
Sean menggendong tubuh Kanaya kemudian membaringkan perempuan itu di atas ranjang. Laki-laki itu berteriak panik memanggil Bi Marni dan Suparman, sepasang suami istri yang menjadi asisten rumah tangga dan sopir pribadi di rumah itu. Sean merasa sangat panik melihat wajah pucat kanaya. Pria itu mencari sesuatu di dalam laci nakas. Sean bernapas lega saat ia menemukan satu botol minyak angin berukuran sedang. Sean membuka tutup botol, kemudian menuangkan minyak angin itu ke tangannya. Sean membaluri tangan dan tubuh Kanaya dengan minyak kayu putih. Laki-laki itu juga menempelkan jari tangannya pada hidung Kanaya.
Suparman dan Bi Marni masuk ke dalam kamar majikannya dengan tergesa. Wanita itu sungguh kaget melihat nona majikannya terbaring tidak sadarkan diri. Padahal, beberapa menit yang lalu sebelum Sean datang, majikannya itu terlihat baik-baik saja. Saat Sean datang, Kanaya memang baru saja membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Bi Marni menatap wajah Sean yang terlihat panik.
"Apa yang terjadi, Den Sean? Kenapa Non Kanaya tidak sadarkan diri?" Bi Marni mendekati Kanaya. Memijit kaki perempuan itu.
"Saat aku datang tadi, istriku langsung mual-mual dan muntah, Bi," ucap Sean dengan wajah panik.
"Mang, siapin mobil! Kita bawa Kanaya ke rumah sakit."
Suparman mengangguk. Pria berusia di atas empat puluh tahun itu bergegas keluar dari kamar majikannya. Sementara itu, Bi Marni masih mencerna kalimat yang diucapkan oleh Sean. Asisten rumah tangga Sean itu kemudian mengingat-ingat saat nona majikannya alias Kanaya pernah mengatakan kalau dirinya sangat tidak ingin bertemu dengan Sean karena Kanaya akan merasa mual setiap kali bertemu dan mencium aroma tubuh pria yang menjadi suaminya itu.
'Apa jangan-jangan, Non Kanaya tidak ingin melihat Den Sean karena bawaan bayi?' Bi Marni menatap Sean yang masih terlihat panik tanpa melepaskan pijatan tangannya pada kaki Kanaya. Sean berniat menggendong Kanaya dan membawa perempuan itu ke rumah sakit karena Sean tidak ingin terjadi apa-apa pada istrinya. Namun, Sean mengurungkan niatnya saat melihat pergerakan tangan Kanaya.
"Kamu sudah sadar, Sayang ....' Sean bermaksud meraih tubuh wanita itu dalam pelukannya. Akan tetapi, Kanaya langsung menutup hidungnya dan mendorong tubuh Sean agar menjauh darinya. Laki-laki itu sangat terkejut saat melihat penolakan Kanaya. Perempuan berwajah pucat itu menutup mulutnya saat rasa mual kembali menderanya. Melihat sang majikan menunjukkan gelagat yang sama seperti yang diucapkan oleh Sean, Bi Marni semakin yakin kalau Kanaya memang tidak bisa bertemu dengan Sean untuk sementara.
"Menjauhlah dariku aku mohon ...." Suara Kanaya terdengar lirih. Perempuan itu mencoba meredam perutnya yang mulai bergejolak. Sungguh! Kanaya pun tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan kali ini. Kanaya benar-benar merasa aneh dengan dirinya sendiri. Kenapa perutnya terasa mual saat berdekatan dengan suaminya?
__ADS_1
Bi marni menarik tangan Sean keluar ruangan, membuat Sean merasa kaget karena sang asisten rumah tangga itu berani menyeretnya keluar. Wajah pria tampan itu terlihat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Bi Marni.
"Ada apa, Bi? Kenapa Bibi menarikku keluar?" Bukannya menjawab, Bi Marni malah mengintip ke dalam ruangan. Di sana, terlihat Kanaya yang sedang mengtur napasnya. Perempuan itu membaringkan tubuhnya sambil memejamkan mata.
"Den Sean. Bisakah Den Sean tidak menemui Non kanaya dulu?"
"Apa?" Sean melotot kaget. Dalam hati, rasanya ia ingin sekali memaki sang asisten rumah tangganya itu. Apakah dia tidak tahu kalau Sean sudah menahan rasa rindunya dari semenjak ia masih di surabaya?
"sepertinya Non kanaya sedang tidak ingin bertemu dengan Sean."
"Apa maksud ucapanmu, Bi?"
"Maksud Bibi apa? Aku tidak mengerti!" Sean merasa tersulut emosi mendengar ucapan Bi marni yang mengatakan kalau Kanaya tidak ingin bertemu dengannya karena bawaan bayi dalam kandungannya. Mana mungkin ada orang hamil yang tidak ingin bertemu dengan suaminya? Benar-benar tidak masuk akal!"
"Be-begini, Den, seperti halnya mengidam, terkadang, ibu hamil ini juga akan merasakan sesuatu yang tidak masuk akal. Contohnya, ada yang saat hamil maunya deket-deket suami, kemana saja diikutin. Tetapi, ada juga yang bawaannya benci banget sama suami. Bahkan saat mencium aroma tubuh suaminya saja dia merasa mual," ucap Bi Marni hati-hati.
"Bukan hanya pada suami saja, terkadang, ibu hamil itu juga akan merasa kesal dan benci pada seseorang tanpa sebab dan tiba-tiba juga bisa menyukai atau pun membenci sesuatu tanpa alasan," sambung Bi Marni.
__ADS_1
"Maksud, Bibi, saat ini Kanaya tidak ingin bertemu denganku karena dia membenciku?"
"Bukan begitu, Den, sepertinya--"
"Kanaya langsung mual dan muntah saat bertemu denganku, Bi. Bibi lihat sendiri tadi bukan?" Sean menatap Bi Marni meminta penjelasan.
"Bahkan saat baru tersadar tadi, dia juga tidak mau aku mendekatinya. Apa sikap istriku yang seperti itu merupakan bawaan bayi yang Bibi bilang tadi? Kanaya tidak ingin bertemu denganku, apa itu artinya anakku tidak menyukai kehadiranku?"
BERSAMBUNG ....
Sambil nunggu update, yuk baca juga karya keren punya temen aku.
Terlahir sebagai putri seorang ningrat, terbiasa dengan aturan yang begitu ketat membuatnya susah didekati kaum Adam.
Terpaksa menikah karena perjodohan, tetapi sebelum pernikahan terjadi sang mempelai pria justru meninggal karena hal mistik.
__ADS_1
Konon karena ia adalah perempuan spesial dengan sebutan "Bahu Laweyan". Akankah ia mampu bertahan di atas kutukan yang tidak pernah ia minta?