sendiri yang menginginkan Nathan menjadi anakmu? Anak kita? Lalu, kenapa baru sebentar saja kamu sudah berubah pikiran?" Sean menatap Sandra dengan tatapan kecewa.


"Kamu bahkan menanda tangani kontrak tanpa sepengetahuanku juga persetujuan dariku?" Sean menggelengkan kepalanya. Menatap tidak percaya pada wanita yang hingga saat ini masih dicintainya itu.


"Sean, maaf! Maafkan aku." Sandra menatap suaminya dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Kamu sendiri yang meminta sahabatmu hamil dan melahirkan anak untukmu. Kini, setelah anak itu lahir, kamu justru ingin menelantarkannya?"


"Aku tidak menelantarkannya, Sean! Aku menyayangi Nathan seperti anakku sendiri. Tapi–"


"Tapi apa, hah?" Sean yang sudah terbakar emosi kembali berteriak.


"Aku tidak bisa meninggalkan duniaku hanya demi mengurus Nathan. Aku ingin kembali ke duniaku. Aku rindu jepretan kamera, aku rindu berjalan di atas catwalk, aku rindu memeragakan busana dari desainer terkenal, aku rindu menjadi bintang iklan, aku rindu, Sean! Aku rindu semua itu!" Sandra menangis sambil terus menatap suaminya.


"Kamu tahu sendiri bukan, kalau aku sangat mencintai pekerjaanku?" Sandra menatap Sean dengan berderai air mata.


"Kalau kamu masih mementingkan pekerjaanmu, lalu untuk apa kamu meminta aku menikah dengan Kanaya, menyewa rahimnya, kemudian, menjadikan anak yang lahir dari rahimnya sebagai anakmu?" Sean menatap Sandra dengan rasa sakit di hatinya. Bertahun-tahun ia selalu mengalah pada perempuan itu. Namun, kali ini tidak lagi.


"Anak yang lahir dari rahim Kanaya adalah darah dagingmu, Sean. Oleh karena itu, secara tidak langsung dia adalah anakku. Kalau bukan karena mama yang terus memojokkanku untuk segera punya anak, aku juga tidak akan melakukan semua ini. Sampai sekarang, aku bahkan sangat menyesal karena aku telah menghancurkan hati Kanaya dan keluarganya!"


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2