
Ruangan VVIP rumah sakit tempat Andin terbaring lemah. Selang infus yang masih menempel di tangannya. Ruangan lengang yang begitu luasnya dengan fasilitas terbaik di rumah sakit itu. Tak ada satupun yang terlihat menemaninya. Terlihat Andin yang mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum ia benar-benar membuka matanya.
"Kau sudah sadar, syukurlah..."
Terdengar suara seseorang setelah pintu ruangan VVIP itu terbuka. Dengan bingkisan aneka buah-buahan yang berada di tangannya. Andin sedikit terkejut dengan kehadiran seseorang yang tak ia sangka-sangka.
"Apa anda menemaniku semalaman disini?"
Zidan Haq tersenyum mendengar pertanyaan Andin. Lalu ia segera menaruh bingkisan buah-buahan ke atas meja dan segera duduk di samping Andin.
"Apa anda yang membawaku ke sini? Bukankah anda sedang berada di luar negeri?"
"Hussst...sudah jangan terlalu banyak bertanya. Kau masih lemah." (kata Zidan lembut dengan menempelkan jarinya di bibir mungil Andin)
"Terimakasih karena anda selalu ada untukku dari dulu." (ungkap Andin tulus)
Mendengar ungkapan terimakasih tulus dari Andin, Zidan Haq hanya mengulas senyum penuh makna.
"Biar ku kupaskan buah untukmu ya. Kau ingin makan buah apa?"
"Pisang saja, kelihatannya sangat enak.."
Jawab polos Andin sedikit menggigit bibir bawahnya karena sedikit malu. Hal itu membuat Zidan merasa gemas dengan tingkah Andin. Secepat kilat Zidan mengambilkan buah permintaan Andin dan segera mengupasnya.
"Ayo, buka mulutmu..aaaaaa..." (kata Zidan seraya mempraktekkan dengan membuka mulut nya)
Ah, ya tuhan. Aku harap wajah ku tidak memerah.
__ADS_1
"Biar saya makan sendiri saja.."
"Tidak apa-apa. Ayo cepat..."
Akhirnya Andin membuka mulutnya menerima suapan pisang yang ia inginkan dengan tersenyum malu-malu. Hal itu pun dirasakan oleh Zidan. Ia benar-benar tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya setelah menyuapi Andin.
Sedangkan di depan pintu ruangan VVIP tempat Andin dirawat, seseorang melangkahkan kaki menjauh dari situ dengan tersenyum getir tanpa arti. Ya, Ziban Alkash.
......................
Temaram lampu belajar remang-remang menerangi ruangan kamar bercat tembok berwarna merah muda. Kamar yang terlihat sangat berantakan tidak seperti biasanya. Barangnya yang sedikit berserakan, menandakan seseorang telah mengobrak-abrik ruangan kamar itu. Terlihat seseorang yang sedang memejamkan matanya di atas ranjang miliknya. Ya, Talita Arifa.
Ia sedang mengutuki seseorang dalam diamnya.
Semua ini gara-gara kau Andin! Kau yang selalu mencuri-curi perhatian Kak Ziban hingga ia membelamu kemarin dan memperlakukan ku dengan tidak senooh! Haha kau memang sangat bodoh hingga mau berteman dengan orang sepertiku. Memang mengapa aku harus berbaik hati kepada mu hah? Memangnya kau ini siapa Ndin? Kau yang sudah berani-beraninya menikung ku dari belakang. Bukankah kau mengetahui bahwa aku sangat mencintai Kak Ziban? Lantas mengapa kau tega merebutnya dariku hah?!
Tiba-tiba ingatannya kembali memikirkan kejadian kemarin di gedung. Dimana Ziban Alkash yang memerintahkan Sekretaris Chan untuk menjalankan tugasnya di hadapan semua.
"Perkenalkan saya Chan. Saya adalah Sekretaris Tuan Ziban Alkash. Izinkan saya untuk menyampaikan beberapa patah kata untuk kalian semua." (ungkap Sekretaris Chan berwibawa)
"Pertama-tama, semua tersangka yang merundung Andin Puspita Arga akan dikenai sanksi berat. Terutama dengan pelaku penyebar fitnah Andin, dan yang membuat Andin terjatuh di lantai kemarin, akan dikeluarkan secara tidak hormat dari MAN 102 Bandung. Dan satu lagi, bagi siapapun yang sudah ditendang secara tidak hormat dari MAN 102 Bandung, sudah dapat dipastikan tidak akan bisa masuk ke sekolah lainnya atas cap stempel perilaku buruknya."
"Jadi, waspadalah. Jangan pernah bertingkah macam-macam yang sampai membuat Tuan Ziban murka dan merasa tidak senang."
"Satu hal lagi yang perlu saya jelaskan kepada kalian semua yang berada disini. Arif si penyebar fitnah Andin yang kalian kira adalah seorang laki-laki, kalian salah. Dia adalah seorang perempuan. Sekali lagi saya tegaskan, Arif adalah seorang perempuan. Ia adalah selebgram terkenal Talita Arifa. Tentu kalian semua sudah mengetahui berita yang beredar tentangnya dahulu."
Semua yang terdapat di gedung tua itu tercengang setelah mendengar tutur kata berwibawa dari Sekretaris Chan. Dan segera memandang Talita dengan sorot mata ketidaksukaan. Mengingat kasus yang pernah menimpanya saat ia menjadi selebgram terkenal dulu. Dan pada akhirnya karirnya hancur akibat ulahnya sendiri itu. Sejak saat itu Talita Arifa menghilang bak di telan bumi.
__ADS_1
Ingatan Talita Arifa berakhir. Ia berdecih keras lalu membanting lampu belajar yang berada di atas meja yang membuat ruangan kamar itu menjadi gelap gulita.
"Gara-gara kau aku dikeluarkan dari sekolah dan masa depanku hancur Ndin!!!" (teriak Talita histeris)
Teriakan Talita yang sangat keras, membuat Bi Ningsih, pelayan rumahnya mendekati kamar Talita dengan was-was. Lalu Bi Ningsih mengetuk pintu pelan dan menanyakan apakah anak majikannya itu baik-baik saja. Lagi-lagi Talita berteriak histeris meminta agar Bi Ningsih tidak ikut campur tentangnya dengan melemparkan suatu barang kembali hingga terdengar suara pecahan yang begitu keras. Bi Ningsih pun tidak ingin mengambil resiko. Akhirnya ia meninggalkan pintu dengan menggelengkan kepalanya dan segera kembali bekerja tanpa menghiraukan teriakan-teriakan dari anak majikannya itu.
Sedangkan di tempat lain, di sebuah pusat perbelanjaan. Lebih tepatnya di kafe yang terdapat di pusat perbelanjaan. Beberapa orang terlihat sedang duduk mengobrol membicarakan topik yang sedang panas dibicarakan di sana-sini. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Yaa, kali ini bintangnya adalah Talita Arifa.
"Hei, apa kalian tahu sekarang Talita Arifa mengubah penampilannya menjadi sosok seorang laki-laki."
"Ah iya, itu adalah berita paling hot hari ini."
"Dan katanya lagi, dia menghianati pertemanannya dengan temannya di sekolah dengan memfitnahnya yang tidak-tidak."
"Ah, benarkah? Benar-benar tidak tahu diri sekali ya. Masih untung ada yang mau berteman dengannya."
"Iya benar sekali. Apa dia sudah melupakan bahwa dirinya pernah menghabisi nyawa seseorang dengan sengaja? Padahal oknum hukum telah menyelediki kasus itu dan telah memastikan bahwa Talita Arifa benar-benar bersalah. Tetapi entah mengapa pada saat itu ia malah tidak dimasukkan ke dalam jeruji besi walaupun sudah jelas-jelas terbukti terjerat kasus pembunuhan dengan motif perencanaan."
"Tentu saja itu karena uang. Dan sebagai ganjarannya adalah ia harus kehilangan popularitas nya dan menghilang dari dunia."
Semua orang dari penjuru dunia baik di dunia maya maupun dunia nyata sedang ramai membicarakan sosok Talita Arifa yang tiba-tiba terkuak kembali setelah sekian lamanya. Tak ada kalimat dukungan. Tak ada kalimat pujian untuknya. Semua yang membicarakan sosok Talita Arifa penuh dengan sindiran dan hujatan. Sebenarnya operasi plastik wajah yang dilakukan oleh Talita Arifa itupun memang benar adanya. Tetapi hal itu tidak membuat kehancuran baginya. Melainkan kasus pembunuhan seseorang yang direncanakan lah yang membuat kehancuran baginya. Talita Arifa hanya melebih-lebihkan ketika ia bercerita kepada Andin dahulu. Ia bahkan tak bercerita secuilpun tentang kesalahannya di masa lampau kepada Andin.
...----------------...
Dalam ramainya hilir mudik kendaraan berseliweran, seseorang duduk tertunduk di pinggir jalan dengan mengacak-acak rambutnya beberapa kali. Tiba-tiba seseorang berbicara kepadanya dari arah belakang.
"Sudah dua jam lebih anda disini tuan. Mari pulang, angin malam tidak baik untuk kesehatan anda.."
__ADS_1
BERSAMBUNG...