Terpaksa Menjadi Istri Kedua

Terpaksa Menjadi Istri Kedua
Shopping online


__ADS_3

Seharian ini Bila dan dan Mama Yolan menghabiskan waktu mereka untuk berbelanja online kebutuhan calon cucu Keluarga Ahmad.meskipun kamar bayi yang sengaja mereka rancang sudah penuh dengan segala pernak pernik baru, tetapi Bila dan Mama Yolan tetap saja masih merasa kurang dan selalu ingin mencari lagi.


" Sayang! kalau yang ini bagaimana menurut mu? Ini sangat lucu sekali." ujar Mama Yolan menyodorkan ponsel nya dengan tampilan baju mungil berwarna biru.


" Iya Ma! Ya ampun gemes banget." jawab Bila tiada henti nya menyetujui semua yang di perlihatkan oleh Mama mertua nya.


" Kita ambil yang warna biru aja ya sayang,biar sesuai dengan baby nya." ujar Mama Yolan lalu memesan warna sesuai dengan hasil USG Bila beberapa waktu yang lalu.ya...menurut perkiraan Dokter Husna anak yang sedang di kandung oleh Bila berjenis kelamin laki-laki dan merupakan pewaris tahta kekuasaan milik keluarga Ahmad.semua anggota keluarga bersorak gembira menyambut kabar gembira itu.Pak Rizal bahkan secara terang-terangan memperlihatkan kebahagiaan nya di depan semua orang.


"Aduh Ma! Gawat." keluh Bila sambil menghela nafas berat nya.saat dia melihat total jumlah pengeluaran nya siang ini,mata Bila membulat sempurna dan dia tidak pernah menyangka bisa sebanyak itu.


" Gawat kenapa sayang?" tanya Mama Yolan melempar asal ponsel canggih nya lalu mendekat ke arah Bila.


"Ini Ma..." ucap Bila memperlihat kan benda pipih nya.


Hahahaha...


Mama Yolan tertawa puas dengan tingkah lucu menantu nya.


" Ya ampun sayang! Memang nya kenapa?" tanya Mama Yolan yang tidak habis pikir melihat tingkah menantu nya yang selalu saja merasa bersalah jika sudah menghabiskan uang bulanan pemberian putra nya.padahal selama ini Arif tidak pernah mempermasalahkan hal itu, termasuk Mama Yolan yang malah senang jika Bila mau menghabiskan uang putra nya, berbeda sekali dengan mertua lain nya.


" Bila merasa bersalah sekali Ma,kasihan Mas Arif yang sudah capek-capek kerja tapi malah Bila hambur- hamburkan seperti ini.bagaimana ini Ma? Bila bingung harus ngomong apa nanti?" Ibu hamil ini mulai gelisah memikirkan bagaimana cara menjelaskan nya kepada suami nya.


" Sayang! Dengerkan Mama baik-baik ya." Mama Yolan lalu menggenggam tangan Bila agar wanita itu duduk tenang tidak lagi gelisah dengan berdiri dan duduk secara bergantian.


" Arif tidak akan memarahi Kamu,dia itu kerja memang untuk kalian berdua,uang yang Kamu belanjakan ini belum seberapa dengan hasil jerih payah suami mu selama satu hari.Mama justru senang melihat Kamu yang mau membantu Mama menghabiskan uang Arif." sambung Mama Yolan menjelaskan.


" Tapi Ma." ucapan Bila terhenti saat Mama Yolan kembali memotong pembicaraan nya.


" Percaya deh sama Mama! Arif akan berterima kasih kepada Kamu dan suami mu itu tidak akan pernah mau memarahi Kamu hanya karena perkara uang." Mama Yolan kembali menenangkan menantu nya yang masih terlihat ragu.


Bila hanya mengangguk dengan menampilkan senyum terpaksa nya.


" Permisi Nyonya,Nona muda." kedatangan Bi Minah menghentikan diskusi yang sedang mereka lakukan.


" Ada apa Bi?" tanya Mama Yolan.

__ADS_1


" Di luar ada paket yang di antar oleh kurir Nyonya." jawab Bi Minah memberi tahu.


" Oh..Iya,tolong bawa masuk aja ya Bi,kalau bisa sekalian bawa ke kamar bayi aja ya." pinta Mama Yolan lalu berdiri mengajak Bila melihat barang-barang yang sudah mereka beli.


Pagi ini Bu Warsih kembali mengunjungi putri nya yang terpaksa harus di rawat di rumah sakit jiwa.dia sengaja memasak kan beberapa makanan kesukaan Naura.meski hidup nya sekarang serba kekurangan karena semua simpanan yang mereka miliki sudah habis terkuras akibat membiayai pengobatan Naura sebelum ini.selama Naura tidak bekerja lagi,Bu Warsih mencoba membiayai kehidupan nya sendiri dengan membantu membersihkan rumah para tetangga nya yang membutuhkan bantuan tenaga nya.


" Semoga saja keadaan Naura lebih baik dari sebelumnya,semoga saja kesadaran nya kembali pulih setelah beberapa hari mendapatkan pengobatan dari dokter.Aku ingin tahu penyebab depresi yang dia alami selama ini." batin Ibu Warsih sambil menyusun semua makanan ke dalam rantang berwarna putih.


Setelah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih rapi.Bu Warsih berjalan keluar rumah untuk mencari ojek pangkalan yang biasa mangkal di dekat perumahan nya.


Untuk menghemat biaya sehari-hari nya Ibu Warsih memilih pulang pergi dengan menggunakan ojek pangkalan saja.


Sesampai nya di rumah sakit jiwa,Ibu Warsih segera menemui petugas receptionist lalu menyampaikan maksud dan tujuan nya datang ke rumah sakit ini.


" Apa Saya boleh bertemu dengan anak Saya Suster?" tanya Ibu Warsih kepada petugas yang sedang piket hari ini.


" Sebentar ya Bu,Saya konfirmasi kan dulu kepada dokter yang bersangkutan." jawab Suster wanita itu dengan sangat ramah.


" Baik sus." Bu Warsih menunggu dengan rasa cemas nya karena takut terjadi sesuatu kepada putri nya.


" Maaf Ibu! Anak nya atas nama siapa ya?" tanya Suster yang belum mengenal dekat dengan Ibu Warsih.


Suster mengangguk kan kepala nya lalu menyebutkan nama yang di sebut kan oleh Ibu Warsih kepada seseorang yang sedang dia hubungi.


" Baik Dok." jawab sang suster lalu mematikan sambungan telepon nya dan bergegas keluar dari ruangan nya menghampiri Ibu Warsih yang berdiri luar.


" Bagaimana Sus?" tanya Ibu Warsih menatap lekat wanita yang dia perkiraan seumuran dengan putri nya.


" Bisa Bu!Mari ikut Saya." Suster ini langsung membawa Ibu Warsih untuk bertemu dengan dokter terlebih dahulu sebelum menemui putri nya.


Setelah mengantar kan Ibu Warsih masuk ke dalam ruangan sang Dokter, Suster ini langsung mempersilahkan Ibu Warsih untuk masuk sedang kan dia langsung kembali ke tempat piket nya.


" Selamat siang Dok." sapa Ibu Warsih berusaha mencari keberadaan putri nya.


" Selamat siang juga Bu." jawab Dokter laki-laki yang memakai kaca mata bulat.

__ADS_1


" Mari silahkan duduk." imbuh sang dokter ketika melihat Ibu Warsih hanya berdiam diri di dekat pintu ruangan nya.


" Terimakasih." jawab Ibu Warsih lalu meletakkan bokong nya di atas kursi yang berhadapan langsung dengan sang dokter yang menangani putri nya.


" Apa Saya sudah boleh menemui anak Saya Dokter?" tanya Ibu Warsih tidak sabaran lagi.


" Tentu saja boleh Bu! Tetapi tetap harus dalam pengawasan kami para perawat ya Bu." jawab sang Dokter tetap berjaga-jaga takut terjadi sesuatu saat Naura lepas kendali.


" Apa anak Saya sampai separah itu Dok?" tanya Ibu Warsih masih belum paham.


" Sebenar nya anak Ibu belum bisa di ajak ngobrol dan masih belum boleh untuk menerima tamu,kami khawatir kalau tiba-tiba saja Putri ibu mengamuk dan masih belum bisa berkomunikasi dengan baik." jawab Sang Dokter menjelas kan agar Ibu Warsih tidak salah paham.


" Baiklah Dok,yang penting Saya di perbolehkan bertemu dengan anak Saya.kami tidak biasa berpisah dengan waktu yang selama ini."


Sang Dokter pun tersenyum mengangguk kan Kepala karena mengerti apa yang di rasakan oleh Ibu Warsih.


" Mari ikut Saya,Bu." ajak Dokter yang masih memakai seragam dinas nya.


" Iya Dok." Ibu Warsih lalu mengekor dari belakang, sedang kan sang Dokter berjalan di depan sebagai petunjuk jalan.


Di dekat ruangan Naura sudah ada dua orang perawat yang menunggu kedatangan mereka berdua.mereka membuka secara perlahan pintu ruangan yang berlapis besi tebal.kamar yang serba tertutup ini memang di peruntukan khusus untuk pasien yang sedang parah dan butuh penanganan ekstra.


Di saat kedua perawat lelaki itu membuka pintu,nampak lah Naura yang sedang duduk di ujung ruangan sambil memeluk kedua lututnya dengan tatapan kosong menatap ke arah luar.


Dengan di dampingi oleh Dokter pria, Ibu Warsih berjalan masuk menghampiri putri nya.


" Naura Putri Ibu,ini Ibu datang mengunjungi Kamu,Nak! Ibu sengaja membawa makanan kesukaan mu hari ini."bisik Ibu Warsih dengan sangat lembut di telinga putri nya yang memang terlihat kacau.


Bu Warsih lalu mengeluarkan beberapa makanan yang sudah dia siapkan khusus untuk putri nya.


Saat Bu Warsih ingin menyuapi Naura menggunakan sendok.tiba-tiba saja Naura mendorong sendok itu lalu membanting nya sejauh mungkin di iringi dengan suara teriakan nya yang tidak terkendali lagi.


" Aaaa....Aaaaa." Naura berteriak sambil menjambak rambut panjang nya.


Melihat situasi yang sudah mulai tidak sehat lagi, Dokter lalu mengajak Ibu Warsih untuk keluar dari ruangan ini dan tidak lupa memerintahkan kedua perawat itu untuk menyuntik kan obat penenang untuk Naura.

__ADS_1


Ibu Warsih yang menatap dari luar hanya bisa menangis sesenggukan melihat kesehatan putri nya yang belum juga menunjukkan perubahan.


Jangan lupa Like, Vote dan Komen ya guys 🥰🥰🥰😍


__ADS_2