Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Kekasih Kontrak


__ADS_3

Kehidupan Andin di asrama pesantren berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun, tetapi sangat berbeda dengan kehidupan nya di lingkungan sekolah. Arif memang sudah tidak menggangu Andin lagi, tetapi tentunya masih ada Ziban dan Rinta yang selalu mengerjainya habis-habisan. Suatu hari Andin kedatangan utusan yang datang dengan tergopoh-gopoh dengan napas nya yang masih naik turun tidak teratur.


"Andin, kau disuruh Kak Ziban ke perpustakaan sekarang juga. Jika sampai terlambat sedikitpun maka Kak Ziban akan menghukum mu lebih berat lagi kata kak Rinta." (katanya dengan napas masih terengah-engah)


"Okay, terimakasih informasinya ya."


Ada apa lagi sii? Ini kan jam istirahat pertamaku. Yang seharusnya hanya digunakan untuk benar-benar berisitirahat. cih.


Andin beranjak setengah berlari mencari jalan pintas dengan menyusuri berbagai ruang kelas dan juga ruang gudang sekolah demi sampai ke perpustakaan dengan cepat agar si iblis itu tidak semakin menggila dalam mengerjainya.


Tanpa menunggu waktu lama, Andin sampai ke perpustakaan yang sangat besar lalu menyusuri ke berbagai sudut yang ternyata tidak ada makhluk yang sedang dicarinya itu.


Apa dia hanya sedang mengerjaiku lagi dengan mendatangkan utusan palsu nya? Cih! Mengapa aku mendadak menjadi bodoh sekali semenjak bertemu dengannya sih!


Lalu Andin berniat untuk kembali ke kelasnya dengan menahan amarah yang membuncah dihatinya. Tetapi tiba-tiba terdengar seseorang berdehem keras di balik pintu kayu jati berwarna coklat. Tentu saja Andin mendekati pintu dan menarik gagang pintu ke bawah dengan harapan ada jawaban di dalam sana.


Dan benar saja, harapan Andin kali ini terjawab sudah. Terlihat sosok yang tidak asing baginya sedang tiduran di atas ranjang dengan menaikkan satu kakinya di atas kaki yang lain sembari memainkan ponselnya.


Sandiwara macam apa ini?! Mengapa di perpustakaan sekolah terdapat kamar pribadi lengkap dengan kamar mandi dan juga dapur seperti ini? Iblis ini benar-benar bertambah sinting! Lalu apakah pihak sekolah tidak mengetahui keberadaan kamar pribadi ini? Ah rasanya tidaklah mungkin kan?


"Kau sudah terlambat datang ke sini selama tiga menit, oleh karena itu aku akan menghukum mu."


Aku terlambat tiga menit pun itu karena aku mencarimu di berbagai sudut perpustakaan, wahai iblis!


"Tetapi jam istirahat pertama akan segera berakhir kak, tinggal beberapa menit lagi aku harus sudah kembali ke kelas."


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, aku sudah mengurusnya. Kau tidak perlu kembali ke kelas full hari ini." (katanya datar tanpa merasa bersalah sedikitpun)


Suatu saat aku akan membunuhmu!! Camkan itu!!


"Heiii mengapa masih berdiri disitu! Cepat ke sini! (katanya lagi dengan nada sedikit tinggi )


Andin medekat dengan ragu-ragu lalu duduk di pinggir ranjang itu.


"Siapa yang mengijinkan mu untuk duduk disini hah?! Duduk dibawah!"


Andin terlihat sedikit menggeram dengan perlakuan iblis dihadapannya itu.


"Mengapa kau menggeram seperti itu?! Cepat pijat kaki ku, atau jangan-jangan kau tidak bisa memijit?"

__ADS_1


Sabar Andin, sabar..kejadian seperti ini akan berakhir beberapa bulan kedepan. Sabar Ndin, kau ingat kan bagaimana anak-anak jalanan kemarin menjalani kehidupan keras mereka dengan senyuman tulus? Ya Andin! Kau harus berakting sebaik mungkin layaknya kau tidak tersiksa sedikit pun dihadapan orang sinting ini, agar semua berjalan dengan lancar. Ayo Andin kamu pasti bisa!


"Ah, tentu saja aku bisa."


Andin segera berancang-ancang mengambil posisi untuk memijat kaki Ziban, tetapi tiba-tiba Ziban membuka seragam celana dan bajunya di depan Andin yang spontan membuat Andin membulatkan kedua matanya karena terkejut lalu sejurus dengan itu Andin menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


"Apa yang kau lakukan kak?!"


"Memangnya apa yang aku lakukan? Buka matamu heh!"


"Tidak mau." (kata Andin histeris dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali)


"Cepat buka matamu, atau tidak aku akan menghukum mu!"


Setelah mendengar perkataan Ziban yang mengandung sebuah ancaman, Andin memilih untuk membuka matanya apapun itu resikonya.


Terlihat Ziban yang memakai kaos putih polos dan celana boxer berwarna hitam yang membuat Andin menghembuskan nafas dengan lega.


Ahh, syukurlah dia tidak telanjang bulat dihadapanku, walau bagaimanapun kan mataku ini masih sangat perawan hehe.


"Memangnya apa yang kau harapkan?! Kau pasti berharap aku akan telanjang bulat di depanmu kan?!"


"Tutup mulutmu, jangan banyak bicara! Cepat pijat kaki ku."


Bagaimana mungkin aku menyentuh kakinya? Itu tidak dibolehkan dalam agama dan jika Ummi mengetahui, pasti Ummi akan benar-benar murka.


"Tetapi aku tidak bisa menyentuh kaki mu kak."


"Memangnya kenapa?"


"Itu sudah menjadi peraturan di asrama pesantren kak."


"Ooh jadi kamu anak pesantren. Baiklah, pakai sarung tangan ini! (kata Ziban sembari melemparkan sepasang sarung tangan berwarna putih)


Eh, memangnya boleh seperti itu? Ah sudahlah, aku tidak mau memperpanjang urusan ini karena pastinya aku yang akan kalah.


Andin akhirnya memijat kaki Ziban dengan memakai sarung tangan yang entah mengapa tiba-tiba disitu ada sarung tangan. Seperti sudah dipersiapkan saja. Begitu pikir Andin kira-kira.


Setelah ritual memijit telah selesai, Ziban tidak mengizinkan Andin untuk beranjak dari kamar sebelum jam pelajaran benar-benar selesai.

__ADS_1


"Kau duduk di lantai saja, dan jangan sampai berani untuk keluar dari kamar ini sebelum jam pelajaran berakhir." (tukas Ziban)


Si iblis ini bahkan dengan santainya tiduran seperti itu. Cih! Katanya idola, katanya ketua osis, katanya anak berprestasi, katanya kesayangan guru. Mana buktinya?! Sikapmu saja membuktikan bahwa kau adalah seorang pecundang! Kak Ziban Alkash yang terhormat!


Andin pun hanya diam saja dan menuruti kemauan iblis yang sedang bersamanya itu. Andin yang masih memakai sarung tangan nya menurut untuk duduk di lantai pojok dengan menahan amarah dan mengutuk iblis itu berkali-kali. Sedangkan jelmaan iblis itu malah tertidur pulas di ranjangnya tanpa merasa berdosa sedikitpun kepada Andin.


Bel pulang sekolah akhirnya berdenting keras hingga terdengar sampai ke kamar rahasia perpustakaan itu. Andin merasa sangat lega karena bel sudah berbunyi, itu artinya Andin bisa pulang ke asrama. Karena menjauh dari jelmaan iblis Ziban adalah hal yang paling ditunggu-tunggu Andin sejak tadi. Andin segera beranjak pergi setelah bel berbunyi tanpa menunggu Ziban membuka matanya.


Ahh, setidaknya setelah ini aku akan aman.


Andin membuka gagang pintu dengan sangat bersemangat untuk keluar dari neraka itu. Tetapi tiba-tiba alarm berbunyi keras ketika Andin menarik gagang pintu ke bawah yang membuat Ziban terbangun dari tidurnya.


Suara apa ini?! Aku hanya menarik gagang pintu saja alarm berbunyi keras seperti ini?! Ternyata orang sinting ini benar-benar telah berniat mengurungku disini. Cih! Licik sekali.


"Berani sekali kau mengganggu tidurku!!!"


"Aku hanya ingin keluar dan kembali ke asrama kak, bel pulang sudah berbunyi sejak tadi."


"Apa aku memperbolehkan mu untuk mengganggu tidurku?!"


Andin terdiam tanpa suara dengan sedikit gemetar tidak seperti biasanya, setelah melihat Ziban yang benar-benar terlihat sangat marah karena tidurnya telah terganggu.


"Cepat keluar sebelum aku berubah pikiran!!" (tukas Ziban seraya menekan tombol remot kecil ke arah pintu dan pintu pun segera terbuka)


Lelucon macam apa lagi ini?! Ini kan hanya pintu biasa?! Mengapa ada sistem remotnya seperti itu? Apa aku yang ketinggalan jaman? Ini terlihat pintu kayu biasa kan?!


Andin benar-benar dibuat tercengang melihat pintu kayu biasa tiba-tiba terbuka dengan sendirinya setelah Ziban menekan tombol remot ke arah pintu. Tetapi Andin tentu saja harus bergegas cepat keluar mengingat kata-kata Ziban tadi yang mungkin saja berubah pikiran. Tiba-tiba...


Apa yang kak Rinta lakukan di depan pintu ini?! Apa sejak aku masuk ke dalam kamar Kak Rinta sudah berdiam diri disini?! Terlihat sangat konyol.


"Mengapa kakak berdiri di depan pintu seperti ini kak?"


Tanya Andin karena sudah penasaran sekali mengapa Rinta berdiri di depan pintu dan berharap ia akan menjawab.


"Bukan urusanmu! Kau mau pulang kan? Cepat pergi sebelum Kak Ziban berubah pikiran." (jawab Rinta tanpa memberi jawaban apa yang sedang ia lakukan di depan pintu)


Ah yayaya kenapa juga aku harus berharap Kak Rinta akan menjawab pertanyaanku. Ah sudahlah mungkin saja dia sedang berperan sebagai asisten pribadi Kak Ziban dengan berjaga-jaga di depan pintu sejak tadi. Tetapi apa Kak Rinta juga tidak masuk ke kelasnya? Ah itu juga hal yang sangat gampang dilakukan oleh Kak Ziban yang sangat diluar nalar itu kan? Aku jadi penasaran, sebenarnya seberapa besar pengaruhnya Kak Ziban disini si? Sampai-sampai semua bahkan hampir tunduk kepadanya, termasuk aku, Andin Raharga. Cih! Apakah jika papah mengetahui hal ini, maka papah akan bertindak memihak ku dan menyelamatkan ku dari gangguan orang sinting ini? Papah kan sangat ingin aku bersungguh-sungguh dalam belajar kan? Tentunya papah akan sangat marah kepada siapapun yang berani mengganggu kegiatan belajar putri satu-satunya. Apa aku harus mengadu ke papah saja ya?


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2