Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Bertemunya Andin dengan Elle dan Diana


__ADS_3

"Sebenarnya siapa dia?!"


Ziban meluapkan kemarahannya sembari melemparkan kotak paket yang selalu datang di setiap harinya. Tidak pernah ia buka. Tidak pernah ia lirik sedikitpun. Tetapi kali ini ia benar-benar sudah kehabisan kesabarannya. Merasa bahwa hal seperti itu, sangatlah mengganggu dirinya. Sekretaris Chan memahami kondisi tuan mudanya.


"Maaf tuan muda, tidak ada salahnya, jika anda membuka terlebih dahulu isi kotak itu. Mungkin ada jawaban didalamnya." (ucap Sekretaris Chan)


Ziban terdiam sesaat.


"Kau menyuruhku, hah?!" (Ziban masih meninggikan nada bicaranya)


"Bukan seperti itu tuan, maksud saya adalah..." (ucap Sekretaris Chan ragu-ragu)


"Cepat buka! Tidak mungkin jika tanganku ini membuka kotak pengganggu itu kan? Jika isinya bom, bagaimana? Apa kau akan sanggup melihat ku tewas di hadapan mu, Sekretaris Chan?!"


Astaga, tuan muda.


Sekretaris Chan mengambil kotak paket itu, dan segera membukanya secara keseluruhan. Ia mengambil bingkai foto yang masih terbungkus rapi dan juga amplop berwarna putih berukuran sedang. Ia hendak menyerahkannya pada Ziban. Tetapi Ziban sepertinya tidak berminat untuk melihatnya.


"Foto apa itu? Dan apa isi suratnya? Cepat kau yang lihat!" (perintah Ziban)


Sekretaris Chan mengangguk.


"Tuan, ini foto anda dengan Andin."


Ziban segera merebut foto yang sudah dibingkai indah itu dari tangan Sekretaris Chan. Dan benar saja yang dikatakan oleh Sekretaris nya. Sebuah foto bergambar dirinya dan juga Andin, ketika sedang berjejeran di lapangan sekolah MAN 102 Bandung. Ia mengernyitkan keningnya.


"Ada apa tuan muda? Apa anda tidak berkenan untuk melihatnya?"


"Buka dan lihat apa isi amplopnya."


Sekertaris Chan membuka segel amplop itu.


"Ini surat, tuan."


"Baca."


"Baik tuan muda."


Sekretaris Chan mulai membaca dalam hatinya.


"Heh! Baca yang keras!"


"Ampuni saya tuan."


"Hei Kak Ziban. Aku yakin kiriman paket dariku sebelum-sebelumnya, tidak pernah kau lirik. Ya, tetapi aku bukanlah tipikal gadis yang mudah putus asa. Oleh karena itu, aku mengirimkannya setiap hari, berharap kau sudi untuk membaca surat dariku ini. Ah iya, kau kan tidak menyukai basa-basi. Baiklah. Aku adalah teman dekat Andin di sekolah dulu. Aku selalu terbuka perihal apapun, begitupun sebaliknya. Andin telah menikah dengan Tuan Zidan Haq, yang tidak lain, tidak bukan adalah kakakmu kan? Hemm, sebenarnya ada sesuatu hal yang tidak kau ketahui, kak. Dan Andin merasa sangat kecewa padanya. Ya, pada kakakmu itu. Aku sebagai teman dekatnya, sangat prihatin dengannya. Tetapi, aku bisa apa? Tempatku sangat jauh darinya. Ahh, aku kan tinggal di hotel yang sama denganmu, kak. Tepatnya di lantai 41 nomor 5. Huh, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu teman dekatku, Andin. Malang sekali, nasibmu Andin."


Sekretaris Chan melipat kembali kertas surat itu dengan penuhi kecurigaan. Sedangkan Ziban terlihat sangat respect.


"Dia di hotel ini. Lantai 41 nomor 5. Aku harus menemuinya, Sekretaris Chan. Segera."


"Tapi tuan..."


"Tapi apa? Dia teman dekat Andin. Dan dia mengatakan bahwa ada sesuatu hal yang terjadi pada Andin. Lalu, apalagi?"


Sekretaris Chan tidak menyetujui sikap buru-buru tuan mudanya. Tetapi ya, tidak ada orang lagi yang lebih memahami Ziban dibandingkan dirinya. Ia sangat memahaminya.


"Baiklah, tuan. Izinkan saya menemani anda."

__ADS_1


"Tidak. Kau disini saja. Nanti malam, aku akan menemuinya."


......................


Langit berubah menjadi sedikit gelap. Itu menandakan sore hari akan segera berlalu dan akan digantikan oleh malam. Andin turun dari mobil setelah dibukakan pintu nya oleh sang sopir. Tidak susah baginya, untuk mencari alamat walau di desa terpencil sekalipun. Andin menatap jam tangan cantik yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Matikan handphone mu." (ucap Andin ditujukan kepada sang sopir)


"Tapi, non, dalam bekerja kami tidak boleh mematikan handphone."


"Sini."


Andin meminta paksa sang sopir untuk memberikan handphone nya kepadanya. Ya, bukan Andin namanya jika segala keinginannya tidak terpenuhi.


"Sudah selesai."


Andin menyimpan handphone pribadi milik sopir rumahnya. Sang sopir hanya bisa pasrah.


"Non Andin, sebenarnya untuk apa handphone nya harus dimatikan?"


"Supaya tidak ada yang bertanya-tanya padamu dan berusaha mencariku."


Sang sopir mengangguk kecil. Sebenarnya ia telah memahami separuhnya. Ya, setidaknya ia tahu, bahwa nona mudanya sedang ada kepentingan yang tidak bisa diganggu oleh siapapun termasuk suami, atau keluarganya.


"Apa anda datang ke sini secara diam-diam dan tidak ingin diketahui bahwa anda datang ke tempat ini, non?"


"Ya, tentu saja. Dan kau harus menemaniku sampai urusannya selesai."


"Baiklah non. Hemm, saran saya, sebaiknya bergegaslah cepat jika tidak ingin diketahui siapapun."


"Maksudnya?"


"Ah!"


Andin menepuk jidatnya pelan. Ia hampir melupakan sesuatu hal penting itu. Ya, oleh karena itulah ia selalu memilih untuk naik ojek online saja jika saat bepergian dahulu.


"Ya, ya, ya. Aku sudah tahu akan hal itu. Sekarang, maukah kau membantuku? Ku mohon."


"Saya bisa bantu apa, non?"


"Tolong rusak saja sistem yang ada di mobil, yang terhubung di handphone asisten papah."


"Saya tidak tahu, non..."


"Ku mohon, bantu aku kali ini."


"Tidak bisa, non..."


"Ku mohon, ayolah, kau putra dari ayahmu kan. Ayahmu dulu sangat baik padaku ketika menjadi sopir juga seperti mu. Dan aku tahu, kau pun akan sama baiknya seperti ayahmu."


Pemuda di depannya itu, yang tidak lain tidak bukan adalah sopir yang mengantar Andin, terlihat diam sejenak. Mendengar ucapan Andin mengenai ayahnya.


"Bapak saya sedang sakit di rumah, non." (ucap ia pelan)


"Kesembuhan dan kesehatan, pasti akan ada untuknya. Dia sangat baik. Dan ya, panjang umur lah untuk semua orang baik dan segala kebaikan."


"Baiklah non. Sebenarnya saya memang belum pernah melakukannya. Tetapi, akan saya usahakan untuk mengutak-atik supaya sistem yang dipasang menjadi eror dan tidak tersambung lagi di handphone asisten Tuan Arga."

__ADS_1


Andin merasa lega.


"Aku tahu kau akan membantuku. Dan untuk semuanya yang akan terjadi nantinya, akan ku tanggung sepenuhnya. Dan akan ku pastikan, kau akan tetap bekerja di rumahku. Tenanglah, aku hanya sedang ada urusan penting, bukan sedang membuat perlawanan terhadap keluarga ku."


"Semoga, semua urusan anda cepat selesai non."


"Terimakasih."


Andin meninggalkan sopirnya dan segera menuju rumah yang sudah ia tatap sejak tadi. Rumah khas pedesaan.


Apa benar dia tinggal disini?


Andin meraba pelan pintu kayu yang sudah terlihat sangat berumur.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam."


Pintu seketika terbuka. Kali ini Andin dibuat terkejut akan hal itu. Padahal, baru saja ia mengucapkan salam, tiba-tiba saja pintu langsung dibuka. Ya, seperti kehadirannya sudah ditunggu saja. Andin membungkukkan badannya.


"Hei anak cantik, apa benar ini rumah Kak Diana Anastasia?"


"Ibuuu..."


Elle berteriak memanggil ibunya. Tetapi Diana tak kunjung datang menemuinya. Elle pun berlari ke dalam meninggalkan Andin yang masih mematung di depan pintu. Sesampainya Elle di kamar, ia melihat ibunya yang tengah terbaring lemas.


"Ibu, sejak tadi Elle mengintip mobil bagus yang ada di depan Bu." (ucap Elle polos)


"Mobil?"


"Iya, Bu. Ada dua orang yang turun dari mobil itu."


"Lalu?"


"Ante cantik mencari ibu di depan."


"Ante cantik, siapa?"


Elle menggelengkan kepalanya gaya khas anak-anak. Diana pun memaksakan badannya untuk bangun, walau sangat susah. Ia terus berusaha memaksakan dirinya dengan memegangi kepalanya yang terasa amat berat. Hingga akhirnya...


Brugh!


Terjatuh. Diana terjatuh dari ranjang tempatnya berbaring. Elle sontak menangis. Ia takut karena ibunya jatuh terjerembab tak berdaya.


"Ibuuu..."


Elle hanya berdiri dengan terus menangis karena bingung apa yang yang harus ia lakukan. Jadi ya, dia hanya bisa menagis. Tiba-tiba Andin sudah ada di kamar itu. Ia langsung membantu memapah Diana untuk kembali ke ranjangnya.


"Maaf, tadi aku mendengar tangisan. Jadi aku pikir..." (ucap Andin)


"Tidak apa-apa. Terimakasih, ya. Elle bilang, kau mencariku?"


"Hah? Elle? Ah iya, aku mencari Kak Diana." (jawab Andin sedikit gugup)


"Ya, itu namaku."


Andin memejamkan matanya. Berusaha berdamai dengan segala keadaan dan situasi.

__ADS_1


Ya Tuhan, hal bijak harus ada dalam diriku, kali ini. Ku mohon.


BERSAMBUNG...


__ADS_2