
Masih di kelas dan dihari yang sama, hari dimana Andin bertemu dengan si kaku tampan nya dan juga kabar buruk dari teman sebangkunya, Arif.
Setelah mendengar bencana yang dialami Arif, tentunya Andin tidak bisa fokus lagi dalam menerima pembelajaran di kelas. Apalagi ketika pelajaran akuntansi, Andin benar-benar tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Bayang-bayang wajah Arif mulai bermunculan, tentang dahulu mereka bertemu, tentang sikap jail dan usil Arif kepada Andin, lalu sikap Arif yang tiba-tiba dingin sekali. Andin sangat ingin mengetahui kabar selanjutnya mengenai Arif. Lebih tepatnya ingin sekali melihat secara langsung dan memastikan Arif baik-baik saja. Tapi tentu saja ia bingung untuk meminta bantuan kepada siapa. Andin benar-benar belum mengenal sedikitpun tentang asal-usul Arif, apalagi alamat rumahnya.
Yaa, selama ini Andin memang sengaja menutup telinga rapat-rapat tentang apapun dan siapapun itu, jika itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Andin.
Bagaimana ini? Ah aku benar-benar sangat ingin melihat bagaimana kondisi Arif sekarang dengan mata kepalaku sendiri. Aku saja tidak mengetahui rumah Arif dimana. Dan jika aku sudah mengetahui alamat rumah Arif sekalipun, pasti sangat sulit mendapatkan izin untuk meninggalkan sekolah untuk sepagi ini. Lalu jika aku sudah mengetahui alamat Arif, dan akan menjenguknya setelah pelajaran sekolah selesai tentu saja akan sangat sulit mendapatkan izin dari Ummi. Karena aku sudah sangat sering meminta izin padanya untuk keluar. Ah, aku harus minta tolong pada siapa?
Wajah bingung nampak jelas di raut muka Andin, terlihat sesekali ia melamun padahal jam akuntansi sedang berlangsung. Dan tentu saja guru akuntansi menyadari ketidakfokusan Andin di kelasnya sejak tadi.
"Andin, apa kau memperhatikan pelajaran?"
Andin masih bergelut dengan pikirannya mengenai Arif. Ia bahkan tidak menyadari guru akuntansi yang mendekati Andin dengan melontarkan pertanyaan. Tentu saja, semua pasang mata di kelas itu memandang ke arah Andin dengan tatapan gemas karena sejak tadi Andin diajak bicara oleh guru akuntansi dan ia tidak menjawab sepatah katapun.
"Andin, apa kau sudah tidak ingin bersekolah disini lagi?!"
Guru akuntansi itu mulai menaikkan nada bicaranya kepada Andin dan menggebrak meja cukup keras karena Andin sama sekali tidak menggubris pertanyannya. Tentu saja kali ini usaha guru akuntansi itu tidaklah sia-sia. Andin mulai tersadar dengan kehadiran guru akuntansi nya yang sedang memandang tidak bersahabat kepadanya, begitu juga dengan semua pasang mata di ruang itu.
"Ah, ibu sejak kapan ibu ada disini?" (Andin bertanya dengan sedikit cengengesan)
"Ibu akan menghukum mu karena kau tidak memperhatikan pelajaran sejak tadi. Cepat maju, kerjakan lima soal dengan benar dan tepat!"
Andin menuruti perintah guru akuntansi nya, dengan bergegas maju ke depan mengerjakan lima soal akuntansi yang guru akuntansi berikan. Semua pasang mata tentu saja masih setia mengarah ke Andin tanpa berucap sedikitpun.
Tanpa menunggu waktu yang lama, Andin telah menyelesaikan lima soal akuntansi yang ada di papan tulis.
"Sudah bu, apa saya boleh duduk kembali?"
"Duduklah."
Guru akuntansi itu terlihat menganggukkan kepala beberapa kali, pertanda semua jawaban yang Andin tulis di papan tulis memang seratus persen benar adanya.
Semua siswa yang ada di kelas itu tidak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka dengan jawaban Andin yang cepat dan benar. Yang bahkan guru akuntansi itu tidak bisa berkomentar lagi tentangnya.
"Bagaimana mungkin? Andin mengerjakan soal yang bahkan guru akuntansi belum menjelaskan atau menyinggung sedikitpun tentang materi itu?" (kata salah satu dari mereka)
"Iya benar, aku yang selalu fokus dalam pelajaran saja tidak semudah itu dalam mengerjakan soal walaupun sudah sering di ajarkan materi tentang itu. Ah Andin terlihat begitu mudah dalam mengerjakan soal yang bahkan belum diajarkan sekalipun. Aku benar-benar iri padanya." (timpal teman yang lainnya)
__ADS_1
Hampir semua yang ada di kelas itu berdecak kagum kepada Andin dan berkali-kali memuji di dalam hati mereka. Sedangkan Andin sama sekali tidak merasa ada yang membicarakan apa yang baru saja ia lakukan. Andin masih memikirkan keadaan Arif sekarang. Yang entah ada angin darimana tiba-tiba Andin menemukan seseorang yang bisa membantunya.
Kenapa aku tidak menemui si kaku tampanku saja ya? Dia pasti bisa dengan sangat mudah dalam membantuku. Dia kan pemilik sekolah ini. Ah iya, aku akan meninggalkan kelas akuntansi ini dengan izin ke kamar kecil kepada guru akuntansi. Semoga saja si kaku tampanku masih berada di sekitar sekolah ini. Hanya dia yang bisa membantuku kali ini.
"Permisi bu, saya mau izin ke kamar kecil."
Andin menaikkan tangan kanannya seraya mengatakan maksud tujuan untuk izin ke kamar kecil.
"Tentu, silakan."
Andin segera bergegas pergi setelah mendapat izin, bukan untuk ke kamar kecil, melainkan menuju ke kantor sekolah untuk mencari seseorang yang bisa membantunya. Tidak lain tidak bukan adalah Zidan Haq, si pemilik sekolah MAN 102 BANDUNG.
......................
Sesampainya di kantor sekolah, beruntung masih ada satu guru tersisa yang sedang berada di kantor yang sangat luas itu.
"Permisi pak, apa anda melihat pemilik sekolah masih ada disini?"
"Kenapa kau mencarinya?"
"Kepentingan seperti apa memangnya?"
Kenapa anda kepo sekali si, aku mau meminta bantuan kepada si kaku tampanku alias atasan anda untuk membantuku. Sudah puas!
"Ini adalah urusan pribadi yang tidak boleh diceritakan ke sembarang orang, pak."
"Apa sebelumnya sudah ada janji untuk bertemu dengan Tuan Zidan Haq?"
Kenapa anda sangat bertele-tele seperti ini! aku bahkan tadi pagi bertemu di koridor sekolah tanpa berjanjian, tentu saja itu karena ikatan batin kami yang sangatlah kuat. Cepat katakan saja dimana si kaku tampanku, atasan anda!
"Saya sudah berjanjian dengan nya pak. Sekarang katakan apa anda mengetahui Tuan Zidan Haq sedang berada dimana?"
"Kalau kau sudah berjanjian dengan Tuan Zidan Haq, tentunya kalian sudah menentukan lokasi bertemu juga kan?"
Ah, kenapa Anda malah bertanya balik kepadaku?! ayolah aku mohon katakan saja dimana tuanmu itu berada.
"Hemm, tentu saja sudah tau pak. Hanya saja saya lupa tempatnya. Itu murni kecerobohan saya sendiri. Apa bapak bisa memberitahu saya dimana Tuan Zidan Haq?"
__ADS_1
Andin menanggapi guru itu dengan sabar dan menahan emosinya karena guru itu benar-benar membuat Andin membuang-buang waktu di kantor sekolah.
"Saya tidak tahu dimana Tuan Zidan Haq sekarang berada."
Apa?! jadi anda tidak tahu tuanmu sedang ada dimana?! anda benar-benar membuatku sangat marah! ku kira anda hanya mengintimidasi ku sebentar saja, lalu anda akan mengatakan dimana tuanmu sekarang berada. Ternyata anda hanya membuang-buang waktuku saja! Anda benar-benar tidak berguna sama sekali!
Andin beranjak pergi dari kantor sekolah itu tanpa berpamitan dan berterimakasih kepada guru itu. Sedangkan guru itu terlihat sangat bingung dengan sikap tidak sopan dari siswa perempuan itu. Tapi ia enggan untuk menindaklanjuti karena masih banyak pekerjaan penting lainnya, dibandingkan dengan percakapan tidak bermutu dengan siswa perempuan itu.
Andin terlihat putus asa, dan akan segera kembali ke kelas. Karena jelas sekali tidak memungkinkan untuk berkeliling di segala penjuru di sekolah yang sangat luas ini. Karena hal itu adalah sia-sia. Jadi Andin benar-benar memutuskan untuk kembali ke kelas lalu berdoa untuk keadaan Arif.
Dalam perjalanan kembali ke kelas tiba-tiba Andin bertemu dengan seseorang yang sejak tadi ia cari-cari, ia terlihat sedang memandangi taman sekolah. Tanpa pikir panjang, Andin mendekati nya.
Aaaaa, lihatlah. Kita memang berjodoh.
"Permisi, apa saya boleh meminta bantuan anda?"
Andin bertanya kepadanya, dan orang yang sedang ditanyainya pun langsung membalikkan badannya menghadap arah suara.
"Apa yang kau inginkan dariku?"
Aku menginginkan cintamu. Kau mengungkapkan cinta kepadaku, lalu kau melamar ku setelah itu kita menikah dan hidup berbahagia bersama anak-anak kecil kita nanti.
"Teman sebangku saya Arif, mengalami kecelakaan. Saya ingin menjenguknya sekarang juga karena sangat khawatir kepadanya. Apa anda bisa membantu saya, aku mohon?"
(Andin memasang muka memelas dan berharap si kaku tampannya bisa membantu)
"Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak membantumu?"
"Saya akan menangis di depan anda, kemudian saya akan mengadu ke papah Arga bahwa guru privat saya dulu tidak mau membantu putrinya yang sedang kesusahan."
"Baiklah, akan ku bantu."
"Aaaa, saya sangat berterimakasih atas kebaikan anda."
Bahkan sampai sekarang saja kau tidak berani bercerita kepada papahmu tentang kehidupan sebenarnya di sekolah ini. Bagaimana mungkin kau berani mengadu kepada papahmu tentang diriku. Ah, kau memang selalu memendam ceritamu sendirian. Kau memang masih Andin yang sama, tegar dannn...sangat menggemaskan, Andin Raharga. (batin Zidan Haq)
BERSAMBUNG...
__ADS_1