
2 jam telah berlalu, tetapi pembukaan Bila masih belum lengkap juga.Arif begitu setia menemani Bila berjalan meskipun di iringi dengan suara meringis dari mulut istri nya.
Sekarang Bila menyadari bagaimana perjuangan Ibu nya dulu saat melahirkan dia ke muka bumi ini, meskipun tidak sempat menghabiskan waktu yang lama dan tidak bisa membahagiakan sang ibu, tetapi di setiap sujud Bila selalu menitipkan doa untuk kedua orang tua yang sudah tenang di alam sana.
Seno yang mendapat kan perintah langsung dari Mama nya bergegas masuk ke kamar bayi lalu membawa keluar koper yang berukuran besar itu.
Seno yang masih memakai celana pendek dan kaos polos nya memilih menyetir sendiri mobil menuju ke alamat rumah sakit yang sudah di kirim kan oleh sang Mama.entah kenapa pria jomblo ini juga ikut merasa gelisah sampai membuat tangan nya keringat dingin memegang setir mobil.
" Ponakan Aku udah lahir apa belum ya?" gumam Seno sedikit menambah kecepatan mobil nya ketika menyadari bahwa koper milik Bila masih bersama dia.
" Ya ampun! Kalau beneran sudah lahir kan kasihan! Sedang kan semua perlengkapan bayi nya masih ada di sini?" Seno mengusap kasar wajah nya dan kembali menambah kecepatan mobil dari sebelumnya.kondisi jalan yang sedang sepi karena hari masih sangat gelap semakin mempermudah pergerakan mobil Seno.
Tap...Tap...
Seno berjalan cepat menyusuri setiap lorong agar bisa sampai tepat waktu di dalam ruang bersalin VVIP yang di tempati oleh Kakak ipar nya.
"Pa!" seru Seno ketika melihat sang Papa duduk di kursi tunggu dengan menyandarkan tubuh di dinding rumah sakit.
" Kamu sudah datang? Sana antar kan dulu koper itu ke dalam,mana tahu ada yang mereka butuhkan." Pak Rizal menyarankan putra bungsunya untuk segera masuk ke dalam, sedang kan dia masih betah duduk di luar karena tidak tahan melihat menantu nya menangis kesakitan.
Seno masuk begitu saja ke dalam ruang bersalin dan melihat Bila sedang meringis dengan Arif yang menggenggam erat tangan nya yang tidak di infus sedang kan di bagian pinggang ada Mama Yolan yang nampak setia mengelus pinggang Bila,lalu di bagian kaki ada Bi Siti yang ikut memberikan perhatian lebih kepada sang putri.
" Kenapa Mbak Bila kesakitan seperti ini sih Ma?" tanya Seno ikut bergabung setelah menyimpan koper di depan laci rumah sakit.
" Ini memang biasa terjadi kepada ibu yang mau melahirkan, nama nya kontraksi.mungkin sebentar lagi akan hilang karena barusan perawat bilang sudah pembukaan 8." Mama Yolan menjelaskan agar putra bungsunya yang super cerewet ini tidak lagi merasa penasaran.
Seno mengangguk kan Kepala nya ,pria ini ikut terharu melihat bagaimana romantis nya sang kakak ketika menemani istri nya.bibir Arif tidak berhenti mencium kening dan mata Bila.bahkan Arif rela baju nya di tarik -tarik oleh Bila ketika rasa sakit itu semakin terasa menyiksa.
" Sudah sana keluar dulu,Kamu belum boleh melihat semua ini,nanti jadi trauma lagi." Mama Yolan langsung mengusir Seno dari ruangan ini karena tidak ingin putra bungsunya menjadi takut dengan ada nya kejadian ini.
" Baiklah." Seno memilih mengalah tanpa berniat untuk menjawab atau pun membantah.
" Terimakasih sudah mau berjuang melahirkan anak kita Sayang." bisik Arif ketika Bila membuka mata nya.Bila hanya mengangguk dan kembali memejamkan mata sambil menunggu kedatangan Dokter Husna.
Arif berulang kali menghela nafas ,duduk tenang di depan sang istri meskipun jiwa dan raga nya sedang gusar.
Arif membacakan doa dengan suara pelan nya di samping telinga sang istri.doa ini ternyata cukup membuat Bila menjadi lebih tenang dan nyaman.
" Aw....Sakit Mas...." Bila tiba-tiba saja berteriak ketika Arif selesai membacakan doa.
Perawat yang berada di ujung ranjang bergegas memeriksa dan membuka kaki Bila untuk kembali melihat sudah sampai di pembukaan berapa.
" Pembukaan nya sudah lengkap, cepat panggil Dokter Husna ke sini." pinta sang perawat kepada teman nya yang ikut di tugas kan untuk menjaga Bila.
" Baiklah, tunggu sebentar." perawat ini membuka pintu ruangan Bila dengan tergesa-gesa lalu berlari sekuat tenaga menuju ruangan Dokter Husna.
__ADS_1
Seno dan Pak Rizal yang kaget melihat pemandangan ini langsung berdiri dari tempat duduk mereka dan masuk ke dalam ruangan Bila.
" Apa yang sudah terjadi Ma." tanya Pak Rizal ikut cemas.
" Pembukaan nya sudah di nyatakan lengkap Pa,Bila akan segera melahirkan." jawab Mama Yolan mengusap air mata nya karena merasa sangat bahagia akan segera memiliki cucu.selama ini bayangan dia menggendong seorang cucu hanya ada dalam mimpi saja, tetapi subuh ini,semua mimpi itu akan menjadi kenyataan.
" Yang kuat ya sayang,Kamu pasti bisa melewati semua ini doa Mama selalu bersama Kamu." ucap Mama Yolan mengusap air mata nya dengan tersenyum manis untuk menantu kesayangan nya.
Ceklek
Dokter Husna masuk dengan menggunakan baju steril dan juga masker.
" Tolong tunggu di luar ya semua nya, terkecuali Arif." pinta Dokter Husna sekali pun mereka adalah keluarga dekat nya.
" Baiklah, tolong selamat kan menantu dan cucu ku ya Hus.lakukan apapun itu agar Bila tidak kenapa-kenapa." Sebelum keluar dari ruangan ini,Mama Yolan masih sempat -sempat nya meminta tolong agar adik sepupu nya mau memberikan tindakan yang terbaik untuk orang -orang yang sangat dia Sayangi.
" Pasti Mbak! Jangan lupa bantu dengan doa."Jawab Dokter Husna.
Jantung Arif berdebar begitu kencang karena sudah tidak sabar lagi menanti kelahiran buah hati nya.
" Air ketuban nya sudah pecah Dok." teriak perawat yang membantu Bila membukakan kaki nya.
Dokter Husna lalu mendekat dan terlihat memberikan pengarahan kepada Bila.
Bila mengangguk tanda mengerti.sedangkan Arif justru semakin merasa takut dan gugup ketika melihat ada banyak darah yang keluar dari ujung paha istri nya.meski demikian Arif tetap mencoba berdiri dengan begitu kuat dan juga tenang.dia mengalihkan pandangan mata nya kepada sang istri yang sedang berjuang melahirkan calon pewaris Ahmad Company.
" Pegang tangan Aku sayang. yang kuat ya." ucap Arif ketika melihat Bila mulai menyerah.
Bila mengangguk dan kembali mencoba mengejan dengan sekuat tenaga nya.
Ketika mendengar kepala bayi mulai terlihat,Bila semakin bersemangat dan terus berusaha semampu nya.hanya dengan satu kali tarikan nafas dan dorongan yang kuat,tangis seorang bayi yang merah menggema di dalam ruangan ini.
" Sesuai prediksi kita,dia seorang laki-laki yang ganteng!" seru Dokter Husna sambil mengangkat bayi mungil itu dan menunjukkan kepada Arif dan juga Bila.
Setelah menyerahkan bayi mungil itu kepada perawat, Dokter Husna kembali melanjutkan pekerjaan nya mengecek kondisi Bila dan memastikan semua nya baik-baik saja tanpa ada kecacatan yang tertinggal.
Bila dan Arif meneteskan air mata haru ketika mendengar putra mereka kembali menangis kencang.
" Terimakasih sayang." Arif mengecup kening Bila sepuas hati nya.
Sedang kan di bawah sana ada perawat yang sedang membersihkan tubuh Bila.
Setelah bayi nya selesai di bersih kan oleh perawat.Arif langsung mengumandangkan adzan di telinga bayi mungil itu dengan suara parau nya.Arif kembali merasa terharu di berikan kesempatan oleh sang pencipta bisa mendampingi dan melihat langsung proses kelahiran putra pertama nya.air mata kebahagiaan kembali menetes di pipi nya merasa kan menjadi manusia paling beruntung di dunia ini.bayi mungil ini terlihat anteng mendengar suara merdu yang keluar dari mulut Arif.
" Kamu ganteng sekali Nak." ucap Arif menatap lekat wajah putra nya yang merupakan perpaduan wajah mereka berdua.
__ADS_1
Seluruh anggota keluarga Ahmad sudah di perbolehkan masuk.mereka semua nampak menitikkan air mata ketika melihat bayi mungil itu menggeliat kan badan nya dengan begitu lincah.pipi yang berwarna merah serta hidung yang sangat mancung membuat mereka sangat yakin bahwa ini adalah keturunan Arif.
"Dia begitu tampan sekali Mbak." puji Seno sekaligus mencairkan suasana yang sedang membeku.
" Dia ternyata mewarisi wajah kalian berdua." sahut Pak Rizal setelah berhasil menguasai emosi nya.
Bibi Siti menutup mulut menahan tangis yang terasa akan semakin pecah.Bila yang melihat sang Bibi tidak berhenti menitikkan air mata nya ikut berkaca-kaca sambil tersenyum manis.
" Selamat ya Nak! Sekarang Kamu sudah menjadi wanita seutuhnya, istri sekaligus ibu untuk putra kecil kalian." Bi Siti memeluk tubuh Bila yang masih belum di perbolehkan untuk terlalu banyak bergerak.
" Terimakasih Bi,ini semua berkat bantuan Bibi.maaf kan Bila jika selama ini Bila banyak salah dan sering menyakiti perasaan Bibi." balas Bila mengulur kan tangan nya ikut mengusap punggung Bibi yang masih bergetar.
" Kamu tidak pernah menyakiti Bibi Nak, justru Bibi sangat bangga sekali kepada Kamu.jaga keluarga Kamu ya.didik lah anak kalian sampai menjadi seorang yang sukses dan berakhlak mulia." Bibi Siti melepas kan pelukan nya lalu beralih menatap cucu mungil yang memiliki belahan dagu seperti Bila.
" Terimakasih dan selamat ya sayang,Mama tidak menyangka bisa mendapatkan cucu secepat ini, akhir nya Mama bisa membanggakan cucu Mama pada semua orang." Mama Yolan memeluk dan mengecup kening Bila yang sudah dia anggap seperti anak perempuan nya sendiri.
" Terimakasih sudah memberikan Papa cucu yang sangat lucu dan tampan sekali,Papa tunggu cucu berikut nya." ucap Pak Rizal mengelus kepala Bila.
Mata Bila membulat lalu saling berpandangan dengan suami nya ketika mendengar permintaan nyeleneh dari Papa mertua nya.
" Doain aja ya Pa, sebentar lagi akan otw anak kedua kita." sahut Arif dengan kekonyolan nya.
Bila hanya bisa menatap tajam kepada Arif karena jarak mereka terlalu jauh untuk melampiaskan rasa kesal nya.
" Rakus banget sih Mas! Ini saja belum sembuh,udah mau di ajak begituan lagi.jangan serakah." Seno yang tidak terima mendengar ucapan sang Kakak langsung mengeluarkan bantahan nya.
" Selamat ya Mbak.akhirnya Aku akan di panggil Om sama bayi mungil ini." imbuh nya yang berniat ingin memeluk tubuh Bila lalu di tahan oleh Arif yang sudah menarik ujung baju bagian belakang.
" Awas sana! Jangan dekat-dekat." tegur Arif lalu membantu membenarkan hijab yang Bila pakai agar sang istri semakin nyaman.
" CK...Ganggu banget sih Mas.Aku masih mau berbincang dengan Mbak Bila." sungut Seno memilih mengalah dari pada di usir dari ruangan ini.
" Maka nya Kamu segera nikah Sen! Biar bisa meluk istri sendiri,jangan doyan nya ganggu istri Mas mu." Dokter Husna yang baru saja ikut bergabung setelah berganti pakaian langsung menyindir Seno yang memang dia ketahui suka menempel kepada Bila.
" Jangan iku membela Mas Arif dong Tan!" Seno mendesah keras lalu memilih duduk di sofa ketimbang berdiri di dekat mereka dan hanya di jadikan bahan ledekan.
Mama Yolan,Bibi Siti dan Pak Rizal terlihat bergantian menggendong cucu mereka tanpa merasa cemburu atau keberatan.
Sedang kan Arif sibuk membantu Bila merapikan baju dan penampilan lain nya.
"Mas, Aku mau minum!" pinta Bila ketika merasakan tenggorokan nya sangat kering sekali.
" Iya sayang, sebentar ya." Arif lalu meraih botol minuman dan memberikan nya kepada Bila.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya guys 😍🥰🥰
__ADS_1