Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 36 GADIS CUPU ITU KAMU?


__ADS_3

Sean sampai di ibukota saat malam tiba. Laki-laki itu pulang tanpa memberi kabar pada Sandra juga Kanaya. Sean sengaja tidak memberitahukan kepulangannya pada kedua istrinya karena ia ingin memberikan kejutan pada Kanaya.


Pria itu rela meninggalkan pekerjaannya gara-gara amarah yang saat ini sedang menguasainya. Sean marah saat melihat Kanaya bersama dengan pria lain di dalam video yang ia lihat di status Kanaya.


Cemburu?


Ya! Sudah pasti Sean merasa cemburu. Kalau tidak, tidak mungkin Sean kelimpungan dan langsung terbang dari Surabaya dan meninggalkan pekerjaannya di sana.


Namun, seperti biasanya, pria itu menepis dan menyangkal perasaannya. Sean merasa kesal pada Kanaya. Perempuan itu, jangankan menyusulnya pergi ke Surabaya. Mengirimkan chat dan telepon saja dia tidak pernah melakukannya.


Giliran berduaan dan bermesraan dengan pria lain dia bisa. Tapi menelepon atau hanya sekedar mengirim chat saja pada suaminya tidak bisa.


Dalam perjalanan, Sean menggerutu kesal. Saat ini dirinya sudah berada dalam mobil menuju rumah Kanaya.


Laki-laki yang sedang terbakar amarah itu menelepon Suparman untuk menjemputnya di Bandara.


"Lebih cepat, Man! Aku sudah lelah ingin beristirahat." Sean berdalih kelelahan, padahal sebenarnya, pria itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kanaya dan memberi pelajaran pada perempuan itu.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Suparman sampai di halaman rumah Kanaya. Laki-laki itu turun saat Suparman dengan tergesa membuka pintu mobilnya.


Sorot mata Sean tajam menatap perempuan cantik yang saat ini sedang duduk bersama seorang pria. Perempuan itu terlihat kaget saat melihat Sean datang.


Kanaya bangun dari duduknya. Wanita cantik itu sangat kaget saat melihat Sean tiba-tiba datang ke rumahnya.


Kapan dia pulang? Kenapa dia tidak mengabariku kalau dia akan pulang?


Kanaya terlihat sedikit kesal. Pria itu, selama di Surabaya dia tidak mengabarinya sama sekali. Hari ini, dia pulang pun tidak memberitahunya terlebih dahulu.


Apa aku memang tidak penting sama sekali buat dia?


Rianti yang berada dalam warung tergesa mendekati Sean, begitupun pria yang duduk bersama Kanaya langsung bangun dari duduknya.


Sedangkan Danu, masih asyik di belakang rumah dengan burung peliharaannya. Pria paruh baya itu belum tahu kalau menantu yang sedang ingin dilihatnya itu datang ke rumah.


"Kamu pulang?" Kanaya menyambut suaminya. Meskipun kesal, ia tidak mau menunjukkan kekesalannya.


Apalagi, di sana ada ibu dan juga Gibran, adik sepupunya yang baru datang tadi pagi.

__ADS_1


Kanaya meraih tangan Sean kemudian mencium punggung tangannya. Melihat ibu mertuanya datang, Sean meredam amarah di dadanya. Apalagi setelah melihat Kanaya tiba-tiba bersikap mesra. Saat ini, perempuan itu bergelayut manja di lengannya.


"Jadi ini, pria yang sudah menaklukkan hatimu, Mbak?" Gibran melirik Kanaya yang berada di samping Sean. Tangannya terulur pada Sean yang sedari tadi menatapnya tajam.


"Halo, aku Gibran, adik sepupunya Naya. Maafkan aku karena tidak hadir saat pernikahan kalian." Senyum Gibran terkembang, membuat Sean tersenyum tipis. Hatinya tiba-tiba merasa lega sekaligus malu karena ternyata, pria yang dicurigainya adalah adik sepupu dari Kanaya.


Apa-apaan aku ini? Sudah jauh-jauh datang dari Surabaya, ternyata kecurigaanku tidak beralasan.


"Kamu tidak pernah cerita kalau punya adik sepupu laki-laki," bisik Sean.


"Memangnya kenapa? Penting gitu buat kamu?" Kanaya mendongak. Sementara Sean tampak terkejut mendengar nada bicara Kanaya yang sangat ketus.


Belum sempat Sean menjawab ucapan Kanaya, sang ibu mertua mendekatinya.


"Ibu." Sean tersenyum kemudian meraih tangan sang ibu mertua dan menciumnya.


"Apa kabar, Nak?"


"Baik, Bu. Seperti yang Ibu lihat."


"Naya, bawa suami kamu masuk untuk beristirahat. Kasihan, dia pasti lelah."


"Iya, Bu."


Kanaya berjalan beriringan dengan Sean masuk ke dalam rumah. Sementara itu, Gibran yang masih penasaran dengan Sean, mengikuti langkah Kanaya dan Sean.


"Sean!" teriak Gibran. Namun, detik berikutnya ia mengaduh kesakitan karena Rianti menjewer telinganya.


"Bibi!"


"Panggil dia Abang. Dia itu suami kakakmu!" Rianti masih menjewer telinga Gibran.


"Ampun, Bi." Gibran meringis, kemudian memegangi telinganya yang memerah.


"Galak banget sih, Bi. Aku kan cuma penasaran sama pilihannya Mbak Kanaya. Hebat lho, Bang Sean bisa menaklukkan si beruang kutub."


"Gibran!"

__ADS_1


Pemuda itu tertawa melihat kekesalan Kanaya.


"Aku cuma penasaran sama laki-laki yang sudah buat kamu klepek-klepek sampai akhirnya memutuskan menikah dengannya," ucap Gibran. Pemuda berparas tampan itu masih menggoda Kanaya.


Kanaya melepaskan tangan Sean dari pinggangnya. Perempuan cantik itu kemudian mendorong tubuh Gibran menjauh darinya dan Sean.


Melihat tingkah laku Kanaya dan Gibran, membuat Sean tersenyum. Bisa-bisanya dia cemburu pada adik sepupu istrinya. Sean pikir, Kanaya berselingkuh di belakangnya dengan pria bernama Gibran.


Namun, ternyata dugaannya salah. Laki-laki yang ia lihat di status chat Kanaya itu ternyata adalah adik sepupunya. Beruntung, Sean bisa mengendalikan amarahnya. Kalau tidak, dirinya pasti akan menanggung malu karena salah menuduh orang.


Sean masuk ke dalam kamar diikuti oleh Kanaya.


"Ini kamar kamu?" Sean meneliti ke seluruh ruangan. Sementara, Kanaya mengangguk.


Perempuan cantik itu masih berdiri di belakang Sean. Menatap tubuh kekar itu dari belakang. Sudah hampir sebulan tidak melihat wajah pria itu, membuat Kanaya rasanya ingin sekali mendekap erat tubuh Sean.


Namun, jelas saja keinginan itu hanya di dalam hati karena Kanaya tidak akan mungkin melakukan hal itu. Apalagi, sudah tiga minggu ini Sean bahkan tidak pernah mengabarinya sama sekali.


Pandangan mata Sean tertuju pada sebuah foto yang terletak di atas nakas. Kedua matanya melebar. Tangannya terulur meraih bingkai berukuran sedang itu. Raut wajah terkejut tampak terlihat jelas pada wajah tampannya.


"Ini ...." Sean menunjukkan foto itu pada Kanaya.


"Gadis cupu ini–"


Kanaya merebut bingkai berisi foto dirinya saat masih berpenampilan cupu.


"Kanaya. Katakan padaku, bagaimana bisa foto itu ada di sini. Foto itu–"


"Ini fotoku."


"A–apa?" Kedua mata Sean membola mendengar jawaban Kanaya.


"Gadis cupu itu kamu?"


.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2