Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Huh! Melayani Ziban Kembali


__ADS_3

"Apa kau sedang mencari masalah denganku hah?!"


Kemarahan Ziban Alkash meluap-luap melihat keterlambatan Andin yang datang menemuinya di ruang rahasia perpustakaan seperti biasa.


Kenapa juga iblis ini harus kembali kesini. Huh, aku sedang bahagia karena baru saja kemarin aku mendengar penjelasan dari si kaku tampanku mengenai obrolannya dengan Ummi yang tidak sengaja ku dengar.


"Apa kau mendengar obrolan ku dengan Ummi kemarin? Ah mungkin saja kau telah pergi sebelum mendengar penjelasan terakhir ku kepada Ummi kemarin. Ummi hanya sedang memperkenalkan kepadaku saja, dan aku pun menolak." (Zidan Haq menjelaskan pelan )


"Mengapa anda menolak Mbak Zulfia? Semua yang diucapkan Ummi mengenai Mbak Zulfia memang benar adanya. Ia cantik dan juga baik." (kata Andin)


"Untuk saat ini, aku hanya belum siap untuk menikah." (jawab Zidan Haq berbohong)


Mendengar jawaban Zidan Haq yang terakhir, Andin benar-benar bisa bernafas dengan lega. Rasanya kabut yang menyelimuti hatinya sirna sudah setelah mengetahui yang sebenarnya.


"Wah wah wah, rupanya kau memang ingin dihukum olehku ya! Berani sekali kau!"


Ziban Alkash menaikkan nada bicaranya kembali karena melihat lawan bicaranya malah termenung melamun. Tentu Andin pun sangat terkejut melihat Ziban Alkash marah kembali. Berkali-kali Andin mengutuki kebiasaannya yang selalu melamun atau membayangkan sesuatu di waktu yang sangat tidak tepat. Andin segera berakting meminta maaf kepada Ziban Alkash dengan jurus andalannya yaitu menelungkupkan tangannya kedepan lalu memasang wajah sok menggemaskan. Siapapun yang melihat Andin seperti itu akan luluh seketika. Tetapi tidak dengan Ziban Alkash. Justru ia merasa jijik melihat pemandangan di depannya.


"Tidak usah merayuku seperti itu heh! Apa kau tidak tahu bahwa wajah mu bertambah menjijikan!"


Memangnya aku sejelek itukah, sampai-sampai iblis ini begitu muak denganku. Aah, sudahlah Ndin jangan dipikirkan. Namanya juga iblis, pasangannya nanti pasti iblis juga kan. Ah, untunglah aku masuk ke dalam kategori bidadari.


Andin sedikit merenges sendiri memikirkan hal buruk mengenai Ziban Alkash.


"Mengapa kau cengengesan seperti itu heh?! Oh ya, orang jelek seperti mu memang harus memperbanyak bersyukur. Dan itu yang selalu kau lakukan walau kau tahu keadaan wajahmu.."


Jadi, maksud perkataan mu tadi apa wahai iblis? Kau sedang memujiku bahwasanya aku pandai bersyukur atau sedang memojokkan ku hah?


"Ya kak, wajahku memang berantakan. Maafkan aku yang menampilkan wajah sok imut di depanmu tadi kak."


"Hemm, tentu tidak akan ku maafkan."


"Kenapa tidak kak? Aku kan sudah meminta maaf kepadamu."


"Wah, kau sudah berani menjawab rupanya. Apa kau lupa isi perjanjian nya heh?!"


"Aku ingat kak. Aku minta maaf sekali lagi."

__ADS_1


"Aku ingin buang air kecil, cepat gendong aku ke kamar kecil!"


Hei iblis!! Apa kakimu lumpuh hingga kau menyuruhku untuk menggendong mu?! Lagipula aku adalah perempuan, apa kau sama sekali tidak memiliki rasa malu sedikitpun?! Persetan dengan permintaan mu kali ini wahai iblis!


"Apa kak? Menggendong mu? Ahaha jangan bercanda seperti itu kak."


"Cepat aku sudah tidak tahan!!!!"


"Tapi kan kak..."


"Aku bilang cepaaaattt!!!"


"Aaaa iya iya kak."


Andin membalikkan badannya lalu sedikit membungkuk untuk memudahkan Ziban Alkash yang memang sedang duduk di ranjang yang terdapat di ruang rahasia di perpustakaan. Ziban meringkuk di punggung Andin. Tetapi tentu saja kaki Ziban sedikit tereser di lantai karena tinggi badan Ziban memang lebih tinggi dari Andin dan juga karena Andin memang membungkuk karena sangat keberatan. Itu Andin lakukan tentu saja bukan tanpa alasan. Tentunya Andin memang sangat keberatan sehingga mengambil posisi membungkuk karena akan lebih memberikan tenaga yang lebih kuat dan akan sedikit memudahkan.


"Heh!! Apa seseorang tidak memberimu makan?! Kau bahkan lebih lemah dari bayi!!"


Dasar tidak tahu diri sekali! Tidak usah banyak berkomentar dibalik punggung ku, atau tidak akan ku gulingkan kau kebawah!


"Ah iya maaf kak, aku memang seperti bayi."


Terserah kau saja lah!


Ketika sudah sampai di depan kamar kecil, Andin pun menyudahi acara gendong-gendongan menjijikan dengan Ziban Alkas.


"Cepat masuk!"


Kata Ziban setelah turun dari gendongan Andin. Tentu saja Andin refleks melototkan kedua matanya karena keterkejutannya. Ziban yang merasa di pelototi oleh Andin sangat tidak menyukainya. Ia pun melototi kembali Andin bahkan sambil berkacak pinggang.


"Kenapa kau melototi ku seperti itu heh?!"


Andin lebih terkejut dengan Ziban yang membalas melototinya jauh lebih tajam. Ia benar-benar tak bisa menjawab apapun lagi. Tentunya jika ia semakin banyak menjawab Ziban, maka semakin banyak itulah kesusahan menimpa Andin. Akhirnya kali ini ia memutuskan untuk diam saja.


"Cepat ikut masuk ke kamar kecil."


"Apa aku ada gunanya jika ikut kau ke dalam kak?" (jawab Andin dengan senyum yang dibuat-buat)

__ADS_1


"Ah betul juga, kau memang selalu tidak berguna dimanapun kau berada sih. Tetapi jika aku sampai terpeleset di dalam, apakah kau mau bertanggungjawab heh?!"


Oh ya tuhan, alasan macam apa itu?!


Akhirnya Andin pun ikut masuk ke kamar kecil menemani Ziban yang hendak buang air kecil. Setelah di dalam, Andin menghadap ke pintu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sedangkan Ziban melancarkan aksi buang air kecilnya di toilet.


Setelah beberapa saat, akhirnya aksi buang air kecil berjalan dengan lancar. Andin kembali menggendong Ziban ke ranjangnya lagi.


"Ambilkan ponselku." (perintah Ziban kepada Andin)


Wahai Tuan Ziban Alkash yang terhormat, kau tentunya mengetahui bahwa ponselmu berada tepat di samping mu kan? Apa tangan kau juga sedang mengalami patah tulang hingga kau bahkan tidak bisa mengangkat ponselmu? Cih!


Andin mengambilkan ponsel Ziban yang berada persis di samping kiri tempatnya berbaring lalu segera duduk di lantai bawah seperti biasa. Ziban memang selalu memperlakukan Andin semaunya sendiri seperti itu. Itu terjadi setelah perjanjian antara Ziban dan juga Andin tertulis di atas kertas. Kerap kali Andin meninggalkan pembelajaran hanya demi tuntutan dari Ziban Alkash.


Tak jarang juga anak-anak di kelas X IIS 1 Favorit bertanya-tanya mengapa Andin seringkali tidak mengikuti pelajaran. Padahal kedisiplinan dan kerajinan MAN 102 Bandung tidak ada yang bisa menandingi. Jika saja bukan Andin yang sering tidak mengikuti pelajaran di sekolah itu, sudah sangat jelas dia akan ditendang secara tidak hormat dari MAN 102 Bandung.


"Andin sering sekali tidak mengikuti pelajaran, tetapi posisinya masih sangat aman di sekolah ini. Sangat meragukan."


"Jangan-jangan Andin menggunakan dukun. Bayangkan saja, Andin bahkan sering tidak masuk pelajaran tetapi absensi dan nilainya selalu di atas rata. Aku yakin dia memang memakai ilmu hitam."


Kalimat yang sering diucapkan oleh anak-anak lainnya di kelas Andin. Ia mengetahui omongan-omongan tersebut tidak lain tidak bukan dari Talita semata. Sebenarnya Talita pun sering menanyakan mengapa Andin tidak ikut pelajaran. Andin berbohong kepada Talita dengan menjual nama orang lain.


"Ahh, tentu saja aku akan pergi ke ruang kebesaran si kaku tampanku, Zidan Haq. Memangnya mau apalagi? Akhir-akhir ini kami lebih dekat, dan tentu saja aku tak mau menyia-nyiakan nya."


Jawab Andin ketika Talita menanyakan hal yang sama seperti anak-anak yang lainnya. Jawaban Andin membuat Talita langsung percaya dan mengangguk faham. Dan sejak itulah, Talita tidak pernah menanyakan kembali kepada Andin mengapa tidak mengikuti pembelajaran.


Sebenarnya Andin sangat merasa tidak enak karena telah berkata tidak jujur kepada Talita. Itu karena Andin mengetahui bahwa Talita sangat berambisi untuk mendapatkan Ziban. Andin hanya belum siap menceritakan kepada Talita, bahwa ia sedang terikat janji di atas kertas dengan lelaki pujaan Talita.


Andin tersadar dalam lamunannya. Lalu ia melirik Ziban di atas ranjang yang ternyata terlihat sudah memejamkan matanya. Andin menghela nafas sedikit lega karena ia tidak akan direpotkan lagi oleh Ziban ketika ia sedang tertidur.


Sedangkan di depan pintu ruangan rahasia perpustakaan berada..


"Apa Ziban sedang di dalam?"


Tanya seseorang kepada Rinta yang sedang berdiri di depan pintu itu. Rinta pun terlihat bingung akan menjawab apa. Mengatakan bahwa Ziban berada di dalam apalagi sedang bersama seorang perempuan tentu sangat tidak memungkinkan.


"Kak Ziban tidak ada di dalam. Dia sedang keluar sebentar mencari sesuatu. Atau mungkin ada pesan untuknya?"

__ADS_1


Orang tadi tak menjawab pertanyaan dari Rinta. Ia membalikkan badannya lalu beranjak pergi meninggalkan perpustakaan. Rinta menghela nafas lega.


BERSAMBUNG...


__ADS_2