Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku

Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
Part 61 AKU BUKAN KESAYANGANMU!


__ADS_3

Sean melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Laki-laki itu sedang diliputi amarah. Seharusnya Sean menjalankan mobilnya ke arah kantor. Akan tetapi, entah mengapa, ia justru mengendarai mobilnya keluar jalur dari kantor. Sean mengikuti kemana hati membawa langkahnya.


Di sinilah akhirnya Sean berada. Menuju rumah yang menjadi tempat nyaman untuk seseorang yang sangat dirindukannya.


Pria itu turun dari mobil. Mengembuskan napas panjang, menyiapkan diri untuk menghadapi kemarahan Kanaya saat melihatnya datang ke rumah itu.


Seperti biasanya, Bi Marni selalu siap siaga dua puluh empat jam. Sementara sang suami, Suparman sudah terlebih dahulu menyambut Sean di pintu gerbang.


"Pagi, Bi."


"Selamat pagi juga, Den." Bi Marni tersenyum kikuk karena keduluan Sean yang menyapanya.


Pandangan mata Sean meneliti semua ruangan di rumah itu. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya saat melihat orang yang sedang dirindukannya itu sedang menonton televisi sambil memeluk toples berisi camilan.


"Halo, Sayang ...." Sean mendekati Kanaya yang tampak asyik dengan tontonannya. Laki-laki itu mengecup bibir Kanaya sekilas membuat kedua mata perempuan itu membola.


Sean memanfaatkan keterkejutan Kanaya dengan memindahkan toples yang ada di pelukannya, kemudian, pria itu merebahkan kepalanya di pangkuan istri keduanya itu.


Wajah tampan Sean menghadap ke perut Kanaya, sementara, tangan kekarnya melingkar pada pinggang perempuan itu.


Belum hilang keterkejutan Kanaya, pria itu kini sudah mendaratkan ciuman berkali-kali pada perutnya yang tertutupi daster.


Kanaya menghela napas panjang. Mencoba menetralkan denyut jantungnya yang menggila. Rasanya, ia ingin sekali melepaskan pelukan Sean dan menghentikan perbuatan laki-laki itu menciumi perutnya. Namun, rasa nyaman di hati Kanaya membuat perempuan itu terpaksa membiarkan Sean melakukan keinginannya.

__ADS_1


Semenjak hamil Kanaya tidak pernah mengizinkan Sean menyentuhnya. Bahkan sebelum hamil pun, Kanaya sudah menolak laki-laki itu untuk menyentuhnya.


Kalau ngomongin dosa, tentu saja Kanaya sangat berdosa karena tidak mau melayani suami sendiri. Namun, saat mengingat tujuan mereka menikah dan juga sikap Sean selama ini, Kanaya harus kembali berpikir ulang saat ia harus melempar dirinya untuk melayani Sean.


"Aku merindukanmu, Bil, sangat merindukanmu!" Sean kembali menciumi perut Kanaya. Kedua matanya terpejam menikmati rasa nyaman yang masuk ke ruang hatinya.


"Sudah aku bilang, jangan memanggilku, Bila."


"Kenapa memangnya?" Sean merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Laki-laki itu menatap wanita cantik di depannya itu dengan tatapan memuja.


"Aku bukan lagi gadis cupu yang dulu pernah–"


"Aku tahu. Tapi aku suka sekali memanggilmu dengan nama itu. Mengingatkan aku pada masa lalu." Sean membelai wajah cantik Kanaya, tetapi, perempuan itu segera memundurkan wajahnya membuat Sean menghela napas panjang.


Kanaya tersenyum simpul pada Sean. "Sepertinya kamu lupa dengan ucapanmu, Tuan."


"Jangan memanggilku, Tuan, Bil. Aku suamimu bukan majikanmu!" sela Sean dengan kesal.


"Lho, bukannya kamu sendiri yang sering mengatakan kalau aku ini harus mengerjakan tugas dengan baik karena aku sudah dibayar oleh Sandra? Berarti kamu dan Sandra itu secara tidak langsung adalah majikan aku bukan?"


"Ckk!" Sean berdecak kesal. Tetapi, tak urung, dalam hatinya membenarkan ucapan Kanaya, karena dulu ia memang pernah mengatakan apa yang diucapkan Kanaya tadi.


"Kamu masih marah padaku karena semua ucapanku selama ini?" Sean memperhatikan wajah cantik Kanaya. Rasanya, ia ingin sekali menerkamnya saat itu juga.

__ADS_1


Namun, Sean harus bersabar. Ia tidak mau Kanaya lebih tidak menyukainya jika dirinya berbuat nekad.


"Mulutmu setajam silet. Mana bisa aku melupakan kata-kata yang pernah kau ucapkan padaku?" Kanaya kembali meraih toples berisi camilan, kemudian dengan cepat memasukkan beberapa potong keripik kentang itu ke mulutnya. Sementara itu, Sean terpaku mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Kanaya.


"Maafkan aku. Dulu, aku salah sangka padamu. Aku pikir–"


"Jika kamu ingin marah atau pun kesal, seharusnya kau marah pada istrimu, bukan malah marah padaku. Jika bukan demi ayah, aku juga tidak akan Sudi menikah dengan laki-laki yang sudah beristri kayak kamu."


"Sayang ...."


"Nggak usah panggil sayang, aku bukan kesayanganmu!" Kanaya melotot kesal.


"Kamu kesayanganku dari semenjak SMA," ucap Sean tak tahu malu. Tangannya terulur mengusap sudut bibir Kanaya yang belepotan bumbu camilan yang sedang dia makan.


"Seandainya kamu tidak mengetahui kalau aku adalah gadis cupu yang dulu pernah dekat denganmu, apa kamu akan bicara seperti ini sekarang?" ucap Kanaya tanpa menatap ke arah Sean yang wajahnya langsung berubah kaget.


"Aku bahkan masih ingat bagaimana kamu menghinaku dengan kata-kata yang menyakitkan. Aku bahkan masih ingat dengan jelas saat kamu dengan jelas mengatakan kalau dirimu hanya akan mencintai Sandra sampai kapan pun!"


BERSAMBUNG ....


Baca juga karya temen Author yang satu ini yuk, dijamin seru banget!


__ADS_1


Sebuah syarat pernikahan dari pria bernama Arvin telah disetujui Fayre. Karena kenangan pahit di hidup masing-masing, keduanya sepakat untuk menjalani pernikahan tanpa ada perceraian di masa depan. Lantas, bagaimana kah keduanya menghadapi masalah yang menerjang bahtera rumah tangga mereka? Mampukah Fayre menjaga syarat yang diajukan suaminya? Atau justru Arvin sendiri yang melanggar syarat tersebut?


__ADS_2