
Tok...Tok..Tok..
Mama Yolan terus mengetuk pintu kamar agar penghuni yang berada di dalam bisa mendengar suara panggilan nya.Arif yang sayup-sayup mendengar suara sang Mama melirik ke arah sang istri yang sedang terlelap lalu bergegas bangkit dari ranjang supaya gedoran pintu itu tidak sampai menganggu kenyamanan tidur Bila.faktor kehamilan nya membuat Bila benar-benar berubah total.
Ceklek
" Di ma..."
Arif langsung menghentikan suara sang Mama dengan meletakkan jari telunjuk nya di depan bibir Mama Yolan.
" Bila lagi tidur Ma, pelan kan suara Mama." tegur Arif lalu menurunkan tangan nya setelah dia merasa aman.
" Kamu ini! Kenapa belum bangun juga,ini sudah magrib." ujar Mama Yolan sedikit kesal dengan tingkah sang putra.
" Arif nggak tega buat bangunin nya Ma,biarkan aja Bila istirahat sebentar." tutur Arif yang memang tidak berniat menganggu tidur istri nya.untuk berbicara dengan sang Mama saja Arif lebih memilih sedikit berbisik dari pada mengeluarkan suara asli nya.
" Jadi maksudnya Kamu malah tega membiarkan istri dan anak Kamu kelaparan,gitu? Vitamin Bila harus rutin di minum,jangan sampai terlewatkan." sergah Mama Yolan merasa kesal dengan pola pikir anak nya.
"Ma!Tadi sebelum tidur Bila sudah makan yang banyak,di tambah dengan segelas susu.masa harus makan lagi?" protes Arif tidak terima.
Mama Yolan memejamkan mata nya agar amarah nya tidak sampai meluap-luap.ingin sekali dia merobek mulut putra yang dia anggap terlalu lemah dalam urusan menjaga ibu hamil.
" Istri Kamu itu lagi hamil Arif! Jadi dia harus makan yang teratur, termasuk vitamin dan susu nya.sekarang cepatan Kamu bangunin dia lalu ajak ke bawah supaya kita bisa makan malam bersama." papar Mama Yolan dengan wajah sangar nya.
Arif yang sadar bahwa di dalam perut istri nya ada anak mereka yang harus di perhatikan langsung masuk dan mengikuti perintah sang Mama.
Di saat Arif hendak membangun kan Bila, tiba-tiba saja pintu kamar mereka kembali di ketuk dan membuat darah Arif seketika mendidih mengeluarkan asap tebal.
" Ada apa lagi sih Ma? Nggak sabaran banget sih?" tanya Arif dengan nada emosi nya tanpa melihat ke arah pintu,pria ini kembali masuk ke kamar nya setelah membuka pintu itu.
" Maaf Tuan,ini Bibi." ujar Bi Aminah sedikit ragu-ragu.melihat wajah Arif yang terlihat sedang kusut membuat kaki Bi Aminah gemetaran untuk mengutarakan maksud kedatangan nya.
Arif memutarkan badan nya demi melihat jika yang berada di pintu itu adalah sang Bibi bukan Mama nya.
Arif yang sudah terlanjur salah paham dan mengeluarkan amarah nya mendadak kalem dengan wajah terkejut nya.
" Ada apa Bi?" tanya nya dengan begitu santai.
" Itu tadi Bibi di minta sama Nyonya untuk mengambil piring yang sudah kotor Tuan muda." jawab Bibi pelan.sedangkan tangan nya sibuk meremas ujung jilbab yang dia pakai.
" Ambil saja di atas meja nakas." ucap Arif lalu mempersilahkan Bibi masuk dengan membuka lebar-lebar pintu kamar nya.
__ADS_1
Bibi Aminah pun melangkah masuk dan membereskan beberapa piring kotor dan tidak lupa menyimpan buah yang masih utuh ke dalam kulkas berukuran sedang yang terdapat di pojok kamar Bila.Bibi pun membawa semua piring kotor ini keluar dari Kamar Arif lalu membersihkan nya di dapur.
" Sayang! Bangun." bisik Arif lembut sambil mengusap rambut Bila.
" Udah jam berapa Mas?" tanya Bila dengan suara khas bangun tidur.
" Sudah adzan Maghrib,bangun yok! Sholat terus makan malam." jawab Arif sangat lembut.jika bersama sang istri tingkat kesabaran Arif sudah mulai terlatih hebat.
Bila yang kaget mendengar penuturan suami nya perlahan membuka mata nya lalu melihat ke arah dinding yang terdapat jam yang bergantung.
" Kita mandi ya." titah Arif merapikan rambut Bila yang menghalangi pandangan nya.
" Iya Mas." jawab Bila patuh sambil menguap lebar.Arif lalu menggendong Bila masuk ke dalam kamar mandi, memasukkan dia kedalam bathtub yang sudah dia isi dengan air penuh lengkap dengan busa sabun yang sudah tercium aroma wangi nya.
" Nanti kalau sudah siap jangan lupa panggil Aku ya sayang." ucap Arif sebelum menutup pintu kamar mandi.
Arif memilih menunggu di luar kamar ketimbang ikut masuk ke dalam kamar mandi yang sama dengan istri nya,pria ini sangat yakin bahwa dia tidak akan bisa menahan hasrat nya jika sudah berdekatan dan melihat jelas pemandangan indah milik istri nya.
Sambil menunggu Bila selesai mandi,Arif lalu menggelar sajadah untuk mereka berdua lengkap dengan mukena dan juga kain sarung nya.untung saja Arif sudah mandi terlebih dahulu saat Bibi sedang membereskan kamar mereka.
" Mas!" teriak Bila ketika merasa kepala nya masih pusing untuk di bawa berjalan.
Mereka berdua sholat magrib secara berjamaah dan tidak lupa memanjat kan doa kepada sang maha pencipta.
" Hati-hati sayang." ucap Mama Yolan saat melihat Bila dan Arif sudah turun dari tangga.
Pak Rizal yang melihat perhatian yang di berikan oleh putra nya kepada menantu mereka tersenyum bahagia.
" Bagaimana keadaan Kamu Nak?" tanya Pak Rizal begitu Bila sudah duduk di kursi nya.
" Alhamdulillah baik Pa." jawab Bila lalu membantu memasukkan nasi untuk suami nya.
" Kamu duduk saja sayang,biar Aku ambil sendiri." tolak Arif namun tetap tidak di indahkan oleh istrinya.
" Nggak papa Mas,Aku masih bisa melakukan nya." jawab Bila lalu memasukkan ikan dan sayur untuk suami nya.
" Makasih sayang." ucap Arif tersenyum manis.
" Loh piring untuk Kamu mana?" tanya Arif begitu menyadari bahwa Bila tidak menyiapkan piring untuk dirinya sendiri dan memilih memiringkan posisi duduk nya kepada dia.
"Makan satu piring dengan Mas boleh nggak?" tanya Bila pelan.entah kenapa dia sangat ingin sekali makan di suapin lagi oleh suami nya.
__ADS_1
" Boleh,sini biar Mas suapin Kamu." jawab Arif lalu menggeser kursi nya agar lebih dekat dengan Bila.
Mama Yolan dan Pak Rizal saling melirik lalu detik berikutnya sama-sama tersenyum tipis.
" Apa kamu sudah mendengar tentang kematian Naima Rif?" tanya Pak Rizal di sela acara makan malam mereka.
" Sudah Pa,tadi Reno sudah mengabari Aku." jawab Arif yang tengah sibuk menyuapi istri nya yang susah makan.
" Bagus lah,Papa pikir Kamu belum mengetahui nya."
" Naima sudah meninggal?" tanya Mama Yolan tidak percaya.
" Iya, sekarang sudah di bawa ke tempat pemakaman lapas." ujar Pak Rizal menjelaskan.
"Kenapa dia bisa meninggal secepat ini sih Pa?" tanya Mama Yolan merasa heran.
" Ya mana Papa tahu Ma,kalau masalah ajal tidak akan ada yang bisa menebak nya." jawab Pak Rizal yang sebenarnya sudah tahu alasan di balik kematian mantan menantu nya.
" CK....Biasa nya Papa maha tahu segala nya,tumben amat jawab nggak tahu." sahut Mama Yolan yang yakin pasti suami nya tahu penyebab kematian Naima.
Pak Rizal pun tersenyum mendengar ucapan sang istri.
" Dia sering sakit-sakitan ketika berada di penjara sana, tubuh nya sudah sangat kurus sekali karena jarang mendapat kan jatah makan dari penguasa sel yang dia tempati.
" Bukan karena ulah Papa sama Arif kan?" tebak Mama Yolan yang punya firasat bahwa semua ini tidak terlepas dari campur tangan suami nya.
" Ya bukan lah,memang nya Papa kurang kerjaan apa." kilah Pak Rizal tidak ingin mengakui nya.tetapi dia tidak pernah merancang kematian untuk Naima,dia hanya minta anak buah nya agar memberikan Naima pelajaran selama mendekam di penjara.
" Yah... Padahal Mama belum sempat melihat lagi seperti apa wajah nya saat ini." seru Mama Yolan merasa kecewa belum bisa bertemu dengan mantan menantu nya itu.
" Mau ngapain sih Ma? Dulu aja Mama usir-usir itu wanita, sekarang kenapa mendadak insaf?" tanya Pak Rizal tidak habis pikir, sedang kan Arif dan Bila malah sibuk menghabis kan isi piring mereka.
" Ye bukan gitu...Juga kali Pa." sungut Mama Yolan merasa kesal di ledekkin oleh suami nya.
Hahahaha...
" Yah,Dek ! Lihat tuh Nenek Kamu ngambek." goda Pak Rizal sambil menatap ke arah perut Bila seolah sedang mengadu kepada cucu nya yang masih berada di perut Bila.
" Apaan sih Pa, ngeselin banget deh." Mama Yolan langsung mencubit gemas lengan suami nya yang sedang menertawai diri nya.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya guys 🥰🥰🥰
__ADS_1