Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Segelas Air Putih


__ADS_3

Di sebuah hotel luar negeri berbintang tempat Ziban Alkash mengasingkan dirinya jauh dari keluarga. Terlihat ia yang tengah menyibukkan dirinya di depan layar laptopnya seharian. Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk, Sekretaris Chan."


Ziban kembali sibuk dengan laptopnya tanpa memandang Sekretaris Chan yang terlihat rapi seperti biasa.


"Tuan muda, malam ini anda mengatakan hendak pergi ke lantai 41 nomor 5 untuk menemui seseorang, tuan."


Ucapan Sekretaris Chan berhasil mengalihkan perhatian Ziban yang sejak tadi setia memandang laptopnya.


"Ah, iya. Untung kau mengingatkan ku."


"Sudah menjadi tugas saya, tuan muda."


"Hemm..."


Ziban bersiap-siap mengganti baju yang sudah dipilih dan disiapkan oleh Sekretaris Chan. Tanpa berlama-lama, ia telah selesai bersiap-siap. Sekretaris Chan menunggunya di depan pintu.


"Apa anda yakin, tidak ingin saya ikut?" (ucap Sekretaris Chan)


Ziban terus saja melangkahkan kakinya tanpa menjawab pertanyaan Sekretaris Chan atau bahkan hanya sekedar meliriknya pun tidak ia lakukan. Sekretaris Chan melirik punggung Ziban dengan ekor matanya lalu mengangguk-anggukkan kepalanya pelan penuh makna.


Beberapa saat kemudian, Ziban sampai di lantai 41. Dan ia saat ini tengah berdiri tepat di depan pintu nomor 5. Sempat ada keraguan yang entah datangnya dari mana, tetapi ia tetap tidak memikirkan dengan rasional jika semuanya berkaitan dengan Andin. Mulai dari paket-paket yang berdatangan hingga isi yang terdapat di dalam paket tersebut. Ia tidak berfikir panjang dengan mendatangi pengirim paket tersebut. Tiba-tiba saja pintu terbuka. Ziban terlihat terkejut. Ah ya, lebih tepatnya gugup. Melihat seorang perempuan dengan pakaian yang terbuka serta polesan wajah yang menempel di wajahnya.


"Hai, kau disini? Aku tidak tahu. Kebetulan aku hendak keluar sebentar karena ada urusan. Eh ternyata kau ada disini. Mungkin perginya besok saja. Karena aku harus menghormati tamu ku." (ucap perempuan itu dengan senyum mengembang)


Perempuan dari negara asalnya. Indonesia. Ya sudah jelas sekali dari gestur tubuhnya, wajahnya dan caranya berbicara.


"Apa kau yang mengirim paket kepadaku?" (Ziban bertanya tanpa berbasa-basi)


"Iya benar sekali. Maaf karena sudah membuat mu terganggu akan hal itu."


Ziban mundur beberapa langkah untuk menciptakan jarak dengan perempuan itu. Lalu sejenak ia mengamati perempuan di hadapannya itu dari bawah ke atas. Sepertinya perempuan di hadapannya itu menyadarinya. perempuan itu terlihat tersipu malu.


Apa benar Andin memiliki teman seperti ini? Sangat tidak mungkin.


"Di paket tersebut terdapat surat tertuliskan bahwa kau adalah teman dekatnya Andin. Dan kau juga mengetahui semua masalahnya sampai saat ini. Benar seperti itu?"


"Apa tidak sebaiknya kita berbicara di dalam saja, Kak Ziban?"


"Memangnya apa masalahnya jika berbicara disini, saja?"


"Aku paling tidak bisa jika harus berbicara dengan seseorang di depan pintu seperti ini. Jika kau mau, kita bisa masuk ke dalam dan jika tidak, tidak apa-apa. Tidak masalah. Berarti kau memang tidak terlalu berniat menemuiku, berbicara denganku, dan tentunya mendengarkan ku."


Astaga, dia mengelabuiku. Berani sekali, dia!


"Baik, tidak masalah bagiku." (ucap Ziban menyetujui dengan sikap tenangnya)


Perempuan itu pun mempersilakan Ziban untuk masuk dan duduk di sofa.


"Apa maksudmu bahwa Andin sedang mengalami masalah?"

__ADS_1


Perempuan itu tiba-tiba saja terlihat sedih. Ziban semakin dibuat penasaran olehnya.


"Andin selalu bercerita kepadaku setiap saat. Dan semenjak menikah dengan Tuan Zidan, dia bercerita bahwa suaminya sangatlah egois."


"Bang Zidan egois?"


"Itulah yang dikatakan olehnya. Tetapi aku harus bagaimana, kak? Setelah mendengar ceritanya, menurutku Andin lah yang egois. Perempuan memang terkadang seperti itu. Selalu ingin menang sendiri. Padahal Andin lah yang salah. Tetapi tetap saja dia menyalahkan suaminya."


"Sebenarnya kau sedang membela siapa?" (ucap Ziban)


"Tidak ada yang ku bela. Aku hanya melihat kebenaran saja. Ya, Andin memanglah temanku. Tetapi menurutku Andin sudah sangat berlebihan. Dia tidak menghargai suaminya. Mungkin dia berfikir bahwa dia lebih memiliki segalanya."


Astaga, omong kosong apa yang sedang aku dengar.


Sedangkan di kamar pribadi Sekretaris Chan, ia berdecih keras melihat ucapan perempuan itu.


"Dasar perempuan beracun! Lihat saja, Tuan Ziban tidak akan mendengarkan omong kosong mu itu. Cih!"


Sekretaris Chan kembali memantau pembicaraan mereka berdua. Ia sudah merasakan keanehan mulai dari datangnya surat yang memang dianggapnya mencurigakan. Jadi, ia sudah memasang kamera sembunyi-sembunyi bahkan tanpa sepengetahuan Ziban Alkash. Sekretaris Chan memang tidak terkalahkan dan tidak pernah menerima kekalahan. Itulah prinsipnya.


"Apa kau masih ingin mendengarkan semua perkataan ku, kak?"


"Ungkapkan saja, apa yang kau ketahui."


Ungkapkan saja semua! Ungkapkan saja! Ayo! Lalu setelah ini, aku akan membuatmu sengsara karena telah menghina Andin di depanku sendiri!


Perempuan itu pun memulai bercerita kembali. Lebih tepatnya mengarang cerita. Ziban masih memiliki stok sabar berhadapan dengannya. Ya, walaupun hanya sedikit.


Ziban Alkash mulai kehilangan kesabaran. Ia sudah tidak setenang tadi. Setidaknya ia menyadari bahwa menemui perempuan sepertinya adalah hal yang sia-sia. Membuang waktu saja.


Aku akan membuat hidupmu, sengsara!


"Baiklah, aku sudah mendengarkan semuanya dan aku percaya. Sekarang sudah malam, aku harus beristirahat." (ucap Ziban berpura-pura)


"Tunggu, kak!"


"Setidaknya minumlah dulu."


"Tidak. Aku sedang tidak ingin minum."


"Setidaknya lihatlah dulu, siapa yang membawa minuman."


Ziban pun terkejut dengan siapa yang dilihatnya. Seorang perempuan yang amat dikenalnya tengah berjalan ke arahnya sembari membawa nampan berisi segelas air putih.


Rinta?


Rinta Selviana?


Sekretaris Chan sama terkejutnya dengan adanya Rinta disitu. Ia semakin mencurigai sesuatu. Lagi-lagi, ada keganjalan menurutnya.


"Bukannya dia itu asisten mu dulu ketika di sekolah, kak?" (ucap perempuan itu)

__ADS_1


Ziban menganggukkan kepalanya.


"Hei, bagaimana kau berada disini?" (tanya Ziban kepada Rinta)


"Anda harus minum terlebih dahulu." (ucap Rinta sembari meletakkan gelasnya di meja)


Sedangkan di kamar pribadinya, Sekretaris Chan mengamati gerak-gerik perempuan itu dan juga Rinta, mantan asisten Ziban Alkash. Tiba-tiba ia menemukan titik keganjalan nya.


Astaga! Air putih itu!


Sekretaris Chan langsung saja berlari secepat mungkin supaya tidak sampai terlambat.


"Ayo, minumlah dulu." (ucap perempuan itu membujuk Ziban)


"Aku tidak ingin minum." (Ziban menolak)


"Itu hanya air putih. Akan sangat tidak sopan, jika kami membiarkan tamu kami pulang dalam kehausan." (ucap Rinta sedikit tertawa)


Ziban melihat Rinta yang masih sama seperti dahulu. Ia pun, mengambil gelas berisi air putih itu dan meneguknya satu teguk.


Rinta dan perempuan itu saling pandang lalu menyeringai.


"Baiklah, aku akan kembali ke kamar ku sekarang."


Ziban Alkash tiba-tiba saja berucap pelan sekali. Tidak seperti biasanya.


"Mau ku antar?" (ucap perempuan itu)


Ziban hanya menggelengkan kepalanya. Lalu tiba-tiba saja Sekretaris Chan sudah sampai di situ dengan wajah kemerahan dan dadanya yang naik turun tak beraturan. Ziban mengernyitkan keningnya.


"Kenapa kau disini?" (tanya Ziban pelan)


Sekretaris Chan memandang Ziban, perempuan itu, dan Rinta secara bergantian.


Apa aku sudah terlambat? Ah, ini karena lift nya rusak. Jadi aku harus lewat tangga darurat. Sialan!


Sekretaris Chan berusaha mengendalikan dirinya untuk kembali tenang.


"Mari kembali dan segera beristirahat, tuan. Karena besok ada meeting pagi." (ucap Sekretaris Chan)


Perempuan itu masuk ke dalam meninggalkan mereka terlebih dahulu.


"Jangan lupa tutup pintunya, Sekretaris Chan." (perintah Rinta)


Rinta pun pergi menyusul perempuan itu masuk ke dalam. Sekretaris Chan mengepalkan tangannya.


Siapapun yang berani melawan ku, jika tidak berakhir sengsara, maka akan berumur pendek!


Sekretaris Chan melihat sekeliling dan menemukan foto perempuan itu dan terdapat nama nya persis di bawah bingkai. Sekretaris Chan membacanya dalam hati.


Talita Arifa.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2