
"Kedua temanmu itu sudah bersekolah kembali. Tetapi bukan di sini. Bukan di MAN 102 Bandung."
"Mengapa harus seperti itu?"
"Aku hanya ingin menjaga mu dari sesuatu yang mungkin akan membahayakan mu nantinya."
"Dia itu temanku, tidak mungkin akan membahayakan saya."
"Tidak mungkin? Lalu bagaimana dengan kejadian kemarin-kemarin?"
"Ta-tapi..."
"Sudahlah, ini demi kebaikan mu. Walaupun bukan di sini, yang terpenting kan mereka berdua telah bersekolah kembali."
Begitulah obrolan singkat antara Andin dan juga Zidan Haq pada suatu hari. Awalnya Andin tetap saja berkukuh keras dengan kemauannya itu. Ya, keinginan untuk meminta Talita dan Intan agar bisa kembali ke MAN 102 Bandung. Dan pada akhirnya pun Andin memahami kecemasan Zidan Haq mengenainya.
Zidan Haq mengembuskan nafas lega nya. Ia tersenyum sangat manis di depan Andin. Kali ini ia mungkin harus sedikit berterimakasih kepada adiknya karena tidak menuruti keinginan Andin dengan cara nya itu. Lagi-lagi ia tersenyum, mengingat percakapan dengan adiknya kemarin di rumah mereka.
"Apa sudah kau urus mengenai mereka berdua itu?" (tanya Zidan kepada adiknya)
"Sudah bang. Mereka berdua sudah ku izinkan untuk masuk ke salah satu sekolah di kota ini yang bekerja sama dengan perusahaan kita."
"Jadi, bukan untuk kembali ke MAN 102 Bandung?"
"Kau ini bagaimana bang. Jika sampai mereka berdua kembali ke sekolah bersama dengan Andin, akan sangat tidak baik nantinya. Aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi kepada Andin dengan kedatangan mereka di sekolah lagi."
"Hemm, betul juga. Itu adalah ide yang bagus." (Zidan Haq menepuk pundak adiknya)
"Lalu apakah mereka berdua sempat berterimakasih kepada Andin?" (tanya nya lagi)
"Awalnya Talita dan juga Intan sangat berterimakasih kepadaku. Tetapi ketika aku mengatakan bahwa ini adalah karena permintaan dari Andin, aku melihat wajah Talita yang menyorotkan ketidaksukaan."
"Hemm, sudahlah. Yang terpenting kan mereka tidak lagi berjumpa dengan Andin di tempat yang sama..."
__ADS_1
"Aku hanya takut sesuatu akan terjadi di luar dugaan, bang."
"Tenang saja, kan ada aku. Terimakasih karena kau sudah membantu ku dalam mengawasi Andin. Sekarang kau bisa melanjutkan pendidikan mu dengan tenang tanpa beban sedikitpun."
"Hemm iya bang..."
"Mungkin setelah kepergian mu, aku akan menjelaskan beberapa hal kepada Andin."
"Mengenai apa bang?"
Zidan Haq terdiam beberapa saat. Ia terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu di hadapan adiknya itu.
"Ah ayolah bang, katakan saja." (rengek Ziban Alkash)
"Tentang perjodohan antara aku dan Andin."
DUARRRR!!!!
Bagai di hantam ombak, terbentur karang. Tiba-tiba darah Ziban seperti di panggang di atas bara api. Rupanya itulah alasan mengapa abangnya sampai sekarang belum menikah. Ya, itu karena ia sudah di jodohkan dengan Andin. Bagai di sayat-sayat beribu-ribu pedang. Tetapi mau bagaimana lagi? Bukankah Andin Raharga pun terlihat sangat menyukai abangnya itu? Dan bukankah Ziban sangat menginginkan kebahagiaan abang satu-satunya yang sekarang paling ia sayangi itu?
...----------------...
Hari perpisahan kelas Xll telah tiba. Acara perpisahan diadakan dengan semarak seperti biasanya. Mulai dari pembukaannya, pembacaan ayat suci Al-Quran yang di bawakan langsung oleh qori internasional dari timur tengah, tarian adat perwakilan terbaik dari setiap daerah yang turut serta, pembacaan puisi, semarak musik bersama artis tersohor tanah air, beberapa artis internasional, dan berbagai kegiatan lainnya yang turut meramaikan acara perpisahan kelas Xll MAN 102 Bandung.
Andin Raharga, turut menyemarakkan jalannya acara pelepasan siswa kelas XII. Ia bertugas sebagai pembaca puisi perwakilan kelas X untuk mengucapkan selamat tinggal dan selamat melanjutkan menempuh belajar di universitas-universitas terbaik pilihan masing-masing. Andin bertugas dengan sangat baik. Semua pasang mata bahkan sampai tak berkedip menyaksikan tutur kata Andin yang begitu manis terdengar di setiap pasang telinga. Ya, hampir semua terhipnotis dengan berbait-bait kata yang terlontar dari bibirnya yang benar-benar terlihat sangat tulus.
Baru kali ini Andin menjalankan tugas dengan sebaik. Biasanya ia tidak terlalu antusias dengan acara seperti itu. Ketika team sukses acara perpisahan menunjuk Andin sebagai pembaca puisi perwakilan kelas X, ia langsung saja menyetujuinya padahal sebelum-sebelumnya Andin tidaklah pernah membacakan puisi. Apalagi sampai di hadapan semua pasang mata.
"Aku harus belajar membaca puisi sebaik mungkin dengan waktu yang amat singkat. Aku tidak akan mengecewakan semua orang. Ah, itung-itung saja aku sedang berpartisipasi dalam merayakan kebahagiaan ku sendiri karena setelah ini aku sudah resmi bebas dari belenggu Kak Ziban, hahaha."
Tutur Andin ketika hari perpisahan akan tiba. Ia berambisi untuk menampilkan puisi sebagus mungkin. Dan pada akhirnya usaha Andin pun tidaklah sia-sia. Andin memang cepat tanggap dalam belajar sesuatu.
"Wah Non Andin, kau sangat berbakat dalam membacakan puisi." (kata siswa perempuan)
__ADS_1
"Heh, kau ini apaan sih. Non Andin kan memang pandai dalam segala hal." (tanggap yang lainnya)
Hemm, panggilan omong kosong itu akan segera berakhir sebentar lagi. Ya, tentu saja karena iblis itu akan meninggalkan sekolah ini. Dan yang jelas, nanti aku akan mengumumkan kepada semua bahwa kami sudah putus haha. Ternyata sesimple itu.
Sesi pengumuman kelulusan berserta peraih juara paralel pun tiba. Semua mata menyaksikan tak berkedip sedikitpun melihat siapa yang di panggil naik ke atas panggung yang sangat megah. Berpakaian rapi dengan setelan jas berwarna hitam membuatnya semakin terlihat tampan. Semua siswa yang turut menyaksikan berdecak kagum. Terutama siswa perempuan. Andin yang turut menyaksikan Ziban Alkash yang di panggil ke atas panggung dan di berikan beberapa perhargaan, ia sedikit kagum. Bukan. Bukan karena Ziban mendapatkan penghargaan. Bukan juga karena sepatah dua patah kata yang di sampaikan oleh Ziban setelah itu.
Tetapi karena ia merasa ada yang berbeda dari aura Ziban Alkash yang biasa Andin kenali selama ini.
"Eh, non.. lihatlah kekasihmu itu. Lihatlah Kak Ziban. Bukankah dia benar-benar terlihat sangat rupawan?"
Salah satu temannya Andin, yang memang duduk persis di sebelah Andin mengajaknya berbicara. Ni'mah namanya. Ia gadis yang sangat lugu, dan selalu merasa tidak enakan. Ia tidak suka mencampuri urusan orang lain. Membaca adalah hobinya. Akhir-akhir ini Andin memang dekat dengannya. Ni'mah memang tipikal teman yang setia. Andin bersyukur bertemu dengan teman yang sangat baik seperti Ni'mah.
"Iya kan non...? (tanya nya lagi karena Andin memang belum menjawab apapun)
"Sudah kubilang jangan panggil aku non, kan?!"
"Ehehe, aku hanya takut jika ada yang melaporkan ku kepada Kak Ziban."
"Itu tidak akan terjadi." (tukas Andin)
"Baiklah Ndin. Eh, kau belum menjawab pertanyaan ku. Bukankah Kak Ziban terlihat sangat rupawan?" (tanya Ni'mah polos)
Andin hanya mengibaskan tangannya. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Ni'mah. Karena bagaimanapun memang Andin akui, hari ini Ziban terlihat sangat berbeda. Entah apa.
Andin kembali khidmat memandangi panggung megah itu. Begitupun dengan Ni'mah. Terlihat Ziban yang masih menyampaikan beberapa patah kata dengan sangat wibawanya.
Hari ini, kau berhasil menyihir semua orang. Hemm, termasuk aku. Tetapi perlu diingat wahai Kak Ziban Alkash yang terhormat, aku hanya khilaf dengan memandang mu seperti ini.
"Ah, setelah ini aku harus mencuci mataku dengan tujuh kembang." (lirih Andin)
"Kau berbicara apa Ndin? Kau akan mencuci matamu? Memangnya apa yang terjadi hingga kau harus mencuci matamu?"
Ah, kenapa juga Ni'mah harus mendengarnya si! Jika seperti ini, aku kan harus repot-repot mencari alasan!
__ADS_1
BERSAMBUNG...